Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

SMPIT Permata Hati Banjarnegara Sulap Kerangkeng Bola Jadi Bank Sampah

Atasi Sampah Plastik dengan Bank SampahAtasi Sampah Plastik dengan Bank Sampah
BANK SAMPAH: Seorang siswi saat membuang sampah plastik di bank sampah sekolah

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Di tengah tantangan serius yang dihadapi oleh daerah dalam pengelolaan sampah, muncul sebuah inisiatif yang menggugah semangat di kalangan pelajar.

Di salah satu sudut sekolah, tepatnya di SMPIT Permata Hati Banjarnegara, sebuah kerangkeng besi berwarna biru yang biasa digunakan untuk menyimpan bola kini berfungsi sebagai bank sampah.

Inisiatif ini muncul dari kesadaran siswa akan permasalahan lingkungan yang semakin mendesak, terutama terkait dengan limbah plastik.

Dengan berkolaborasi melalui OSIS dan Bidang Lingkungan Hidup, para pelajar menciptakan bank sampah yang tidak hanya menjadi tempat untuk menampung botol plastik, tetapi juga simbol gerakan kecil yang ingin memberikan dampak positif bagi lingkungan.

Ditempatkan strategis di sekitar kantin dan lapangan sekolah, dua lokasi dengan aktivitas siswa paling padat, bank sampah ini langsung menarik perhatian dan dukungan dari komunitas.

Ketua Bidang Lingkungan Hidup OSIS SMPIT Permata Hati Banjarnegara, Madina, mengungkapkan bahwa gagasan ini lahir dari kesadaran kolektif bahwa para siswa turut menghasilkan sampah setiap hari.

“Daripada menambah beban petugas kebersihan dan mencemari lingkungan, kami berinisiatif membuat bank sampah ini agar sampah plastik bisa dimanfaatkan kembali,” ujarnya pada Selasa (28/4/2026).

Pernyataan Madina menunjukkan betapa pentingnya peran aktif generasi muda dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Yang menarik dari inisiatif ini adalah penggunaan kerangkeng bola yang sebelumnya tidak terpakai.

Dengan memodifikasi barang tersebut menjadi wadah penampung sampah, para siswa tidak hanya mengurangi limbah barang bekas tetapi juga mengirimkan pesan bahwa solusi lingkungan dapat dimulai dari hal-hal sederhana.

Anggota OSIS bidang lingkungan lainnya, Fatiha Salma Haniyya, menambahkan bahwa ide ini terinspirasi dari ‘kotak sedekah sampah’ yang ada di kampungnya.

“Di desa saya ada pemilahan sampah, dari situ kami terpikir untuk membuat versi sederhana di sekolah, sementara fokus dulu pada botol plastik. Botol yang terkumpul nantinya akan diolah menjadi kerajinan atau dijual ke pengepul,” jelasnya.

Inisiatif ini mendapatkan dukungan penuh dari pihak sekolah dan juga masyarakat.

Kepala Bidang Kebersihan dan Pertamanan DPKPLH Kabupaten Banjarnegara, Yelly Harmoko, menyatakan bahwa langkah para pelajar ini sangat relevan dengan kondisi krisis sampah yang tengah melanda daerah tersebut.

Menurut data yang disampaikan pemerintah daerah, setiap harinya sekitar 60 ton sampah masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Winong.

Namun sayangnya, tingkat pengelolaan sampah baru mencapai sekitar 10,95 persen dari total produksi sampah tahunan.

Hal ini menunjukkan adanya celah besar dalam sistem pengelolaan limbah yang perlu segera diperbaiki.

“Sampah plastik menjadi salah satu penyumbang terbesar timbulan sampah,” kata Yelly.

Dalam konteks ini, upaya siswa SMPIT Permata Hati untuk menciptakan bank sampah merupakan langkah kecil namun signifikan dalam menghadapi tantangan pengelolaan limbah plastik yang semakin memburuk.

Dari sisi pendidikan karakter, inisiatif ini juga memberikan pelajaran berharga bagi siswa tentang pentingnya menjaga lingkungan dan bertanggung jawab terhadap dampak yang ditimbulkan oleh perilaku konsumsi mereka sehari-hari.

Selain itu, kegiatan ini dapat membentuk kesadaran akan pentingnya memilah dan mendaur ulang sampah sejak dini.

Kegiatan pengumpulan botol plastik melalui bank sampah diharapkan bisa memberikan manfaat lebih jauh bagi lingkungan sekitar dan masyarakat umum.

Botol-botol plastik yang terkumpul nantinya akan diproses menjadi berbagai bentuk kerajinan tangan oleh para siswa atau dijual kepada pengepul untuk didaur ulang menjadi bahan baku baru.

Dengan demikian, bukan hanya mengurangi jumlah limbah plastik yang berakhir di TPA tetapi juga memberikan nilai ekonomis bagi pelajar dan komunitas mereka. (jud/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Stok Vaksin Aman hingga Dua Bulan

DinkesPPKB Purbalingga Pastikan Ketersediaan Vaksin Aman dan Stabil untuk Imunisasi Masyarakat

Berita Selanjutnya
Desak Tercepat di Kualifikasi, Indonesia Kuasai Papan Atas

Desak Made Catat Waktu 6,27 Detik, Tercepat di Kualifikasi Asian Beach Games