BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Wilayah Desa Serang, Kecamatan Karangreja, serta Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, di Kabupaten Purbalingga, mengalami situasi yang memicu kepanikan di kalangan warga pada Kamis (12/2/2026).
Hujan deras yang mengguyur wilayah hulu Sungai Soso menyebabkan debit air sungai tersebut meningkat secara signifikan.
Kekhawatiran mengenai kemungkinan terjadinya banjir bandang, seperti yang terjadi pada akhir Januari lalu, kembali menghantui pikiran masyarakat setempat.
Situasi saat itu sangat mencengangkan, dengan aliran Sungai Soso berubah menjadi coklat pekat dan arus yang sangat deras.
Air tampak menghantam bibir sungai dengan kekuatan yang mengkhawatirkan, begitu pula dengan pondasi bangunan di sepanjang pinggir sungai.
Kondisi ini mengingatkan warga kepada peristiwa tragis yang terjadi pada Sabtu (24/1/2026), ketika banjir bandang disertai longsor dan serpihan kayu besar menerjang kawasan tersebut.
Hujan deras yang berlangsung selama siang hingga sore hari di lereng Gunung Slamet, yang merupakan wilayah hulu dari Sungai Soso, memperburuk kondisi dan menambah kekhawatiran masyarakat.
Kasat Samapta Polres Purbalingga, AKP Tri Haryanto, menjelaskan bahwa kenaikan debit air sungai ini disebabkan oleh curah hujan yang tinggi di Desa Serang.
Saat kejadian tersebut berlangsung, pihaknya tengah melakukan kegiatan pascabencana di lokasi untuk memastikan keamanan masyarakat.
“Namun, sekarang sudah surut,” ungkap AKP Tri Haryanto.
“Meski warga sempat panik karena debit air sungai naik dan arusnya deras.”
Ia juga menambahkan bahwa peristiwa ini tidak menyebabkan kerusakan berarti di sepanjang aliran sungai.
Termasuk talud sungai yang sedang dibangun di Desa Sangkanayu tetap dalam kondisi aman.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purbalingga, Revon H, turut memberikan keterangan bahwa situasi saat ini masih dalam kendali.
“Aman, saat ini sudah surut,” ujarnya terpisah.
Dari pengamatan di lapangan, meskipun kondisi sempat membuat resah masyarakat, tidak ada laporan tentang kerusakan infrastruktur maupun dampak serius lainnya.
Naiknya debit air sungai yang disertai arus deras ini juga menjadi viral di media sosial.
Video-video yang beredar menunjukkan aliran Sungai Soso dengan warna coklat akibat sedimentasi dan peningkatan volume air.
Hal ini menambah perhatian publik terhadap pentingnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana alam.
Kondisi cuaca ekstrem seperti ini sebenarnya bukan hal baru bagi masyarakat Purbalingga.
Terlebih lagi, daerah-daerah sekitar pegunungan sering kali menghadapi tantangan terkait perubahan iklim dan cuaca yang tidak menentu.
Masyarakat di daerah rawan banjir perlu senantiasa waspada terhadap kemungkinan terjadinya bencana alam.
Oleh karena itu, pemerintah daerah dan instansi terkait harus terus meningkatkan sosialisasi mengenai kebencanaan kepada masyarakat agar mereka lebih siap menghadapi situasi darurat seperti ini.
Melihat dari perspektif jangka panjang, perlu ada upaya kolaboratif antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam melakukan mitigasi risiko bencana.
Hal ini bisa berupa pembangunan infrastruktur drainase yang lebih baik serta penyuluhan tentang cara-cara menghadapi keadaan darurat ketika bencana terjadi.
Dengan langkah-langkah pencegahan yang tepat, harapannya adalah agar dampak negatif dari bencana dapat diminimalisir. (tya/stch/dda)
















