BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Sebanyak 50 peserta mengikuti pelatihan inovatif yang bertujuan untuk mengolah pelepah pisang menjadi serat, serta produk turunan lainnya seperti vegan leather yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Pelatihan ini berlangsung di Gedung Sumekar (PKK) Cilacap pada Rabu, 6 Mei.
Kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk memberdayakan kelompok masyarakat yang rentan, dengan harapan mereka tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga mampu mandiri secara ekonomi.
Wakil Ketua III BAZNAS Cilacap, Khakimatusodiqoh, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk mengubah pola bantuan konvensional menjadi pemberdayaan yang berkelanjutan.
“Kami ingin kelompok rentan tidak hanya menerima bantuan, tetapi memiliki kemampuan untuk mandiri secara ekonomi. Potensi lokal seperti pelepah pisang ini bisa menjadi pintu masuknya,” ujarnya.
Dengan memanfaatkan sumber daya lokal, diharapkan para peserta akan mampu menciptakan peluang baru bagi diri mereka dan masyarakat sekitar.
Ketua Yayasan Dipa Mandiri Nusantara, Sugeng Paijo, menambahkan bahwa tantangan utama saat ini bukan hanya keterampilan produksi, tetapi juga akses terhadap pasar dan peluang kerja yang setara.
“Perempuan dan penyandang disabilitas seringkali terbatas aksesnya. Melalui pelatihan ini, kami tidak hanya mengajarkan produksi, tetapi juga membuka jalur pemasaran agar mereka bisa benar-benar mendapatkan penghasilan,” katanya.
Dalam konteks ini, pelatihan tidak hanya berfokus pada aspek teknis saja, namun juga menciptakan jaringan pemasaran yang kokoh bagi produk-produk hasil karya peserta.
Sugeng Paijo menyebutkan bahwa tren produk ramah lingkungan yang terus meningkat memberikan peluang besar bagi hasil karya peserta untuk bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya keberlanjutan dan lingkungan hidup, produk-produk berbasis bahan alami seperti vegan leather dapat menarik perhatian pasar yang lebih luas.
Sementara itu, Plt Bupati Cilacap yang diwakili oleh Kepala DPKUKM Cilacap, Oktriviyanto Subekti, menilai program ini sebagai langkah konkret dalam mendorong inklusi ekonomi di daerah.
“Ini bukan sekadar pelatihan, tetapi bagian dari upaya membuka akses yang lebih luas bagi semua kelompok masyarakat agar bisa terlibat dalam kegiatan ekonomi,” ujarnya.
Dengan dukungan dari pemerintah daerah dan organisasi non-pemerintah, diharapkan pelatihan semacam ini dapat terus dilanjutkan dan diperluas ke lebih banyak kelompok masyarakat.
Selain mendapatkan pelatihan keterampilan produksi, para peserta juga menerima dukungan berupa peralatan produksi yang diperlukan untuk memulai usaha mereka.
Dengan adanya peralatan tersebut, peserta diharapkan dapat langsung menerapkan ilmu yang telah mereka pelajari dalam kegiatan sehari-hari. (jul/stch/dda)
















