Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Rezky Aditya Bangun Bisnis Padel, Akui Sulit Dapat Lapangan karena Permintaan Membludak
BMKG Ungkap Ajibarang Banyumas Dilintasi Sesar Aktif, Warga Diminta Waspada Potensi Gempa Bumi

BMKG Ungkap Ajibarang Banyumas Dilintasi Sesar Aktif, Warga Diminta Waspada Potensi Gempa Bumi

BMKG Ungkap Sesar Aktif di AjibarangBMKG Ungkap Sesar Aktif di Ajibarang
SIMULASI: Peserta sekolah lapangan mitigasi bencana gempa bumi dan sunami mengikuti simulasi, Selasa (28/7)

BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa Kabupaten Banyumas merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi gempa bumi karena dilintasi Sesar Ajibarang, sebuah patahan aktif dengan panjang sekitar 20 kilometer.

Kondisi geologis tersebut membuat upaya mitigasi bencana menjadi sangat penting guna mengurangi risiko korban jiwa maupun kerugian apabila gempa terjadi.

Sebagai langkah meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, BMKG melalui Stasiun Geofisika Kelas II Banjarnegara menyelenggarakan Sekolah Lapang Gempa Bumi yang diikuti oleh 53 peserta dari berbagai unsur masyarakat Banyumas pada Selasa (28/7/2026).

Program ini bertujuan meningkatkan literasi kebencanaan sekaligus membangun budaya siaga bencana di tengah masyarakat.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan berbagai materi mulai dari pengenalan karakteristik gempa bumi, potensi ancaman Sesar Ajibarang, langkah-langkah penyelamatan diri saat terjadi gempa, hingga strategi mitigasi yang dapat diterapkan di lingkungan tempat tinggal maupun tempat kerja.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menjelaskan bahwa keberadaan Sesar Ajibarang menjadikan Banyumas sebagai wilayah yang memiliki potensi aktivitas seismik.

Meski demikian, waktu terjadinya gempa tidak dapat diprediksi sehingga kesiapan masyarakat menjadi faktor utama dalam mengurangi dampak bencana.

Menurutnya, tujuan utama kegiatan tersebut adalah membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.

BMKG berharap angka korban jiwa akibat gempa dapat ditekan semaksimal mungkin melalui edukasi yang berkelanjutan.

“Kita ingin kalau bisa zero victim. Artinya Indonesia suka tidak suka memang masyarakat sini sudah lahir di sini, tetapi pengetahuan tentang gempa belum tentu mereka miliki. Karena itu kami memberikan pembekalan agar masyarakat sadar, tangguh, dan siap siaga menghadapi gempa bumi,” ujar Nelly.

Ia menambahkan, peserta yang mengikuti Sekolah Lapang Gempa Bumi diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan untuk diri sendiri, tetapi juga menjadi agen edukasi di lingkungan masing-masing.

Dengan demikian, informasi mengenai mitigasi gempa dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.

Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Daerah Kabupaten Banyumas, Junaidi, mengatakan Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi di dunia karena berada di kawasan cincin api atau Ring of Fire.

Banyumas pun tidak terlepas dari berbagai ancaman bencana alam, termasuk gempa bumi.

Menurut Junaidi, masyarakat perlu memiliki pemahaman yang baik mengenai mitigasi bencana agar mampu hidup berdampingan dengan kondisi alam yang ada.

Edukasi seperti Sekolah Lapang Gempa menjadi salah satu cara efektif untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

“Indonesia ini bisa disebut supermarket bencana, termasuk Kabupaten Banyumas. Karena itu literasi kebencanaan harus terus ditingkatkan agar masyarakat memahami bagaimana menghadapi berbagai potensi bencana yang ada,” katanya.

Salah seorang peserta pelatihan, Sujarwo, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru mengenai langkah penyelamatan saat terjadi gempa bumi.

Ia menilai materi yang diberikan sangat bermanfaat karena dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, peserta juga memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan kembali informasi yang diperoleh kepada keluarga, tetangga, dan masyarakat sekitar agar semakin banyak warga yang memahami prosedur keselamatan ketika terjadi gempa.

Selain memberikan materi teori, kegiatan tersebut juga diisi dengan simulasi evakuasi sehingga peserta dapat mempraktikkan langsung langkah-langkah penyelamatan diri saat terjadi gempa bumi.

Simulasi ini diharapkan mampu meningkatkan kesiapan masyarakat apabila sewaktu-waktu terjadi bencana.

BMKG kembali mengingatkan bahwa meskipun potensi gempa di suatu wilayah dapat diketahui melalui kajian ilmiah dan pemetaan sesar aktif, waktu terjadinya gempa bumi hingga kini belum dapat diprediksi secara pasti.

Oleh sebab itu, kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama dalam mengurangi dampak bencana.

Melalui kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi, BMKG berharap kesadaran masyarakat Banyumas terhadap pentingnya mitigasi bencana semakin meningkat.

Dengan pengetahuan yang memadai, respons masyarakat saat terjadi gempa dapat berlangsung lebih cepat, tepat, dan terkoordinasi sehingga risiko korban jiwa maupun kerusakan dapat diminimalkan. (dms/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Geluti Bisnis Lapangan Padel

Rezky Aditya Bangun Bisnis Padel, Akui Sulit Dapat Lapangan karena Permintaan Membludak