Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Chiki Fawzi Ungkap Kondisi Psikis Terganggu Usai Bantu Korban Gempa NTT

Psikis Terganggu Selama di NTTPsikis Terganggu Selama di NTT
Chiki Fawzi

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Musisi sekaligus aktivis kemanusiaan Chiki Fawzi mengungkap kondisi dirinya setelah berada di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk membantu pemulihan warga terdampak gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7.

Selama berada di lokasi bencana, Chiki mengaku mengalami tekanan psikologis akibat gempa susulan yang terus terjadi.

Getaran yang datang berulang kali membuat dirinya bersama relawan lain selalu berada dalam kondisi waspada dan takut.

Chiki baru saja kembali dari NTT setelah beberapa hari berada di tengah warga terdampak. Ia mengatakan gempa susulan terjadi dengan intensitas yang berbeda-beda.

Ada guncangan yang cukup kuat, tetapi ada pula gempa kecil yang muncul berkali-kali dalam waktu berdekatan.

“Gempanya itu sering, jedanya paling cuma 30 menit, 15 menit. Kalau misalnya kita lagi duduk di lapangan, itu terasa,” kata Chiki Fawzi.

Frekuensi gempa susulan tersebut membuat Chiki kesulitan mendapatkan waktu istirahat yang cukup.

Selama empat hari berada di NTT, ia mengaku tidak bisa tidur dengan nyenyak karena terus memikirkan kemungkinan terjadinya gempa berikutnya.

Situasi di lokasi bencana membuat rasa aman menjadi sulit didapatkan. Bahkan ketika sedang beristirahat, Chiki tetap harus memperhatikan kondisi sekitar dan bersiap apabila kembali terjadi guncangan.

“Saya selama empat hari nggak bisa tidur nyenyak, paling merem-merem doang. Gempa-gempa yang terjadi mengganggu psikis banget,” ujarnya.

Chiki menyebut dirinya hanya mampu tidur sekitar dua hingga tiga jam dalam sehari selama berada di lokasi bencana.

Kurangnya waktu tidur tersebut tidak hanya disebabkan kondisi fisik di lokasi pengungsian, tetapi juga rasa cemas yang muncul akibat gempa susulan.

Ia terus memikirkan kemungkinan terjadinya guncangan berikutnya.

Rasa cemas yang dialami Chiki bahkan membuatnya sulit benar-benar terlelap. Ia mengaku pernah tertidur, tetapi kemudian terbangun secara mendadak karena harus bersiap menyelamatkan diri bersama relawan lainnya.

“Susah buat tidur malam karena anxious, kepikiran banget. Pernah ketiduran, terus loncat, karena harus menyelamatkan diri sama teman-teman,” tuturnya.

Pengalaman tersebut menggambarkan kondisi yang dihadapi para relawan dan warga di wilayah terdampak gempa.

Aktivitas pemulihan harus dilakukan dalam situasi yang belum sepenuhnya aman karena potensi gempa susulan masih menjadi kekhawatiran.

Bagi Chiki, berada di lokasi bencana berarti harus siap menghadapi situasi yang berubah sewaktu-waktu.

Tekanan psikologis yang dirasakan Chiki semakin kuat setelah ia kembali mengalami gempa dengan kekuatan Magnitudo 6.

Menurutnya, guncangan tersebut cukup besar hingga menyebabkan sebuah bangunan yang berada di dekat lokasi tendanya runtuh.

Peristiwa itu tentu semakin meningkatkan kewaspadaan Chiki dan relawan lainnya.

Setelah merasakan langsung kuatnya guncangan dan melihat bangunan runtuh di sekitar lokasi, kekhawatiran terhadap keselamatan menjadi semakin besar.

Kondisi tersebut juga membuat waktu istirahat semakin sulit. Setiap suara atau getaran yang dirasakan dapat memicu kewaspadaan karena mereka tidak mengetahui kapan gempa berikutnya akan terjadi.

Meski mengalami tekanan secara psikologis, Chiki tetap menjalankan aktivitas kemanusiaan bersama relawan di Manggarai Timur.

Kehadirannya di NTT menjadi bagian dari upaya membantu warga dalam proses pemulihan setelah bencana.

Bersama relawan lainnya, Chiki berada di tengah masyarakat yang masih menghadapi berbagai dampak akibat gempa bumi.

Kondisi tersebut membuat pengalaman Chiki bukan hanya tentang membantu korban bencana, tetapi juga menghadapi secara langsung situasi penuh ketidakpastian di daerah terdampak.

Ia harus membagi perhatian antara membantu warga dan menjaga keselamatan diri bersama relawan lain.

Gempa susulan yang terjadi berkali-kali menjadi salah satu tantangan terbesar selama berada di lokasi.

Rasa takut dan kurang tidur menjadi konsekuensi yang harus dihadapi selama menjalankan misi kemanusiaan tersebut.

Pengalaman Chiki Fawzi selama empat hari di Manggarai Timur menunjukkan bahwa dampak bencana tidak hanya dirasakan secara fisik oleh masyarakat.

Situasi darurat juga dapat memberikan tekanan emosional dan psikologis bagi orang-orang yang berada di lokasi.

Bagi para relawan, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri. Mereka harus tetap menjalankan tugas membantu masyarakat meskipun pada saat bersamaan juga menghadapi rasa takut terhadap gempa susulan.

Chiki mengaku kondisi gempa yang berulang membuat kondisi psikisnya terganggu.

Kurangnya tidur, rasa cemas, dan pengalaman menghadapi guncangan kuat menjadi bagian dari pengalaman selama berada di NTT.

Meski demikian, ia tetap memilih hadir di tengah warga untuk membantu proses pemulihan pascagempa.

Kehadiran para relawan diharapkan dapat memberikan dukungan kepada masyarakat yang masih berusaha bangkit setelah bencana.

Pengalaman tersebut juga memperlihatkan besarnya tantangan yang dihadapi dalam proses pemulihan wilayah terdampak gempa.

Selain kebutuhan fisik dan bantuan darurat, perhatian terhadap kondisi psikologis warga maupun relawan juga menjadi bagian penting dalam masa pemulihan pascabencana. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Kepala MIN 6 Cilacap Ukir Prestasi

Kepala MIN 6 Cilacap Ikuti Sertifikasi Profesi Kepala Madrasah, Jadi Salah Satu dari 8 Peserta Nasional