Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Banyumas Masuk Tiga Besar Temuan HIV/AIDS di Jateng, Kasus Terbaru Capai 329 Orang

Kasus HIV/AIDS Capai 329 OrangKasus HIV/AIDS Capai 329 Orang
PELAYANAN: Pelayanan Bidang P2P Dinkes KB Banyumas. Dari aplikasi HIV/AIDS diketahui selama tahun 2025 temuan kasus baru di Banyumas masih tinggi dengan 329 orang

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kabupaten Banyumas melakukan klarifikasi terkait data temuan kasus baru HIV/AIDS untuk tahun 2025.

Berdasarkan informasi resmi yang diperoleh, jumlah kasus baru yang terdeteksi di Banyumas berjumlah 329 orang, bukan 361 orang sebagaimana yang sebelumnya beredar di publik.

H. Sito Hatmoko, SKM, MKM selaku Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes dan KB Banyumas menjelaskan bahwa data tersebut merupakan hasil pengelolaan program HIV/AIDS yang dikelola oleh Dinkes dan KB setempat.

Pendataan ini mencakup semua kasus baru yang ditemukan di wilayah Banyumas.

Sito menekankan bahwa meskipun jumlah tersebut mencerminkan kasus baru HIV/AIDS, tidak semua penderita berasal dari Kabupaten Banyumas.

Dari total 329 kasus baru sepanjang tahun 2025, hanya 186 orang atau sekitar 56 persen yang merupakan warga asli Banyumas.

Hal ini menunjukkan bahwa ada sejumlah penderita dari luar daerah yang teridentifikasi dalam pendataan tersebut.

Banyumas masih tergolong sebagai salah satu daerah dengan angka temuan kasus HIV/AIDS yang cukup tinggi di Jawa Tengah.

Berdasarkan data dari Sistem Informasi HIV/AIDS (SIHA) Kementerian Kesehatan, posisi Banyumas berada di peringkat ketiga tertinggi untuk temuan kasus baru HIV/AIDS di provinsi tersebut.

“Dasar peringkat ini mengacu pada pengelolaan program yang dirujuk dari SIHA Kemenkes,” terang Sito.

Informasi mengenai tingginya angka temuan kasus baru HIV/AIDS ini menjadi bahan evaluasi sekaligus upaya untuk mengendalikan penyebaran penyakit menular ini di daerah.

Dengan situasi ini, Dinkes dan KB Banyumas mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap potensi penyebaran virus HIV.

Salah satu langkah pencegahan yang sangat disarankan adalah menghindari perilaku berisiko yang dapat memicu penularan HIV/AIDS, seperti perilaku seks bebas.

Sito juga menjelaskan betapa pentingnya kesadaran masyarakat dalam melakukan tes kesehatan secara rutin.

“Penularan HIV/AIDS dapat terjadi meskipun perilaku berisiko dilakukan hanya satu kali,” ungkapnya.

Mengingat hingga saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan HIV/AIDS, pencegahan menjadi langkah paling vital dalam memerangi penyakit ini.

Dinkes dan KB Banyumas mendorong masyarakat untuk tidak ragu melakukan tes kesehatan, karena semakin cepat virus terdeteksi, semakin baik pula kesempatan untuk mencegah penularan lebih lanjut.

Pemeriksaan kesehatan secara dini sangat penting agar penanganan dan pengobatan bisa dilakukan secepat mungkin.

Data terbaru mengenai temuan kasus baru HIV/AIDS di Banyumas menunjukkan bahwa tantangan dalam pencegahan dan pengendalian penyakit ini masih sangat besar.

Dalam konteks kesehatan masyarakat, upaya kolaboratif antara pemerintah daerah, lembaga kesehatan, serta partisipasi aktif masyarakat akan sangat menentukan efektivitas program-program pencegahan yang ada.

Pemerintah Kabupaten Banyumas melalui Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana berkomitmen untuk terus melakukan sosialisasi tentang risiko penularan HIV/AIDS serta pentingnya testing dan treatment bagi seluruh lapisan masyarakat. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Satu Calon Jemaah Haji Batal Berangkat

Gangguan Pernapasan Buat Calon Haji Asal Banjarnegara Gagal Terbang ke Tanah Suci

Berita Selanjutnya
Guru Non ASN Tidak Dilarang Mengajar pada

Kemendikdasmen Tegaskan Guru Non-ASN Masih Dapat Mengajar Hingga 2027