Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Nadhif Basalamah Curhat Jadi Korban Pelecehan Online di X dan TikTok
Tradisi Suran Manunggal di Banjarnegara, Warga Gelar Kirab 100 Tumpeng dan Gunungan Hasil Bumi

Tradisi Suran Manunggal di Banjarnegara, Warga Gelar Kirab 100 Tumpeng dan Gunungan Hasil Bumi

Kirab 100 Tumpeng dan Gunungan Hasil BumiKirab 100 Tumpeng dan Gunungan Hasil Bumi
KIRAB BUDAYA: Iring-iringan masyarakat di Desa Blambangan, Dusun Kuwondogiri, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara saat menuju lokasi kegiatan Suran Manunggal

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Ratusan warga dari Dusun Kuwondogiri, Desa Blambangan, Kecamatan Bawang, berbondong-bondong mengikuti rangkaian acara Suran Manunggal 1448 Hijriah yang berlangsung pada Minggu (28/6/2026).

Tradisi tahunan ini merupakan refleksi mendalam dari perpaduan antara nilai-nilai keagamaan, budaya Jawa yang kaya, serta kepedulian terhadap lingkungan yang semakin mendesak.

Kegiatan dimulai dengan kirab budaya yang megah, di mana peserta membawa 100 tumpeng dan gunungan hasil bumi sebagai simbol syukur atas anugerah alam.

Setelah kirab budaya, para warga melanjutkan acara dengan ziarah dan doa bersama di Makam Kyai Ageng Tunggul Manik.

Makam ini dipilih sebagai pusat kegiatan karena sosok Kyai Ageng Tunggul Manik dikenal luas sebagai cendekiawan dan pemimpin yang memberikan pengayoman kepada masyarakat.

Dalam konteks ini, ziarah bukan hanya sekadar ritual spiritual, tetapi juga merupakan bentuk penghormatan kepada warisan nilai-nilai luhur yang beliau tinggalkan.

Warga kemudian menggelar acara Sedekah Kali di tepi Sungai Blimbing, sebuah tradisi unik yang menandakan rasa syukur mereka terhadap sumber daya alam.

Dalam acara ini, mereka menyanyikan kidung sebagai ungkapan harapan dan doa untuk keselamatan serta keberkahan ekosistem sungai.

Salah satu bagian penting dari kegiatan ini adalah penebaran benih ikan ke dalam sungai, yang mencerminkan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian lingkungan.

Tokoh masyarakat Desa Blambangan, Nur Muhammad, menjelaskan bahwa Suran Manunggal bukan hanya peringatan akan Tahun Baru Islam dan Tahun Baru Jawa tetapi juga merupakan upaya untuk menjaga agar nilai-nilai keislaman dan budaya Jawa tetap berjalan beriringan.

“Melalui kegiatan ini kami ingin menghidupkan keduanya agar Islam dan budaya Jawa sama-sama tetap terangkat,” ujarnya dengan penuh semangat.

Lebih lanjut, Nur Muhammad mendorong masyarakat untuk menjadikan momentum pergantian tahun sebagai waktu untuk bermuhasabah atau introspeksi diri serta memperbaiki segala hal yang kurang baik di dalam kehidupan.

Upaya ini menjadi penting mengingat tantangan zaman modern yang sering kali membuat manusia terputus dari akar budaya mereka.

Kepala Desa Blambangan, Sukisno, menambahkan bahwa Suran Manunggal telah menjadi tradisi turun-temurun bagi masyarakat Dusun Kuwondogiri.

Ia menegaskan pentingnya kegiatan ini tidak hanya dalam memperkuat nilai keagamaan tetapi juga sebagai sarana untuk melestarikan budaya lokal serta meneladani sosok Kyai Ageng Tunggul Manik.

Menurutnya, mengenang sosok tersebut adalah cara terbaik untuk menjaga identitas budaya dan spiritual masyarakat setempat.

Dalam rangkaian acara tersebut, penebaran benih ikan di Sungai Blimbing menjadi salah satu aksi nyata pelestarian lingkungan.

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Blambangan, Hasanudin, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian masyarakat untuk menjaga ekosistem sungai yang selama ini menjadi bagian penting bagi kehidupan sehari-hari mereka.

“Kalau sungainya lestari, masyarakat juga yang akan menikmati hasilnya. Itu yang terus kami jaga bersama,” pungkas Sukisno.

Kegiatan Suran Manunggal juga memiliki dampak sosial yang signifikan bagi masyarakat sekitar.

Selain menjadi ajang berkumpulnya warga untuk merayakan tradisi bersama-sama, acara tersebut memperkuat ikatan sosial antarwarga.

Momen seperti ini memungkinkan individu-individu dari berbagai latar belakang untuk saling berinteraksi dan berbagi cerita tentang kebudayaan mereka masing-masing.

Dengan demikian, tradisi Suran Manunggal tidak hanya merayakan aspek spiritualisme tetapi juga memperkuat solidaritas komunitas. (far/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Jadi Korban Pelecehan di Medsos

Nadhif Basalamah Curhat Jadi Korban Pelecehan Online di X dan TikTok