BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Seminggu setelah Hari Raya Idul Adha 1446 H, situasi harga kebutuhan pokok di Pasar Wage, Purwokerto masih belum stabil. Beberapa komoditas memang mulai menunjukkan penurunan, tetapi harga masih berfluktuasi setiap harinya. Bagi beberapa pembeli, turunnya harga ini disambut dengan rasa lega.
“Saya senang kalau cabai turun, jadi bisa stok lebih banyak untuk dagangan saya. Bawang juga nggak semahal kemarin,” ujar Suyati, seorang pembeli yang ditemui di Pasar Wage, Kamis (12/6).
Harga cabai yang sempat mengalami kenaikan, kini mulai turun. Meskipun demikian, para pedagang masih merasa khawatir karena harga tersebut belum benar-benar stabil.
“Cabai rawit merah kemarin Rp40.000 per kilogram, sekarang Rp33.000. Tapi besok bisa beda lagi, tergantung stok. Bawang juga sama,” ungkap Marsini, seorang penjual sembako.
Perubahan harga yang tidak menentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pedagang. Tidak hanya cabai, harga daging sapi segar juga menunjukkan tren stagnan. Saat ini, harga daging sapi berada di kisaran Rp140.000 per kilogram. Namun, minat beli masyarakat terlihat menurun drastis.
“Setelah Idul Adha sepi banget, pernah dalam sehari nggak laku sama sekali. Tapi ini sudah biasa tiap tahun,” kata Bu Sarni, seorang pedagang daging sapi.
Di sisi lain, harga ayam potong justru mengalami kenaikan. Harga ayam naik Rp1.000 menjadi Rp36.000 per kilogram. Menurut Fauzi, seorang pedagang ayam potong di Pasar Wage, kenaikan ini telah terjadi sejak beberapa hari terakhir.
Kondisi ini menunjukkan bahwa harga pangan masih belum stabil sepenuhnya setelah momen Idul Adha. Perubahan harga yang terjadi setiap hari menuntut masyarakat untuk lebih teliti dalam berbelanja.
Staf Dinas Perdagangan Purwokerto, Erna Budiarti, mengonfirmasi bahwa fluktuasi harga masih terus berlangsung.
“Harga bahan pokok memang masih bervariasi setiap hari,” jelasnya.
Erna menambahkan bahwa pihaknya rutin melakukan pemantauan harga harian. Semua data harga tersebut diperbarui dan disediakan secara terbuka melalui aplikasi SIGAOKMAS, yang bisa diakses oleh masyarakat Banyumas.
Masyarakat pun diimbau agar tetap bijak dalam berbelanja, serta selalu mengecek harga terlebih dahulu sebelum membeli. Dengan demikian, konsumen dapat mengatur anggaran belanja mereka dengan lebih baik dan menghindari pembelian yang tidak perlu.
Pemantauan harga secara rutin oleh Dinas Perdagangan Purwokerto juga bertujuan untuk memberikan informasi yang akurat dan terkini bagi masyarakat. Hal ini diharapkan dapat membantu konsumen dalam membuat keputusan belanja yang lebih cerdas dan efisien.
Perubahan harga yang terjadi pasca Idul Adha ini memang bukan hal yang baru. Setiap tahun, fluktuasi harga bahan pokok sering kali menjadi perhatian utama bagi para pedagang dan pembeli.
Namun, dengan adanya teknologi seperti aplikasi SIGAOKMAS, diharapkan masyarakat dapat lebih mudah mendapatkan informasi dan menyesuaikan kebutuhannya.
Meski harga beberapa komoditas mengalami penurunan, ketidakstabilan ini tetap menjadi tantangan bagi semua pihak yang terlibat. Baik itu pedagang, pembeli, maupun pemerintah daerah, semuanya harus saling bekerja sama untuk menciptakan lingkungan pasar yang lebih stabil dan kondusif.
Dengan begitu, dampak dari fluktuasi harga dapat diminimalisir dan kesejahteraan masyarakat dapat lebih terjamin. (zet/stch)
















