BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Banyumas mulai melakukan normalisasi Daerah Irigasi Bendung Julang di Desa Selanegara, Kecamatan Sumpiuh.
Langkah ini dilakukan dengan mengeruk endapan sedimen yang diperkirakan mencapai sekitar 300 meter kubik, sehingga aliran air menuju lahan pertanian dapat kembali berjalan optimal.
Pengerukan sedimen menjadi salah satu upaya penting dalam menjaga fungsi jaringan irigasi yang selama ini menopang kebutuhan air bagi sekitar 26 hektare areal persawahan di wilayah Kecamatan Sumpiuh.
Endapan lumpur yang telah menumpuk selama puluhan tahun menyebabkan pendangkalan di bagian hulu bendung dan menghambat distribusi air ke saluran irigasi.
Penanganan tersebut dilaksanakan melalui kerja sama antara DPU Kabupaten Banyumas dengan Pemerintah Desa Selanegara.
Kolaborasi ini bertujuan mempercepat pemeliharaan Bendung Julang agar mampu kembali menjalankan fungsi utamanya sebagai penyedia air irigasi bagi sektor pertanian.
Mantri Pengairan Unit Pelaksana Teknis Dinas Pekerjaan Umum (UPTD PU) Wilayah Sumpiuh, Teguh Dumadi, menjelaskan bahwa sedimentasi di Bendung Julang terus bertambah setiap musim penghujan.
Material berupa lumpur dan pasir yang terbawa arus banjir mengendap di hulu bendung sehingga dari tahun ke tahun kondisi pendangkalan semakin parah.
Menurutnya, UPTD PU sebenarnya telah rutin melakukan pengurasan sedimen setiap tahun.
Namun, karena endapan yang terbentuk sudah berlangsung selama puluhan tahun, upaya pemeliharaan rutin dinilai belum cukup untuk mengembalikan kapasitas bendung secara maksimal.
“UPTD sudah rutin melakukan pengurasan Bendung Julang untuk membersihkan sedimen, akan tetapi hasilnya masih kurang maksimal,” ujar Teguh.
Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Banyumas akhirnya memutuskan melakukan pembersihan menyeluruh pada tahun anggaran 2026 dengan menggunakan alat berat.
Penggunaan excavator diharapkan mampu mengangkat seluruh material sedimen yang selama ini sulit dibersihkan secara manual.
Keberadaan Bendung Julang memiliki peran strategis dalam mendukung produktivitas pertanian di Kecamatan Sumpiuh.
Infrastruktur irigasi tersebut mengalirkan air ke sekitar 26 hektare sawah yang tersebar di Desa Selanegara, Desa Kradenan, dan Kelurahan Sumpiuh.
Dengan lancarnya distribusi air, petani dapat menjalankan aktivitas tanam dan panen secara lebih optimal.
Sebaliknya, apabila saluran irigasi mengalami gangguan akibat sedimentasi, pasokan air ke lahan pertanian juga akan ikut terganggu dan berpotensi menurunkan hasil produksi.
Selain memperbaiki sistem irigasi, material hasil pengerukan sedimen juga dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan infrastruktur desa.
Lumpur dan tanah hasil normalisasi digunakan sebagai material urugan pada proyek pembangunan jembatan gantung Desa Selanegara.
“Material sedimen Bendung Julang dimanfaatkan untuk pengurugan di area pembangunan jembatan gantung Desa Selanegara,” jelas Teguh.
Pemanfaatan kembali material hasil pengerukan ini dinilai lebih efisien karena selain mengurangi limbah, juga membantu memenuhi kebutuhan material pembangunan tanpa harus mengambil tanah dari lokasi lain.
Saat ini, Desa Selanegara memang sedang membangun jembatan gantung sebagai pengganti jembatan sasak bambu yang selama bertahun-tahun menjadi akses utama masyarakat.
Jembatan bambu tersebut dinilai sudah tidak lagi memadai karena mudah lapuk dan memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi.
Keberadaan jembatan gantung baru diharapkan mampu meningkatkan konektivitas antarwilayah yang dipisahkan oleh sungai sekaligus memperlancar mobilitas masyarakat, termasuk aktivitas ekonomi dan pertanian.
Selain itu, pembangunan jembatan juga memiliki nilai historis karena akan menghidupkan kembali jalur Jalan Diponegoro yang dahulu menjadi salah satu akses penghubung penting di kawasan tersebut.
DPU Kabupaten Banyumas berharap normalisasi Bendung Julang dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Tidak hanya meningkatkan kelancaran aliran irigasi menuju lahan pertanian, tetapi juga memperpanjang usia infrastruktur bendung sehingga mampu berfungsi secara optimal dalam menghadapi musim penghujan maupun musim kemarau.
Dengan berkurangnya sedimentasi dan meningkatnya kapasitas bendung, distribusi air irigasi diperkirakan menjadi lebih merata.
Kondisi tersebut akan membantu petani memperoleh pasokan air yang cukup untuk mendukung produktivitas pertanian, sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Banyumas. (fij/stch/dda)














