BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Hujan deras yang disertai angin kencang melanda Kecamatan Wanareja, Cilacap, pada hari Sabtu, 25 April, dan menyebabkan sebuah pohon petai tumbang yang menimpa rumah warga di Desa Majingklak.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 15.15 WIB, di Dusun Seukeut Girang RT 01 RW 13.
Pohon milik Unang, seorang warga setempat, roboh dan mengenai atap rumah Wardi khususnya pada bagian ruang tengah.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap, Taryo, menjelaskan bahwa kejadian ini terjadi akibat cuaca ekstrem yang dipicu oleh hujan lebat serta angin kencang yang berlangsung sejak pukul 14.30 WIB hingga 15.30 WIB.
“Akibat hujan deras disertai angin kencang, pohon petai yang berada dekat permukiman warga tumbang dan menimpa bagian atap rumah warga,” ungkap Taryo dalam pernyataannya pada Minggu, 26 April.
Beruntung tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Saat pohon tumbang, penghuni rumah sedang berada di dapur sehingga mereka terhindar dari dampak langsung yang bisa saja fatal.
Meskipun demikian, kerusakan yang ditimbulkan cukup signifikan.
Bagian atap rumah terutama di ruang tengah mengalami kerusakan parah dan menyebabkan kebocoran di beberapa bagian lainnya.
Kerugian material akibat kejadian ini ditaksir mencapai sekitar Rp 10 juta.
“Untuk sementara waktu, dua kepala keluarga dengan total tiga jiwa terpaksa mengungsi ke rumah kerabat terdekat,” lanjut Taryo menjelaskan situasi pasca-kejadian tersebut.
Hal ini menunjukkan dampak langsung dari bencana alam yang tidak hanya mengancam keselamatan jiwa tetapi juga memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.
Setelah kejadian itu, warga bersama aparat setempat segera beraksi dengan melakukan kerja bakti untuk membersihkan sisa-sisa material dari pohon yang tumbang serta memindahkan barang-barang ke tempat yang lebih aman.
Ini mencerminkan semangat gotong royong masyarakat yang sangat kuat di daerah tersebut.
BPBD juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih mungkin terjadi di masa mendatang.
Selain itu, Taryo menekankan pentingnya langkah pencegahan dengan meminta warga untuk memangkas atau bahkan menebang pohon-pohon tinggi yang berpotensi membahayakan, terutama yang berada dekat permukiman.
“Kami juga mendorong pemerintah desa untuk melakukan langkah antisipatif, termasuk penataan lingkungan agar risiko kejadian serupa bisa diminimalkan,” tegasnya.
Dalam konteks perubahan iklim global dan peningkatan frekuensi cuaca ekstrem di berbagai wilayah Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana alam.
Dengan kondisi cuaca yang semakin tidak dapat diprediksi, kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat sangat diperlukan untuk mengurangi risiko dan dampak dari bencana di masa depan. (jul/stch/dda)
















