Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Fenomena Creeping Picu Rumah Retak di Banjarnegara, Ini Penjelasan Tim Peneliti Geologi Unsoed

Kerusakan Rumah di Karekan karena CreepingKerusakan Rumah di Karekan karena Creeping
AUDIENSI: Pj Sekretaris Daerah Banjarnegara, Tursiman bersama Asisten Sekda dan para Kepala OPD di Ruang Rapat Sekda, melakukan audiensi dengan warga Desa Karekan

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Retakan yang mengancam sejumlah rumah warga di Dusun Tempuran, Desa Karekan, Kecamatan Pagentan bukanlah akibat dari longsoran besar yang terjadi tiba-tiba.

Penelitian terbaru dari tim Teknik Geologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mengungkap bahwa kerusakan tersebut dipicu oleh fenomena pergerakan tanah lambat atau creeping.

Hal ini diungkapkan oleh Dosen dan Peneliti Teknik Geologi Unsoed, Dr Asmoro Widagdo, saat audiensi dengan warga Karekan bersama Penjabat Sekretaris Daerah Banjarnegara, Tursiman, yang berlangsung di Ruang Rapat Sekda, Kamis (5/2).

Dalam penjelasannya, Dr Asmoro menjelaskan bahwa retakan di dinding dan lantai rumah terjadi secara bertahap dan akumulatif.

“Polanya menunjukkan pergerakan tanah lambat, bukan runtuhan besar yang terjadi sekali waktu,” ujarnya.

Temuan ini menekankan pentingnya pemahaman mendalam mengenai fenomena geologi lokal yang sering kali tidak disadari oleh masyarakat umum.

Dari pengamatan di lapangan, tim Unsoed berhasil mengidentifikasi beberapa faktor utama yang memicu kondisi ini.

Salah satu faktor tersebut adalah erosi vertikal dan lateral yang terjadi sepanjang Sungai Merawu.

Aktivitas erosi ini secara konsisten melemahkan kaki lereng dan menyebabkan pergeseran alur sungai dari jalur normalnya.

“Aliran sungai menyebabkan pelemahan lereng dan pergeseran alur sungai dari kondisi normal,” jelas Dr Asmoro lebih lanjut.

Kondisi geologis Dusun Tempuran juga turut memperburuk situasi. Wilayah ini terletak di atas lapisan batulempung Formasi Rambatan yang bersifat plastis dan rentan mengalami deformasi terutama ketika jenuh air.

Keberadaan tanah jenis ini menjadi faktor risiko tinggi khususnya saat musim hujan tiba.

Selain itu, tata guna lahan yang kurang memadai memperparah risiko tersebut.

Banyak bangunan warga berdiri terlalu dekat dengan tebing sungai tanpa dilengkapi pengaman seperti talud atau bronjong.

Dampaknya, air menjadi faktor dominan dalam situasi ini dengan berbagai sumber seperti curah hujan, resapan kolam ikan, limbah rumah tangga serta peningkatan debit sungai akibat deforestasi di hulu.

Dalam kesempatan itu pula tim teknis menanggapi kekhawatiran warga mengenai aktivitas pengerukan sedimen di Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) Karekan.

Mereka menegaskan bahwa pengerukan dilakukan secara lokal di area intake PLTM dan berjarak sekitar 1,1 kilometer dari lokasi permukiman sehingga dampaknya terhadap area longsor sangat terbatas.

“Pengerukan dilakukan secara lokal di area intake PLTM dan berjarak sekitar 1,1 kilometer dari lokasi permukiman,” tegas Dr Asmoro memastikan tidak ada hubungan langsung antara aktivitas tersebut dengan kerusakan rumah warga.

Menanggapi situasi ini Pj Sekda Banjarnegara Tursiman menyoroti pentingnya perencanaan pembangunan yang berhati-hati mengingat kondisi geografis Banjarnegara yang rawan bencana alam.

“Sekira 70 persen wilayah Banjarnegara rawan bencana,” ujarnya sembari menekankan perlunya pembangunan yang fleksibel dan selaras dengan kondisi alam untuk menjaga keberlanjutan aktivitas sosial ekonomi masyarakat.

Temuan kajian dari Unsoed ini akan menjadi referensi bagi pemerintah daerah dalam menentukan langkah penanganan lebih lanjut sekaligus memberikan kepastian bagi warga mengenai penyebab kerusakan rumah mereka.

Langkah-langkah mitigasi bencana perlu segera dirumuskan agar dapat meminimalisir risiko serupa ke depannya serta memberikan rasa aman bagi penduduk setempat.

Menghadapi tantangan seperti fenomena creeping ini membutuhkan sinergi antara masyarakat akademik pemerintahan serta komunitas lokal untuk bersama-sama menemukan solusi terbaik guna melindungi lingkungan hidup serta keselamatan warga. (jud/stch/dda)

Berita Sebelumnya
UMNU Berangkatkan Mahasiswa ke Taiwan

UMNU Kebumen Kirim 15 Mahasiswa Magang ke Taiwan Mulai Maret 2026

Berita Selanjutnya
Cuaca Buruk, Nelayan Libur Melaut

Cuaca Buruk Berhari-hari, Aktivitas Nelayan Cilacap Lumpuh Sementara