BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Menyongsong Tahun 2025, Kabupaten Cilacap kembali menunjukkan keunggulannya dalam produksi padi.
Beberapa kecamatan, seperti Kedungreja, Gandrungmangu, Kawunganten, Majenang, dan Wanareja, menjadi tulang punggung utama peningkatan hasil pertanian ini.
Dengan produktivitas yang tinggi, daerah-daerah tersebut berkontribusi signifikan terhadap surplus beras di Cilacap.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Sigit Widayanto, menyampaikan bahwa produksi padi yang meningkat telah mencatatkan surplus beras lebih dari 321 ribu ton sepanjang tahun tersebut.
“Dari peningkatan produksi padi, Cilacap mengalami surplus beras lebih dari 321 ribu ton,” ujar Sigit.
Menurut data dari Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, luas baku sawah di wilayah ini mencapai 66.527 hektare dengan realisasi luas panen selama tahun 2025 mencapai 132.681 hektare.
Produktivitas rata-rata yang tercatat adalah 64,44 kuintal per hektare. Dari angka tersebut, produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG) diperkirakan mencapai 855.042 ton atau setara dengan sekitar 507.438 ton beras konsumsi.
Dengan kebutuhan beras masyarakat Cilacap pada tahun 2025 diperkirakan sebesar 185.583 ton, terdapat surplus sekitar 321.854 ton.
Hal ini menunjukkan bagaimana strategi pertanian yang diterapkan berhasil menjaga stabilitas pangan di daerah ini.
Sigit menambahkan bahwa tingginya produksi di kecamatan-kecamatan sentra padi tersebut didukung oleh luas lahan sawah yang masih terjaga dan intensitas tanam yang cukup tinggi.
Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap terus mendorong percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) untuk memastikan produksi tetap stabil.
Target LTT padi pada Januari 2026 ditetapkan seluas 9.000 hektare dan hingga awal Januari realisasi sudah mencapai 716 hektare.
“Pada Januari 2026 ini, kita dorong agar percepatan LTT seluas 9.000 hektare dan kita sudah hampir tercapai,” tandas Sigit.
Pengelolaan sumber daya pertanian yang efektif dan efisien menjadi kunci utama keberhasilan ini.
Pemerintah daerah bersama dinas terkait terus memantau kondisi lapangan serta memberikan dukungan teknis kepada para petani agar bisa meningkatkan hasil tanam mereka.
Puncak panen Musim Tanam I diperkirakan akan terjadi pada Februari hingga Maret 2026 dengan estimasi luas panen mencapai lebih dari 45 ribu hektare.
Ini merupakan langkah strategis guna mengamankan pasokan pangan bagi masyarakat sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.
Dukungan teknologi modern juga menjadi bagian penting dalam upaya peningkatan produktivitas pertanian di Cilacap.
Penggunaan mesin pemanen tanaman padi di area persawahan dianggap sangat membantu efisiensi waktu dan tenaga kerja petani.
Bagi masyarakat petani di Kecamatan Kesugihan misalnya, penggunaan alat-alat modern seperti mesin pemanen memberikan banyak manfaat selain mempercepat proses pemanenan juga dapat mengurangi kerugian hasil akibat keterlambatan panen atau cuaca buruk.
Meski demikian tantangan tetap ada terutama dalam hal penyediaan sarana prasarana pendukung serta penanganan hama penyakit tanaman yang masih menjadi ancaman bagi sebagian besar petani lokal.
Dalam menghadapi tantangan tersebut pemerintah setempat terus berupaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan-pelatihan teknis bagi para petani serta menyediakan akses informasi terkini mengenai pengendalian hama penyakit tanaman secara efektif.
Selain itu kolaborasi antara pemerintah pusat maupun daerah dengan berbagai pihak termasuk lembaga penelitian akademisi hingga sektor swasta perlu ditingkatkan agar inovasi-inovasi baru dibidang pertanian bisa terus berkembang sejalan dengan perkembangan zaman.
Melalui langkah-langkah strategis inilah Kabupaten Cilacap optimistis mampu mempertahankan posisinya sebagai salah satu lumbung pangan utama di Jawa Tengah bahkan Indonesia sekaligus menjawab tantangan global terkait ketahanan pangan masa depan. (jul/stch/dda)
















