BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Setelah tiga tahun lamanya, warga Banjarnegara bersama dengan pemerintah daerah bergerak cepat untuk mengatasi krisis air yang berkepanjangan.
Mereka secara langsung terjun ke Sungai Merawu dengan melakukan pemasangan bronjong bambu tradisional, atau yang dikenal dengan nama dekem, di sekitar Jembatan Clangap, Kecamatan Banjarmangu.
Tindakan ini diambil sebagai solusi darurat untuk memastikan air kembali mengalir ke sawah-sawah yang sangat bergantung pada irigasi.
Keputusan untuk memasang dekem ini tidak muncul tanpa alasan yang jelas. Dalam kurun waktu tersebut, aliran sungai mengalami perubahan signifikan akibat pendangkalan serta berbagai aktivitas yang terjadi di hilir sungai.
Kini, air tidak lagi dapat masuk ke saluran irigasi Bendungan Clangap, yang sangat vital bagi kebutuhan pertanian masyarakat setempat.
Kepala UPT Wilayah 3 Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarnegara, Adi Purnomo, menyebutkan bahwa sebanyak 60 unit dekem telah dipasang sebagai upaya untuk mengembalikan arah arus sungai yang telah terganggu.
“Dasar sungai sekarang lebih rendah dari pintu irigasi, jadi air tidak bisa naik. Dengan dekem ini, arus kita arahkan kembali ke tengah agar air bisa masuk ke saluran,” ujarnya pada Kamis (16/4/2026).
Pernyataan Adi Purnomo mencerminkan keseriusan pemerintah daerah dalam menangani masalah krisis air ini.
Dampak dari kerusakan sistem irigasi ini cukup luas dan merugikan banyak pihak. Sekitar 480 hektare lahan sawah yang tersebar di lima desa turut terdampak, mulai dari Kecamatan Banjarmangu hingga Wanadadi.
Akibatnya, para petani tidak hanya mengalami gagal tanam tetapi juga penurunan hasil panen yang sangat signifikan.
Hal ini tentunya berdampak pada pendapatan mereka dan ketahanan pangan secara umum.
Camat Banjarmangu, Gaba Tri Sumbarwanto, menekankan bahwa kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.
Menurutnya, hal ini berkaitan langsung dengan ketahanan pangan daerah dan bahkan dapat mempengaruhi pasokan pangan ke daerah lain.
“Kalau irigasi tidak segera pulih, dampaknya bukan hanya ke petani di sini, tapi juga ke pasokan pangan daerah lain,” katanya dengan nada khawatir.
Sementara itu, meskipun menggunakan metode tradisional seperti pemasangan dekem, langkah ini dianggap sebagai solusi cepat di tengah keterbatasan sumber daya dan waktu.
Keputusan untuk memilih dekem sebagai alat bantu pengembalian arus sungai juga didasarkan pada kemudahan dalam pemasangan serta pemanfaatan bahan lokal yang tersedia sehingga biaya dapat ditekan.
Pemerintah daerah pun memastikan bahwa perbaikan jangka panjang sedang diproses agar masalah irigasi dapat diselesaikan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Anggaran awal yang diperkirakan mencapai Rp 8 hingga 9 miliar telah meningkat tajam menjadi Rp 46 miliar melalui anggaran pendapatan dan belanja nasional (APBN) untuk melakukan normalisasi Sungai Merawu serta penguatan tebing yang diperlukan.
Sambil menunggu proyek besar tersebut berjalan sesuai rencana, alat berat tetap disiagakan untuk mengeruk material-material yang menyumbat aliran sungai.
Terutama saat debit air meningkat dan potensi banjir menjadi ancaman nyata bagi lahan pertanian serta pemukiman sekitar.
Dengan adanya kolaborasi antara warga dan pemerintah dalam menghadapi krisis irigasi ini, harapan untuk pemulihan aliran air menuju sawah-sawah kembali hidup. (jud/stch/dda)
















