BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Hingga minggu kedua bulan Juni 2025, Kabupaten Cilacap menghadapi peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang signifikan.
Jumlah kasus telah mencapai 249 dengan satu pasien meninggal dunia. Tren peningkatan ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dan masyarakat setempat.
Sekretaris Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Cilacap, dr Ari Windy Hardhanu, mengungkapkan bahwa selain DBD, kasus Demam Dengue (DD) juga menunjukkan angka yang cukup tinggi, yaitu sebanyak 911 kasus.
“Data sampai minggu kedua Juni 2025, ada 911 kasus DD dan 249 kasus DBD. Satu kasus DBD meninggal dunia. Ini menjadi perhatian serius,” kata dr Ari pada Senin (23/6).
Peningkatan jumlah kasus ini disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satu penyebab utama adalah rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan memberantas sarang nyamuk.
Genangan air yang sering ditemukan di lingkungan rumah tangga menjadi tempat ideal bagi nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak. Aedes aegypti adalah spesies nyamuk yang dikenal sebagai vektor utama penyebaran virus dengue.
Untuk mengatasi masalah ini, dr Ari menekankan pentingnya tindakan aktif dari masyarakat dalam melaksanakan program 3M Plus.
Program ini mencakup menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat-tempat yang dapat menyimpan air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air.
“Masyarakat harus aktif melakukan 3M Plus, yaitu menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air. Ini langkah paling efektif untuk mencegah penyebaran DBD,” tegasnya.
Meski tindakan fogging tetap dilakukan di titik-titik tertentu untuk mengurangi populasi nyamuk dewasa, dr Ari menegaskan bahwa fogging hanya memberikan efek sementara dan bukan solusi utama.
Fogging tidak mampu membasmi larva nyamuk yang berkembang di genangan air. Oleh karena itu, upaya pencegahan harus difokuskan pada pemberantasan sarang nyamuk dan pengendalian lingkungan.
Selain itu, dr Ari juga mengimbau masyarakat untuk segera mencari pemeriksaan medis jika mengalami gejala yang mengarah pada demam berdarah.
Gejala umum termasuk demam tinggi mendadak, nyeri otot, mual, atau muncul bintik merah di kulit. Deteksi dini sangat penting agar dapat mencegah komplikasi serius yang dapat membahayakan nyawa pasien.
“Kami akan terus melakukan pemantauan intensif dan penyuluhan kepada masyarakat melalui puskesmas maupun kader kesehatan. Kami harap kolaborasi semua pihak dapat menekan laju kasus DBD di Cilacap,” pungkas dr Ari.
Upaya pencegahan dan penanganan kasus DBD di Cilacap membutuhkan kerjasama semua pihak, termasuk pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat setempat.
Dengan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan deteksi dini terhadap gejala penyakit, diharapkan angka kasus DBD dapat ditekan secara signifikan.
Pentingnya edukasi mengenai bahaya DBD dan cara pencegahannya tidak bisa diabaikan. Masyarakat harus terus diedukasi agar lebih waspada terhadap ancaman penyakit ini, terutama di musim penghujan ketika populasi nyamuk cenderung meningkat.
Melalui langkah-langkah pencegahan yang tepat dan kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat, diharapkan Kabupaten Cilacap dapat mengendalikan dan menurunkan jumlah kasus DBD secara efektif demi kesehatan dan keselamatan seluruh warganya. (ray/stch)
















