Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

42 Desa dan 7 Kelurahan di Banjarnegara Dilanda Kekeringan, 29.110 Jiwa Terdampak

Krisis Air Bersih Banjarnegara Makin ParahKrisis Air Bersih Banjarnegara Makin Parah
PELEPASAN BANTUAN: Distribusikan air bersih bantu warga yang terdampak kekeringan di Banjarnegara

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Krisis air bersih akibat kekeringan di Kabupaten Banjarnegara belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Hingga Senin (31/8/2026), sebanyak 29.110 jiwa dari 8.642 keluarga terdampak kekeringan yang tersebar di 42 desa dan tujuh kelurahan pada 12 kecamatan.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan air bersih di sejumlah wilayah terus meningkat.

Pemerintah daerah bersama berbagai pihak masih melakukan distribusi air untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Berdasarkan data penanganan kekeringan, bantuan air bersih yang telah disalurkan mencapai 1.334 trip dengan total volume sekitar 5,59 juta liter.

Namun, distribusi tersebut masih harus terus dilakukan karena kondisi kekeringan belum berakhir.

Kebutuhan air bersih di sejumlah wilayah terdampak tergolong tinggi. Bahkan, daerah yang mengalami kekeringan paling parah membutuhkan pasokan antara enam hingga 11 tangki air setiap hari.

Tingginya kebutuhan tersebut membuat distribusi air harus dilakukan secara bergiliran.

Langkah ini diperlukan agar masyarakat di berbagai wilayah yang sama-sama mengalami krisis air bersih tetap mendapatkan pasokan.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Banjarnegara, Aji Piliroso, mengatakan pada tahap awal terdapat sekitar 23 hingga 30 tangki yang disiapkan untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Setiap tangki membawa sekitar 5.000 liter air bersih yang kemudian didistribusikan ke wilayah sesuai tingkat kebutuhan.

“Di daerah yang paling parah, kebutuhan bisa mencapai enam hingga 11 tangki per hari dengan pola distribusi bergiliran,” kata Aji, Selasa (1/9/2026).

Pola distribusi bergiliran menjadi strategi BPBD Banjarnegara karena wilayah yang terdampak cukup luas.

Pasokan air tidak dapat difokuskan hanya pada satu daerah, mengingat masih banyak masyarakat di wilayah lain yang juga mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

Di tengah kondisi tersebut, keluarga besar Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) Kabupaten Banjarnegara turut mengambil bagian dalam penanganan krisis air bersih.

Puluhan tangki air diberangkatkan dari halaman kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara untuk kemudian disalurkan kepada masyarakat yang terdampak kekeringan.

Sekda Banjarnegara, Hendro Cahyono, mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian keluarga besar Korpri terhadap masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Hari ini kita hadir bersama untuk memberangkatkan bantuan air bersih dari keluarga besar Korpri Banjarnegara. Sasaran distribusi kami serahkan sepenuhnya kepada BPBD yang paling memahami peta wilayah masyarakat terdampak,” ujarnya.

Menurut Hendro, pemetaan wilayah menjadi bagian penting dalam proses penyaluran bantuan air bersih.

Dengan mengacu pada data dan kondisi lapangan, pasokan dapat diarahkan lebih dahulu ke wilayah yang mengalami kekeringan paling parah.

Langkah tersebut diharapkan membuat bantuan yang tersedia dapat memberikan manfaat secara maksimal bagi masyarakat.

BPBD Banjarnegara terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi kekeringan.

Data mengenai wilayah terdampak menjadi dasar untuk menentukan prioritas distribusi air bersih.

Wilayah dengan kebutuhan paling mendesak akan mendapatkan prioritas pengiriman.

Sementara itu, daerah lain yang juga mengalami kekurangan air tetap memperoleh bantuan melalui sistem distribusi secara bergiliran.

Dengan cakupan wilayah terdampak yang cukup luas, penanganan krisis air bersih membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

Pemerintah daerah tidak hanya mengandalkan bantuan dari BPBD, tetapi juga membuka ruang bagi instansi pemerintah, masyarakat, maupun pihak lain yang memiliki kemampuan untuk ikut membantu.

Hendro mengajak berbagai pihak yang memiliki sumber daya untuk turut berpartisipasi dalam memenuhi kebutuhan air masyarakat yang terdampak kekeringan.

Menurutnya, kerja sama berbagai pihak diperlukan karena kebutuhan air bersih terus meningkat selama musim kemarau masih berlangsung.

Kekeringan yang melanda 12 kecamatan di Banjarnegara menunjukkan bahwa persoalan air bersih masih menjadi tantangan serius selama musim kemarau.

Sebanyak 29.110 jiwa dari 8.642 keluarga harus menghadapi keterbatasan akses terhadap air bersih.

Kondisi tersebut berpengaruh terhadap aktivitas masyarakat karena air merupakan kebutuhan utama untuk berbagai keperluan sehari-hari.

Distribusi air bersih menjadi salah satu langkah cepat untuk membantu masyarakat selama sumber air belum kembali mencukupi.

Hingga 31 Agustus 2026, sebanyak 1.334 perjalanan distribusi telah dilakukan dengan total volume air mencapai 5,59 juta liter.

Meski jumlah tersebut cukup besar, kebutuhan di lapangan masih tinggi sehingga bantuan harus terus disalurkan.

Di sejumlah lokasi, kebutuhan bahkan mencapai 6-11 tangki per hari. Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan kekeringan tidak dapat dilakukan hanya dalam waktu singkat.

BPBD Banjarnegara memperkirakan distribusi air bersih masih akan berlangsung selama kondisi kekeringan belum berakhir.

Dengan wilayah terdampak yang tersebar di 42 desa dan tujuh kelurahan, pengiriman air harus dilakukan secara terencana agar bantuan dapat menjangkau masyarakat secara merata.

BPBD juga terus memprioritaskan wilayah yang memiliki tingkat kebutuhan paling tinggi.

Sementara itu, pola pengiriman secara bergiliran diterapkan untuk memperluas jangkauan bantuan ke wilayah terdampak lainnya.

Tambahan bantuan dari Korpri Banjarnegara diharapkan dapat memperkuat pasokan yang selama ini disalurkan pemerintah daerah.

Semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar pula kemampuan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat.

Krisis air bersih akibat kekeringan menjadi persoalan yang membutuhkan penanganan bersama.

Pemerintah, lembaga, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat dapat mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing.

Selama musim kemarau masih berlangsung, kebutuhan air bersih masyarakat Banjarnegara diperkirakan tetap tinggi.

Karena itu, distribusi air akan terus diarahkan ke wilayah dengan kondisi paling mendesak agar masyarakat yang terdampak dapat tetap memperoleh pasokan untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. (jud/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Main Jakarta Undercover

Haico Van der Veken Kaget Lihat Sisi Gelap Ibukota Setelah Main Jakarta Undercover

Berita Selanjutnya
Kirim Pesan Menyentuh untuk Fans

Rafael Leao Resmi Gabung Galatasaray, Tinggalkan Pesan Khusus untuk Fans AC Milan