Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Kisah Romelan: Relawan TAGANA Banyumas yang Berani Hadapi Bahaya Tawon Vespa

Pilih Bertahan di Tengah Amukan Tawon VespaPilih Bertahan di Tengah Amukan Tawon Vespa
BERJUANG: Relawan Taruna Siaga Bencana Banyumas, Romelan, melakukan evakuasi sarang tawon vespa yang meresahkan warga di Desa Kemiri, Kecamatan Sumpiuh, Banyumas, Rabu (13/5) malam

BANYUMASEKSPRES.ID, Dalam kegelapan malam yang penuh tantangan, Romelan, seorang relawan Taruna Siaga Bencana (TAGANA) asal Banyumas Timur, menunjukkan keberanian yang luar biasa.

Pada malam itu, situasi di Desa Kemiri, Kecamatan Sumpiuh, Banyumas, tiba-tiba berubah menjadi mencekam ketika suara dengung tawon vespa meledak dari dalam sarang yang baru saja ditutupi.

Dalam sekejap, suasana tenang berganti panik. Namun, meskipun terancam bahaya, pria berusia 54 tahun ini memilih untuk tetap berdiri di tempat dan menghadapi situasi tersebut dengan keberanian.

Romelan bukanlah orang yang mudah takut. Sebaliknya, ia adalah sosok relawan sejati yang telah mengabdi sejak tahun 2005.

Malam itu, ia bersama tim Operasi Tangkap Tawon (OTT) berusaha menenangkan warga yang resah akibat keberadaan sarang tawon berukuran besar di bawah atap rumah mereka.

Misi ini sebenarnya sudah menjadi rutinitas bagi Romelan. Dia telah menjalani banyak pengalaman dalam mengevakuasi sarang tawon dan membantu penanganan bencana di berbagai wilayah Banyumas Timur.

Dalam persiapannya menghadapi situasi tersebut, Romelan membawa kapas kecil untuk menutup lubang sarang tawon. Namun rencana tersebut tidak berjalan sesuai harapan.

Kapas yang dibawa ternyata terlalu kecil dan malah masuk ke dalam sarang tawon, sehingga koloni tawon merasa terganggu.

Ketika suara dengung keras mulai terdengar, Romelan menyadari bahwa situasinya bisa berubah menjadi berbahaya kapan saja.

Meski begitu, ia memilih untuk bertahan demi melindungi warga sekitar dan rekan-rekan satu tim.

“Tanpa pikir panjang saya tutup lubang sarangnya pakai tangan,” kenangnya sambil menggambarkan bagaimana dirinya berjuang melindungi orang lain meskipun risiko tinggi membayangi.

Rasa sakit akibat sengatan tawon pun langsung menghampiri, telapak tangannya menjadi sasaran serangan bertubi-tubi dari para tawon yang marah.

Saat pulang ke rumah setelah misi berbahaya itu, rasa sakit mulai menjalar dari tangannya hingga ke pangkal lengan. Bahkan suaranya hampir hilang karena rasa nyeri yang tak tertahankan.

Selama dua hari dua malam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena harus menahan rasa sakit akibat sengatan tersebut.

“Sampai sempat bilang ke anak istri, kalau memang ajal sudah dekat, tetap temani saya,” ungkapnya dengan nada pelan namun penuh makna.

Keberanian dan pengorbanan Romelan menunjukkan betapa seriusnya dia menjalani tugas sebagai relawan.

Tugas berat seperti ini mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang, tetapi risiko sebenarnya sangat besar.

Sengatan tawon vespa dikenal memiliki potensi fatal dan dalam beberapa kasus dapat merenggut nyawa manusia jika tidak ditangani dengan benar.

Meskipun demikian, Romelan tetap teguh pada niat awalnya untuk membantu sesama tanpa memikirkan keselamatannya sendiri.

Bagi Romelan, menjadi relawan TAGANA bukan sekadar sebuah pekerjaan atau kewajiban semata.

Ia menganggap tugas ini sebagai panggilan jiwa untuk memberikan pertolongan kepada orang-orang yang membutuhkan dalam keadaan darurat.

“Karena niat ingsung menolong orang,” katanya tegas ketika ditanya motivasinya bergabung dengan TAGANA.

Selama lebih dari dua dekade pengabdiannya sebagai relawan di TAGANA Banyumas Timur, Romelan telah terbiasa menghadapi berbagai situasi darurat dengan tenang dan sigap.

Dari evakuasi sarang tawon hingga penanganan bencana alam seperti banjir dan tanah longsor, ia telah melalui banyak pengalaman pahit dan manis dalam perjalanannya sebagai relawan kemanusiaan.

Romelan meyakini bahwa setiap tindakan kecil dapat membuat perbedaan besar dalam hidup seseorang.

Keberaniannya menghadapi bahaya demi melindungi orang lain mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi dan dedikasi tanpa pamrih kepada masyarakat sekitar.

Sudah barang tentu banyak tantangan dan risiko yang harus dihadapi oleh setiap relawan di lapangan; namun bagi Romelan dan rekan-rekannya di TAGANA Banyumas Timur, semua itu adalah bagian dari pengabdian mulia mereka.

Ketika ditanya mengenai pengalaman paling berkesan selama menjadi relawan, Romelan tidak ragu untuk berbagi cerita tentang momen-momen kritis saat ia harus mengambil keputusan cepat dalam situasi darurat.

Misalnya ketika terjadi bencana alam atau ketika harus melakukan evakuasi mendesak terhadap warga yang terjebak dalam kondisi sulit.

“Setiap kali ada kejadian bencana atau kasus darurat lainnya, saya selalu ingat betapa pentingnya kehadiran kita sebagai relawan,” jelasnya dengan penuh keyakinan.

Dia percaya bahwa kehadiran tim TAGANA dapat memberikan rasa aman bagi warga serta membantu mereka menghadapi situasi sulit dengan lebih baik.

Melihat keteguhan hati Romelan dalam menjalankan tugasnya sebagai relawan TAGANA tentunya memberikan inspirasi bagi banyak orang untuk turut ambil bagian dalam kegiatan kemanusiaan serupa.

Ada rasa empati mendalam saat melihat betapa susah payahnya seorang relawan mempertaruhkan keselamatan demi orang lain tanpa pamrih.

Romelan adalah contoh nyata bahwa meski hidup di tengah ketidakpastian dan ancaman bahaya, semangat untuk membantu sesama masih dapat bertahan dan bersinar cerah.

Dedikasinya sebagai relawan bukan hanya sekedar menjalankan tugas tetapi juga merupakan pengabdian tulus kepada masyarakat Banyumas terutama bagi mereka yang mengalami musibah atau kesulitan.

Dari pengalamannya selama ini mengabdi sebagai relawan TAGANA Banyumas Timur, Romelan berharap akan semakin banyak generasi muda yang mau terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan seperti ini agar rasa kepedulian terhadap sesama semakin tumbuh kuat di masyarakat kita.

Dengan segala pengorbanannya sebagai seorang relawan TAGANA yang selalu siap siaga menjaga keamanan dan keselamatan warga Banyumas Timur serta sekitarnya, sosok Romelan patut dicontoh oleh kita semua agar terus peduli dan saling membantu terutama di masa-masa sulit seperti saat ini. (fij/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Go Public dengan Pratama Arhan

Go Publik! Pratama Arhan Rayakan Ulang Tahun Inka Andestha

Berita Selanjutnya
Tes HPV DNA Terkendala Logistik

Pasokan Alat dari Kemenkes Belum Datang, Tes HPV DNA di Purbalingga Terkendala