BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Banyumas kembali menjadi sorotan dengan hadirnya event megah, Banyumas Ngibing 24 Jam Menari 2026.
Acara ini akan digelar pada tanggal 2 hingga 3 Mei di kawasan bersejarah, Kota Lama Banyumas.
Dengan konsep kolaborasi lintas disiplin seni, event ini bertujuan untuk menyajikan pertunjukan seni yang tidak henti selama dua puluh empat jam penuh.
Rianto, penggagas acara yang juga merupakan salah satu pelaku seni terkemuka, mengungkapkan bahwa penyelenggaraan tahun ini merupakan kelanjutan dari semangat dan antusiasme yang tinggi dari para pelaku seni.
“Diadakan lagi karena antusiasme dari pengisi acara sangat luar biasa. Antusiasme semakin banyak, saya putuskan Banyumas Ngibing jalan lagi,” jelas Rianto dengan penuh semangat.
Event ini dirancang untuk melibatkan berbagai penampil dari berbagai daerah serta latar belakang, termasuk penari dari Jakarta, Madura, dan bahkan Amerika Serikat yang ikut berpartisipasi dalam rangkaian pertunjukan yang menakjubkan ini.
Konsep unik dari pertunjukan ini adalah adanya penari yang akan tampil tanpa henti selama dua puluh empat jam.
Dari pukul enam pagi hingga enam pagi keesokan harinya, para penari akan bergerak tanpa berhenti, melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan dan minum sambil menari.
“Ada tiga penari yang akan terus bergerak dari jam 06.00 sampai jam 06.00. Ke toilet sambil menari, makan sambil menari, minum sambil menari,” ungkap Rianto menjelaskan tantangan yang akan dihadapi para penampil tersebut.
Untuk memastikan keselamatan dan kesehatan para penari, mereka akan didampingi oleh asisten serta tim medis yang rutin memeriksa kondisi mereka setiap dua jam sekali.
Tidak hanya tari, event Banyumas Ngibing kali ini juga menyuguhkan karya mural sepanjang seratus meter yang dikerjakan oleh Ikatan Pelukis Banyumas secara bergantian selama dua puluh empat jam.
Mural tersebut tidak hanya menjadi bagian dari pertunjukan visual tetapi juga memberikan warna baru bagi suasana Kota Lama Banyumas.
“Yang membedakan dengan gelaran sebelumnya, nanti akan ada penampilan mural 24 jam,” terangnya.
Rangkaian acara lainnya juga tak kalah menarik, mencakup pertunjukan musik pop, fashion show, senam kesehatan, serta pertunjukan tradisional ebeg dan lengger massal.
Dengan beragam kegiatan ini, Banyumas Ngibing bertujuan untuk menjadikan dirinya sebagai ruang kolaborasi seni yang lebih inklusif dan luas, tidak hanya terbatas pada tari tradisional semata.
Rianto memiliki visi besar untuk mengembangkan Kota Lama Banyumas sebagai pusat aktivitas budaya sekaligus destinasi wisata seni yang diminati banyak orang.
“Misi kita tahun depan, Banyumas Ngibing menjadi ikon dimana bisa memperkenalkan pariwisata di Kota Lama Banyumas,” katanya penuh keyakinan.
Dukungan terhadap acara ini juga datang dari Camat Banyumas, Jakarta Tisam.
Ia menilai bahwa kegiatan seperti ini sangat berpotensi untuk memperkuat identitas budaya wilayahnya sebagai ruang ekspresi seni bagi masyarakat lokal maupun pengunjung luar daerah.
“Mudah-mudahan menjadi salah satu ikon wisata yang ada di Kabupaten Banyumas,” ujarnya optimis.
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono pun menegaskan pentingnya dukungan pemerintah daerah terhadap keberlanjutan event ini sebagai agenda tahunan yang harus terus dilestarikan.
“Minimal ada satu event setiap bulan, eventnya bisa tingkat lokal, provinsi, bahkan nasional,” pungkasnya saat memberikan pernyataan tentang komitmen pemerintah dalam mendukung perkembangan seni dan budaya di daerah tersebut.
Event Banyumas Ngibing 24 Jam Menari 2026 bukan hanya sekadar pertunjukan biasa; ia merupakan bentuk nyata upaya pelestarian budaya dan seni di Kabupaten Banyumas.
Dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat serta seniman dari berbagai genre dan latar belakang, event ini menciptakan atmosfer kreatif yang dapat menginspirasi generasi muda untuk lebih mengenal dan menghargai kekayaan budaya lokal. (res/stch/dda)
















