BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Menjelang perayaan Iduladha tahun 2026, arus masuk hewan kurban ke wilayah Banjarnegara menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Dalam rangka menjaga kesehatan ternak dan memastikan kualitas hewan yang beredar di pasar, pemerintah daerah setempat mengambil langkah tegas dengan memperketat pengawasan, khususnya di pasar hewan.
Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Banjarnegara, Firman Sapta Adi, menjelaskan bahwa fokus utama dari pemeriksaan adalah titik-titik transaksi hewan.
“Semua hewan kurban yang masuk pasar akan kami periksa. Jika tidak memenuhi syarat kesehatan yang ditetapkan, kami tidak ragu untuk menolak. Selain itu, kami juga menyiapkan tempat karantina khusus bagi hewan-hewan yang terindikasi sakit,” ungkapnya pada hari Jumat (1/5/2026).
Pentingnya pengawasan ini semakin terasa ketika mempertimbangkan potensi penyebaran penyakit mulut dan kaki (PMK) pada sapi yang masih mengintai.
Dalam upaya pencegahan, pemerintah daerah terus mempercepat program vaksinasi ternak.
Dari total target 17 ribu dosis vaksin yang harus diberikan, lebih dari 50 persen ternak di Banjarnegara telah menerima vaksinasi.
Kegiatan pemeriksaan kesehatan juga dilakukan secara rutin oleh petugas di lapangan untuk memastikan semua hewan dalam kondisi baik.
Jika ditemukan gejala penyakit pada ternak yang akan masuk ke pasar, tindakan tegas akan dilakukan dengan melarang hewan tersebut untuk masuk dan segera dikarantina agar mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Langkah ini adalah bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk menjaga kesehatan masyarakat dan mencegah penyebaran penyakit.
Di sisi lain, ketersediaan sapi menjelang Iduladha dinilai dalam kondisi aman di Banjarnegara.
Data menunjukkan bahwa terdapat sekitar 22 ribu ekor sapi di daerah ini, dengan 11 ribu ekor di antaranya siap untuk dijadikan kurban.
Namun, dinamika pasar memperlihatkan adanya kecenderungan pembeli untuk memilih sapi dari luar daerah, terutama dari Jawa Timur.
Hal ini disebabkan oleh harga yang lebih terjangkau berkisar antara Rp 22 juta hingga Rp 25 juta per ekor.
Sementara itu, sapi lokal Banjarnegara yang terkenal dengan kualitasnya justru banyak dipasarkan ke luar daerah dengan harga di atas Rp 30 juta per ekor.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mengenai strategi pemasaran dan bagaimana pemerintah dapat mendukung para peternak lokal agar dapat bersaing dengan ternak dari luar.
Tidak hanya sapi, stok kambing dan domba juga melimpah menjelang Iduladha tahun ini.
Jumlah kambing dan domba bahkan melebihi estimasi kebutuhan lokal yang diperkirakan mencapai sekitar tujuh ribu ekor.
Kondisi ini memberikan harapan bagi masyarakat Banjarnegara untuk mendapatkan hewan kurban berkualitas tanpa harus khawatir tentang pasokan.
Dalam konteks pencegahan PMK dan menjaga kesehatan hewan kurban, Firman Sapta Adi menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat peternak.
“Kami mengajak semua peternak untuk aktif berpartisipasi dalam program vaksinasi dan menjaga kebersihan kandang serta lingkungan sekitar,” ujarnya.
Partisipasi aktif dari peternak sangat diperlukan agar upaya pencegahan penyakit dapat berjalan efektif.
Selain itu, edukasi mengenai tanda-tanda awal penyakit pada ternak juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan hewan sebelum sampai ke tangan konsumen.
Pemerintah Kabupaten Banjarnegara berkomitmen untuk terus memantau perkembangan kondisi kesehatan ternak menjelang Iduladha.
Dengan adanya pengawasan yang ketat serta kerja sama antara berbagai pihak terkait, diharapkan proses distribusi hewan kurban dapat berlangsung lancar tanpa adanya gangguan dari segi kesehatan. (jud/stch/dda)
















