BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Kenaikan harga sarana produksi pertanian telah mulai terasa sangat menyengat bagi petani di daerah Banjarnegara.
Dalam beberapa bulan terakhir, lonjakan harga yang paling signifikan terjadi pada plastik pertanian dan pestisida, dua komponen esensial yang sangat sulit untuk digantikan dalam praktik budidaya hortikultura.
Dampak dari situasi ini sudah mulai terlihat jelas di tingkat petani, di mana biaya tanam mengalami kenaikan yang tajam, sementara harga hasil panen belum tentu beranjak naik.
“Saya merasakan dampak langsung dari kenaikan ini. Plastik pertanian paling terasa naiknya. Tangki semprot dan alat lainnya juga naik sekitar 20 persen. Untuk pupuk non-subsidi dan pestisida, harganya naik antara 20 hingga 30 persen,” ungkap Urip, seorang petani asal Kecamatan Wanayasa, pada hari Jumat (17/4/2026).
Ia menambahkan bahwa kenaikan harga tersebut bukan hanya sekadar gejolak lokal semata.
Menurut informasi yang ia peroleh, mahalnya bahan baku plastik yang sangat bergantung pada produk turunan minyak dunia menjadi salah satu faktor pendorong utama harga di pasaran.
Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga memberikan dampak signifikan pada harga pestisida, mengingat sebagian besar produk pestisida yang digunakan oleh para petani masih berasal dari impor.
Salah satu contoh paling mencolok dari kenaikan ini adalah pada plastik mulsa. Sebelumnya, plastik mulsa dijual dengan harga Rp 750 ribu per rol, kini harganya sudah melonjak menjadi Rp 1,1 juta per rol. Selisih harga ini tentu saja membuat perhitungan biaya tanam berubah secara drastis.
Sebagian petani mencoba menyiasati keadaan dengan cara mengurangi penggunaan sarana produksi atau menekan luas lahan yang mereka tanami.
Namun langkah-langkah tersebut tidak selalu dapat menyelesaikan masalah yang ada.
“Kalau biaya terus naik tetapi harga panen tidak ikut naik, ya keuntungan kami semakin tipis,” kata Sarjono, petani lainnya yang turut merasakan beratnya beban biaya produksi.
Ia menegaskan bahwa plastik mulsa bukanlah sekadar pelengkap dalam budidaya tanaman.
Tanpa keberadaan plastik mulsa, kualitas tanaman bisa menurun karena gulma sulit untuk dikendalikan dan kelembapan tanah menjadi tidak stabil.
Tekanan biaya yang terus meningkat ini dikhawatirkan akan berdampak lebih luas dalam jangka panjang.
Jika para petani mulai mengurangi jumlah tanaman atau membatasi penggunaan input pertanian lainnya, maka produksi mereka bisa mengalami penurunan pada musim berikutnya.
Dalam konteks yang lebih luas, situasi ini bukan hanya berujung pada kerugian bagi para petani saja.
Rantai pasokan pangan juga terancam terganggu; jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin bahwa harga komoditas pangan di tingkat konsumen akan terdorong untuk meningkat.
Bagi para petani di Banjarnegara, situasi ini terasa seperti berjalan di tepi jurang; biaya terus melambung tinggi sementara harga jual hasil panen belum tentu berpihak kepada mereka.
Jika tidak ada penyesuaian atau intervensi dari pihak terkait untuk membantu meringankan beban mereka, maka musim tanam berikutnya bisa menjadi ujian yang jauh lebih berat bagi para petani.
Ketidakpastian ekonomi yang dialami oleh para petani tidak hanya mempengaruhi aspek finansial mereka secara langsung tetapi juga berdampak pada ketahanan pangan daerah dan bahkan nasional.
Dengan semakin tingginya biaya produksi dan rendahnya daya beli masyarakat terhadap hasil pertanian akibat harga jual yang stagnan atau bahkan menurun, potensi krisis pangan pun semakin mengancam. (jud/stch/dda)
















