BANYUMASEKSPRES.ID, Aroma mentega yang dipadu dengan gula panggang menyebar dari sebuah rumah sederhana di Kelurahan Sokanandi, Banjarnegara, pada Senin (16/2).
Dari dapur inilah Arin Listya Apriani menyalurkan harapannya. Loyang-loyang kue yang keluar masuk oven tidak berisi adonan berbahan terigu, melainkan mocaf, yaitu tepung singkong yang kini menjadi andalan dalam usaha kulinernya.
Dalam suasana hangat dan penuh semangat tersebut, Arin menyiapkan berbagai jenis kue, seperti nastar, kastengel, putri salju, hingga brownies.
Pada pandangan pertama, kue-kue ini tampak tidak berbeda dengan kue-kue pada umumnya.
Bentuknya yang cantik serta rasanya yang renyah dan lembut menjadikan setiap hidangan terlihat menggugah selera.
Namun, Arin telah memilih untuk mengambil jalan yang berbeda dengan meninggalkan bahan terigu dan beralih ke mocaf.
“Alasan saya memilih tepung mocaf adalah karena lebih sehat dan dapat dikonsumsi oleh mereka yang sensitif terhadap gluten. Ternyata respons pasar sangat positif,” ungkapnya.
Tepung mocaf dikenal sebagai tepung bebas gluten, yaitu protein yang bisa memicu alergi atau gangguan pencernaan pada sebagian orang.
Keputusan Arin untuk menggunakan bahan ini datang tepat pada saat meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pola makan sehat.
Usaha Arin bermula dari hal yang sederhana. Ia mulai bereksperimen dengan resep-resep kue untuk konsumsi keluarga dan melakukan percobaan di dapur rumahnya sendiri.
Dalam proses pencarian takaran yang tepat agar tekstur dan rasa kue tetap bersaing dengan produk lain di pasaran, Arin tidak menyangka unggahan foto kue buatannya di media sosial justru memicu permintaan dari konsumen.
Kini, produk kue mocaf hasil karya Arin rutin dikirim ke berbagai kota besar seperti Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya.
Perlu dicatat bahwa jangkauan pasar Arin semakin meluas berkat cerita positif dari mulut ke mulut para pelanggan yang telah mencicipi produknya dan puas akan kualitas serta rasa dari kue-kue tersebut.
Dalam hal harga, Arin menawarkan produk dengan tarif yang relatif terjangkau.
Untuk satu bungkus kue mocaf, ia menetapkan harga mulai Rp10 ribu hingga Rp30 ribu, tergantung pada jenis dan ukuran kue tersebut.
Dari usaha rumahan ini, Arin mampu meraih omzet rata-rata antara Rp6 juta hingga Rp10 juta per bulan.
Angka ini tentu bukanlah jumlah kecil bagi skala dapur keluarga seperti miliknya.
Pada saat menjelang Lebaran, kesibukan di dapurnya mencapai puncaknya.
Dapur kecil itu hampir tak pernah sepi; oven beroperasi tanpa henti dan adonan terus-menerus diaduk sejak pagi hari sementara pesanan terus berdatangan.
“Pada periode menjelang Lebaran, pesanan meningkat secara tajam sehingga kami harus menambah kapasitas produksi agar bisa memenuhi permintaan,” jelasnya.
Saat momen tersebut tiba, kapasitas produksi dapat meningkat hingga empat kali lipat dibandingkan hari-hari biasa.
Banyak pelanggan menjadikan kue mocaf Arin sebagai bingkisan Lebaran; bukan hanya sekedar camilan tetapi juga simbol pilihan hidup sehat. Bagi Arin sendiri, usaha ini bukan semata tentang keuntungan finansial.
Ia memiliki visi untuk memberikan nilai tambah pada singkong—sebuah bahan pangan lokal yang mudah ditemukan di desa-desa—agar dapat bersaing secara ekonomi dan memberikan dampak positif bagi komunitas sekitar.
Karya inovatifnya menunjukkan bahwa komoditas lokal dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi dan mampu bersaing di pasar luar kota.
Dari dapur kecil di Sokanandi ini, Arin menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus lahir dari perusahaan besar atau pabrik-pabrik industri besar lainnya.
Terkadang semua itu dimulai hanya dengan keberanian untuk mengganti satu bahan sederhana—dari terigu ke singkong—dan mengolahnya dengan ketekunan serta kreativitas tanpa batas.
Dengan kerja keras dan dedikasi yang tinggi, Arin Listya Apriani telah berhasil membuktikan bahwa seorang ibu rumah tangga pun bisa menjadi penggerak ekonomi lokal melalui inovasi kuliner berbasis bahan baku lokal seperti mocaf. (jud/stch/dda)
















