BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Industri otomotif Indonesia kembali menunjukkan kinerja positif di pasar internasional.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), ekspor mobil utuh atau completely built up (CBU) selama semester pertama 2026 mencapai 251.705 unit.
Angka tersebut mengalami pertumbuhan 7,7 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Peningkatan ekspor ini menjadi sinyal bahwa kendaraan produksi Indonesia masih memiliki daya saing tinggi di tengah tantangan ekonomi global, fluktuasi pasar, hingga dinamika geopolitik yang memengaruhi industri otomotif dunia.
Dari total ekspor nasional tersebut, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menjadi kontributor terbesar.
Perusahaan berhasil mengekspor 145.080 unit kendaraan sepanjang Januari hingga Juni 2026, atau meningkat 10,7 persen secara tahunan (year on year).
Dengan capaian tersebut, Toyota menguasai sekitar 57,6 persen dari total ekspor mobil CBU Indonesia, memperkuat posisinya sebagai produsen otomotif terbesar yang berkontribusi terhadap ekspor kendaraan nasional.
Presiden Direktur TMMIN, Nandi Julyanto, mengatakan keberhasilan ekspor kendaraan Indonesia tidak terlepas dari sinergi antara industri otomotif nasional dengan jaringan pemasok komponen dalam negeri yang semakin kuat.
Menurutnya, saat ini Toyota bekerja sama dengan lebih dari 760 pemasok lokal, termasuk pelaku industri kecil dan menengah (IKM) yang berperan penting dalam menjaga kualitas komponen kendaraan sekaligus meningkatkan tingkat kandungan dalam negeri.
“Kolaborasi dengan lebih dari 760 pemasok lokal, termasuk pelaku industri kecil dan menengah, menjadi salah satu faktor penting yang menjaga kualitas sekaligus daya saing kendaraan produksi Indonesia di tengah tantangan ekonomi dan geopolitik global,” ujar Nandi.
Selain memperkuat industri komponen lokal, dukungan pemerintah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif juga dinilai berperan penting dalam meningkatkan daya saing kendaraan buatan Indonesia di pasar internasional.
Hingga kini, kendaraan Toyota yang diproduksi di Indonesia telah dipasarkan ke lebih dari 100 negara.
Kawasan Asia masih menjadi tujuan ekspor terbesar dengan kontribusi mencapai 57,8 persen dari total pengiriman.
Selanjutnya, kawasan Amerika menyumbang sekitar 29,5 persen, sedangkan Timur Tengah berkontribusi sekitar 12 persen.
Diversifikasi pasar tersebut menunjukkan bahwa kendaraan buatan Indonesia mampu memenuhi standar kualitas di berbagai negara dengan karakteristik pasar yang berbeda.
Dari sisi produk, Toyota Avanza dan Toyota Veloz masih menjadi tulang punggung ekspor perusahaan.
Kedua model tersebut mencatat pengiriman sebanyak 32.571 unit selama enam bulan pertama 2026.
Di posisi berikutnya terdapat Toyota Raize dengan total ekspor 26.082 unit, disusul Toyota Yaris Cross sebanyak 20.441 unit.
Tingginya permintaan terhadap model-model tersebut menunjukkan bahwa kendaraan produksi Indonesia tetap kompetitif di segmen kendaraan penumpang global.
Tidak hanya kendaraan berbahan bakar konvensional, ekspor kendaraan elektrifikasi juga mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan.
Sepanjang semester pertama 2026, Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid dan Toyota Yaris Cross Hybrid mencatat total ekspor 12.693 unit.
Jumlah tersebut meningkat 46,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini menjadi indikator bahwa kendaraan ramah lingkungan produksi Indonesia semakin diterima di pasar internasional seiring meningkatnya tren penggunaan kendaraan rendah emisi.
Menurut Nandi, peningkatan ekspor kendaraan hybrid mencerminkan perubahan preferensi konsumen global yang mulai beralih ke kendaraan dengan teknologi elektrifikasi.
Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu basis produksi kendaraan ramah lingkungan di kawasan Asia.
Kinerja ekspor yang terus meningkat juga memberikan dampak positif terhadap industri otomotif nasional.
Selain meningkatkan devisa negara, pertumbuhan ekspor turut mendorong penyerapan tenaga kerja, memperkuat industri komponen lokal, serta meningkatkan daya saing manufaktur Indonesia di tingkat global.
Dengan tren pertumbuhan ekspor yang positif, kolaborasi kuat bersama ratusan pemasok lokal, serta meningkatnya permintaan kendaraan hybrid di pasar internasional, industri otomotif Indonesia diperkirakan masih memiliki peluang besar untuk terus memperluas pasar ekspor pada paruh kedua 2026 dan memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat produksi kendaraan di kawasan Asia. (*/stch/dda)














