BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Sebuah insiden tragis terjadi di perairan Pantai Karangbolong, Kabupaten Cilacap, pada hari Senin, 15 Juni 2023.
Anak buah kapal (ABK) KM Cakra Mandiri GT 30, yang bernama Feri Oktavianto, berusia 38 tahun, ditemukan meninggal dunia saat melaut.
Kabar mengenai kejadian ini segera diterima oleh Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Cilacap, yang langsung merespon dengan mengerahkan tim untuk melakukan evakuasi korban.
Koordinator Tim SAR Gabungan, Maryadi, menjelaskan bahwa setelah menerima laporan tentang insiden tersebut, Basarnas beserta unsur-unsur SAR lainnya segera bergerak menuju lokasi menggunakan Rigid Inflatable Boat (RIB) dari Pelabuhan Sleko.
“Basarnas bersama tim SAR gabungan langsung berangkat ke lokasi Perairan Pantai Karangbolong menggunakan RIB Basarnas dari Pelabuhan Sleko,” ungkapnya pada Selasa, 16 Juni.
Tim SAR gabungan berhasil menjangkau kapal tempat korban berada dan melakukan evakuasi.
Proses evakuasi berjalan dengan lancar dan selanjutnya jenazah korban dibawa menuju Dermaga Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC).
Setelah itu, korban dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cilacap untuk penanganan lebih lanjut.
Feri Oktavianto diketahui merupakan warga Mulyoharjo RT 02 RW 08, Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.
Maryadi juga menambahkan bahwa berdasarkan keterangan saksi-saksi di lokasi kejadian, penyebab meninggalnya korban adalah akibat terjatuh saat memancing ikan di atas kapal.
“Setelah proses evakuasi selesai dilaksanakan, operasi SAR resmi ditutup dan seluruh unsur yang terlibat dikembalikan ke kesatuan masing-masing,” tutur Maryadi menekankan bahwa meskipun tragedi ini menyedihkan, semua prosedur telah diikuti dengan baik.
“Dengan telah dievakuasinya korban, maka operasi SAR dinyatakan selesai. Seluruh unsur yang terlibat dikembalikan ke kesatuan masing-masing dengan ucapan terima kasih,” tutupnya.
Insiden ini menjadi pengingat akan risiko yang dihadapi oleh para nelayan dan ABK saat melaut. Kecelakaan seperti ini dapat terjadi kapan saja dan sering kali membawa dampak yang mendalam bagi keluarga serta komunitas nelayan.
Sejumlah pihak berharap agar keselamatan di laut menjadi perhatian utama bagi semua pihak terkait.
Kejadian ini juga menyoroti pentingnya pelatihan dan kesiapsiagaan keselamatan bagi para ABK dan nelayan.
Dengan semakin banyaknya aktivitas penangkapan ikan di perairan Indonesia, risiko kecelakaan seperti ini harus diantisipasi melalui pelatihan keselamatan yang lebih baik serta penggunaan alat pelindung diri yang sesuai saat berada di laut.
Pentingnya kolaborasi antara berbagai instansi pemerintah dan organisasi kemasyarakatan dalam meningkatkan keselamatan nelayan tidak dapat dipandang sebelah mata.
Program-program edukasi tentang keselamatan berlayar dan cara bertindak dalam situasi darurat seharusnya lebih digalakkan untuk mencegah tragedi serupa di masa depan.
Selain itu, masyarakat juga perlu lebih peka terhadap tanda-tanda bahaya saat melakukan aktivitas di laut.
Kesadaran akan faktor-faktor cuaca serta kondisi perairan sangat penting untuk menjaga keselamatan saat melaut.
Banyak nelayan yang mungkin merasa sudah berpengalaman, namun tetap harus waspada terhadap kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi secara tiba-tiba di tengah lautan. (jul/stch/dda)
















