BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Situasi cuaca ekstrem yang melanda perairan Laut Selatan Jawa dalam beberapa hari terakhir telah mempengaruhi aktivitas para nelayan di Kabupaten Cilacap.
Banyak nelayan memilih untuk tidak melaut, mengingat risiko tinggi yang ditimbulkan oleh gelombang besar dan angin kencang.
Wakil Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Cilacap, Parjo Hadi Pranoto, menegaskan bahwa kondisi saat ini tidak mendukung bagi nelayan untuk melakukan aktivitas penangkapan ikan.
“Sekarang ini bisa dibilang nelayan sedang memasuki masa paceklik. Cuaca kurang mendukung, ikan juga sulit didapat, jadi banyak yang memilih tidak melaut dulu,” ungkapnya kepada Banyumas Ekspres pada Kamis (5/2).
Cuaca buruk tidak hanya meningkatkan risiko keselamatan di laut, tetapi juga mempengaruhi perilaku ikan yang cenderung berada di lapisan bawah laut.
Hal ini menyulitkan para nelayan karena alat tangkap seperti jaring memiliki keterbatasan panjang dan kedalaman.
“Kondisi ini membuat nelayan kesulitan menjangkau ikan. Ada yang tetap berangkat, terutama kapal besar, tapi hasilnya pun tidak maksimal,” jelas Parjo.
Selama masa istirahat dari melaut ini, para nelayan memanfaatkan waktu untuk memperbaiki peralatan seperti jaring, mesin, dan perahu yang memerlukan perawatan rutin.
Aktivitas ini menjadi pilihan bijak sambil menunggu cuaca kembali bersahabat agar mereka bisa melaut secara aman dan efektif.
Harapan besar disematkan oleh Parjo agar kondisi cuaca segera membaik sehingga para nelayan dapat kembali bekerja dan memperoleh hasil tangkapan yang lebih baik.
“Kami berharap cuaca segera bersahabat supaya nelayan bisa kembali bekerja normal,” katanya penuh harap.
Bagyo, salah satu nelayan yang berdomisili di kawasan tersebut, mengaku sudah beberapa hari tidak melaut.
Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan risiko tinggi serta hasil tangkapan yang diperkirakan tidak sebanding dengan upaya yang dikeluarkan.
“Kalau dipaksakan berangkat, hasilnya belum tentu ada. Jadi lebih baik menunggu cuaca membaik,” ujarnya kepada awak media.
Selama periode menunggu tersebut, Bagyo memanfaatkan waktu dengan membenahi jaring sambil tetap berharap kondisi laut segera kondusif untuk melaut kembali.
Baginya, ketidakpastian cuaca ini juga memunculkan kekhawatiran terhadap kebutuhan sehari-hari yang harus tetap terpenuhi meski penghasilan dari melaut terhenti sementara waktu.
“Kalau terlalu lama begini, kami juga bingung untuk kebutuhan sehari-hari. Biasanya kalau sedang musim ikan, sebagian penghasilan disimpan untuk kondisi seperti sekarang,” tandasnya.
Keputusan para nelayan untuk berhenti sementara dari aktivitas melaut adalah langkah bijak dalam menghadapi tantangan alam yang tidak dapat diprediksi dengan akurat.
Keselamatan tetap menjadi prioritas utama bagi masyarakat pesisir di Cilacap dalam menjalani profesi mereka sebagai nelayan.
Kondisi kapal-kapal nelayan saat ini terlihat bersandar di Muara Kaliyasa karena mereka memilih untuk tidak mengambil risiko dengan melaut dalam kondisi cuaca ekstrem seperti sekarang ini.
Harapan terus menggantung di benak para nelayan agar perubahan cuaca segera datang demi keberlangsungan pekerjaan yang menjadi sumber mata pencaharian utama mereka. (jul/dda)
















