BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mersi II ditutup sementara pada Rabu (12/8/2026), menyusul dugaan keracunan yang dialami 136 siswa MAN 2 Banyumas.
Penutupan dilakukan setelah tim gabungan menemukan sejumlah fasilitas dapur yang dinilai masih perlu diperbaiki.
SPPG Mersi II merupakan salah satu dapur yang memasok makanan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Meski penutupan dilakukan setelah munculnya keluhan kesehatan dari para siswa, penyebab pasti sakit yang dialami mereka hingga kini belum diketahui dan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Wakil Bupati Banyumas Lintarti Dwi Asih mengatakan, keputusan menutup sementara dapur tersebut diambil setelah tim gabungan dari Pemerintah Kabupaten Banyumas, Kodim 0701/Banyumas, dan Korem 071/Wijayakusuma melakukan pemeriksaan langsung.
Menurut Lintarti, hasil pemeriksaan menemukan sejumlah fasilitas yang perlu mendapat perhatian.
Salah satunya adalah instalasi pengolahan air limbah atau IPAL yang dinilai belum memenuhi persyaratan.
Selain itu, air baku yang digunakan di dapur SPPG Mersi II juga menjadi catatan. Air tersebut disebut mengandung cukup banyak besi.
Ketika tempat penampungan dibuka, air bahkan menimbulkan bau yang sangat menyengat.
Fasilitas pencucian ompreng juga dinilai belum memadai untuk melayani sekitar 3.000 penerima manfaat MBG.
Saat ini, SPPG Mersi II baru memiliki satu water heater yang digunakan untuk mendukung proses pencucian peralatan makan.
“Tempat cuci ompreng juga dengan jumlah penerima MBG sampai tiga ribu anak kurang. Water heater-nya hanya satu. Kalau bisa ditambah sampai tiga agar pekerja tidak terlalu lama selesai bekerja,” terang Lintarti.
Catatan lainnya berkaitan dengan sistem exhaust di dapur. Kapasitas sistem tersebut dinilai masih kurang sehingga sirkulasi udara yang masuk dan keluar tidak seimbang. Akibatnya, kondisi ruang kerja di dalam dapur menjadi terlalu panas.
Kondisi ruang kerja tersebut juga dinilai perlu diperhatikan karena berkaitan dengan kebersihan petugas yang menangani makanan.
Suhu ruangan yang terlalu panas dapat membuat juru masak berkeringat ketika sedang mengolah makanan.
“Kalau ruang kerjanya terlalu panas juru masak berkeringat padahal saat memegang makanan juru masak harus benar-benar dalam keadaan bersih dan steril,” kata Lintarti.
Penutupan SPPG Mersi II belum ditentukan sampai kapan. Dapur baru akan kembali beroperasi setelah berbagai catatan hasil pemeriksaan ditindaklanjuti dan mendapat instruksi dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Lintarti mengatakan, jika perbaikan dapat diselesaikan dengan cepat, hasilnya akan dilaporkan kepada BGN.
Selanjutnya, keputusan pembukaan kembali dapur akan mengikuti instruksi lembaga tersebut.
“Kalau memang dari SPPG selesainya cepat kami laporkan ke Badan Gizi Nasional. Jika dari BGN sudah memberi instruksi bisa dibuka kembali ya dibuka kembali,” ujarnya.
Kepala SPPG Mersi II Desanti Puspa Zahrani membenarkan adanya penutupan sementara.
Ia mengatakan berbagai catatan yang disampaikan tim pemeriksa akan segera ditindaklanjuti.
“Untuk kronologi terus ditelusuri,” jawab Desanti.
Sementara itu, dugaan keracunan tersebut mulai berdampak pada siswa MAN 2 Banyumas.
Sejumlah siswa mengaku masih ragu untuk kembali mengonsumsi makanan MBG meski penyebab sakit yang mereka alami belum dapat dipastikan.
Dina, salah seorang siswi, mengaku mengalami sakit perut dan diare selama dua hari.
Keluhan tersebut mulai dirasakan pada Senin (10/8) sore setelah dirinya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler handball.
Sebelumnya, Dina menyantap makanan MBG setelah zuhur. Ia menghabiskan oreg tempe dan anggur merah, sementara ayam dadu bumbu woku hanya dimakan sebagian.
Tumis pakcoy jagung tidak dikonsumsinya. Pada Senin malam, Dina mengalami buang air besar sebanyak dua kali.
Kondisinya kemudian memburuk pada Selasa (11/8) dengan frekuensi buang air besar meningkat hingga delapan kali.
Kondisinya mulai membaik pada Rabu (12/8). Dina bahkan berencana kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar pada Kamis.
“Alhamdulillah sudah sehat. Besok (Kamis) masuk lagi,” katanya.
Meski telah pulih, pengalaman tersebut membuat Dina masih takut untuk kembali mengonsumsi makanan MBG.
Ia memilih untuk sementara waktu tidak menyantap makanan yang disediakan melalui program tersebut.
“Takut untuk makan MBG lagi. Kapok,” ujarnya.
Pengalaman serupa dialami Mawwa. Ia sempat berangkat ke madrasah pada Selasa, tetapi memilih pulang sekitar pukul 09.00 WIB setelah mengalami sakit perut.
Sebelum pulang, Mawwa sempat mendapatkan obat dari petugas UKS. Pada Rabu, kondisinya sudah membaik dan ia kembali masuk sekolah.
Namun, Mawwa mengaku masih mempertimbangkan untuk kembali mengonsumsi makanan MBG.
“Alhamdulillah hari ini sudah baikan dan bisa berangkat. Untuk makan MBG lagi lihat-lihat. Agak trauma,” katanya.
Di sisi lain, Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Banyumas masih melakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab keluhan kesehatan yang dialami para siswa.
Sampel makanan dari porsi besar dan kecil telah diambil untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium di Semarang.
Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat kaitan antara makanan MBG dengan sakit yang dialami para siswa.
Ketua Tim Kerja Survailans dan Imunisasi Dinkes KB Banyumas Achmad Chairul Hamdi mengatakan seluruh sampel yang telah diambil akan diperiksa.
“Sampel porsi besar dan kecil diambil semua untuk uji lab. Sore ini kami kirim ke lab di Semarang,” terangnya.
Dengan demikian, dugaan keracunan 136 siswa MAN 2 Banyumas belum dapat dipastikan penyebabnya.
Pemerintah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium, sementara SPPG Mersi II ditutup sementara sebagai langkah perbaikan fasilitas dan evaluasi keamanan penyediaan makanan MBG. (yda/stch/dda)
















