Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Dinkes Banjarnegara Pantau Kesehatan Jemaah Haji Selama 21 Hari, Antisipasi Penyakit Menular

Dinkes Pantau Kesehatan Jemaah HajiDinkes Pantau Kesehatan Jemaah Haji
Kepala Tim Istitoah Layanan Kesehatan Dinkes Kabupaten Banjarnegara, Yon Setiawan

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banjarnegara melakukan pemantauan kesehatan terhadap seluruh jemaah haji yang telah kembali dari Arab Saudi.

Langkah ini dilakukan sebagai upaya mengantisipasi potensi penyebaran penyakit menular yang mungkin terbawa setelah pelaksanaan ibadah haji.

Pemantauan berlangsung selama 21 hari sejak jemaah tiba di daerah asal. Selama periode tersebut, petugas kesehatan terus memonitor kondisi setiap jemaah, terutama mereka yang memiliki riwayat gangguan kesehatan atau menunjukkan gejala tertentu.

Kepala Tim Istitoah Layanan Kesehatan Dinkes Kabupaten Banjarnegara, Yon Setiawan, mengatakan hingga saat ini belum ditemukan adanya kasus penyakit menular pada jemaah haji asal Banjarnegara.

Meski demikian, pengawasan tetap dilakukan secara intensif sebagai langkah kewaspadaan.

“Selama masa pemantauan, setiap jemaah memperoleh Kartu Kewaspadaan Kesehatan Jamaah Haji (K3JH),” ujarnya.

Yon menjelaskan, setiap jemaah yang kembali dari Tanah Suci dibekali Kartu Kewaspadaan Kesehatan Jamaah Haji (K3JH).

Kartu tersebut digunakan sebagai acuan bagi petugas kesehatan di puskesmas untuk melakukan pemantauan selama masa observasi 21 hari.

Melalui kartu tersebut, petugas dapat mengetahui kondisi kesehatan jemaah serta memberikan penanganan lebih cepat apabila muncul gejala yang mengarah pada penyakit menular.

Dinkes juga mengimbau seluruh jemaah agar aktif melaporkan kondisi kesehatannya selama masa pemantauan sehingga proses pengawasan dapat berjalan optimal.

Dinkes Banjarnegara meminta para jemaah haji segera mendatangi puskesmas apabila mengalami gejala seperti batuk, pilek, demam dengan suhu tubuh di atas 38 derajat Celsius, sesak napas, maupun keluhan infeksi saluran pernapasan lainnya.

Menurut Yon, keluhan seperti batuk dan pilek cukup sering dialami jemaah setelah kembali dari ibadah haji karena perubahan cuaca, kelelahan, serta aktivitas yang padat selama berada di Arab Saudi.

“Memang setelah pulang haji cukup banyak jemaah yang mengalami batuk, pilek, atau demam. Karena itu kami minta apabila muncul gejala tersebut segera memeriksakan diri ke puskesmas agar bisa dipantau oleh tim pelayanan kesehatan haji,” jelasnya.

Selain melakukan pemantauan terhadap seluruh jemaah, Dinkes Banjarnegara juga memberikan perhatian khusus kepada sejumlah jemaah yang saat kepulangan dinilai memiliki faktor risiko gangguan kesehatan.

Berdasarkan data Dinkes, terdapat delapan jemaah yang masuk kategori pemantauan khusus.

Rinciannya, satu orang berasal dari Kloter 69, tiga orang dari Kloter 70, dan empat orang dari Kloter 71.

Meski demikian, Yon menegaskan bahwa status tersebut bukan berarti mereka dipastikan mengidap penyakit menular.

Pemantauan dilakukan sebagai langkah antisipasi agar penanganan dapat segera diberikan apabila muncul gejala tertentu.

“Sampai sekarang kondisi mereka terus kami komunikasikan dengan petugas di lapangan. Ada juga yang akan kami lakukan kunjungan evaluasi ulang ke rumah masing-masing selama masa pemantauan 21 hari,” katanya.

Selama masa pemantauan, Dinkes Banjarnegara mengingatkan seluruh jemaah untuk tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Penggunaan masker saat mengalami batuk atau pilek sangat dianjurkan guna mengurangi risiko penularan penyakit kepada anggota keluarga maupun masyarakat sekitar.

Selain itu, jemaah juga diminta tidak menunda pemeriksaan kesehatan apabila kondisi tubuh memburuk atau muncul gejala infeksi saluran pernapasan.

Melalui pemantauan selama 21 hari ini, Dinkes Banjarnegara berharap seluruh jemaah haji dapat kembali beraktivitas dalam kondisi sehat sekaligus memastikan tidak terjadi penyebaran penyakit menular setelah kepulangan dari Tanah Suci. (far/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Festival Gunung Slamet Digelar Tiga Hari

Jadwal Festival Gunung Slamet 2026: Ada Perang Tomat, Kirab Budaya, hingga Air Sikopyah

Berita Selanjutnya
Konser Dongkrak Pendapatan GOR

Konser Musik Jadi Mesin Uang GOR Satria Purwokerto, Pendapatan Ditargetkan 1,07 Miliar