BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Insiden tragis menimpa seorang personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) saat bertugas di Desa Krakal, Kecamatan Alian.
Peristiwa ini terjadi ketika tim gabungan sedang melakukan evakuasi terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang diduga memiliki riwayat perilaku agresif dan mengancam keselamatan orang lain.
Kejadian ini menjadi sorotan publik karena melibatkan aspek penanganan kesehatan mental yang berujung pada hilangnya nyawa seorang petugas.
Kapolres Kebumen, AKBP I Putu Bagus Krisna Purnama, menyatakan bahwa penyelidikan intensif tengah dilakukan guna mengungkap kronologi kejadian secara menyeluruh.
Penyelidikan tidak hanya fokus pada peristiwa saat evakuasi berlangsung, tetapi juga menyoroti riwayat gangguan kejiwaan dari terduga pelaku.
“Kami terus mendalami seluruh aspek kejadian, termasuk latar belakang pelaku, prosedur evakuasi, dan rangkaian tindakan di lapangan,” ujar AKBP Putu dalam wawancara dengan awak media pada Minggu (8/2).
Menurut keluarga, terduga pelaku mulai menunjukkan gejala gangguan jiwa sejak sekitar tahun 2010.
Gejala tersebut meliputi perilaku berbicara sendiri dan emosi yang tidak stabil.
Kondisi ini semakin parah hingga pada Maret 2023, pelaku sempat menjalani perawatan intensif di RSUD Prembun selama 15 hari.
Setelah itu, dia ditempatkan di rumah singgah Doso Raso milik Dinas Sosial Kabupaten Kebumen selama tiga bulan sebagai bagian dari upaya rehabilitasi.
Namun demikian, setelah masa perawatan selesai, pelaku diwajibkan tetap mengonsumsi obat-obatan dengan pendampingan dari petugas Puskesmas Alian untuk memastikan stabilitas kondisi mentalnya. Kendati demikian, aktivitas sehari-hari pelaku masih menunjukkan tanda-tanda bahaya.
Dia dikenal sering membawa senjata tajam berupa sabit atau arit ke mana pun pergi, bahkan saat mandi, makan, dan tidur.
Keluarga mengungkapkan bahwa sebelum insiden tragis terjadi, ada ancaman serius yang disampaikan oleh pelaku terhadap ibunya dan kakak kandungnya.
Ancaman tersebut muncul setelah terjadi perdebatan mengenai pakan ternak yang disimpan oleh pelaku pada Sabtu, 31 Januari 2026.
Karena khawatir akan keselamatan keluarga dan masyarakat sekitar, pihak keluarga kemudian meminta bantuan kepada pemerintah desa setempat untuk meneruskan informasi tersebut ke Puskesmas Alian agar pelaku dapat dievakuasi kembali ke RSUD Prembun untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Evakuasi akhirnya dilaksanakan pada Senin, 2 Februari 2026. Namun naasnya, dalam proses evakuasi tersebut seorang personel Satpol PP berinisial MA harus kehilangan nyawa.
Kejadian ini memunculkan pertanyaan besar terkait protokol keamanan dalam penanganan ODGJ yang memiliki potensi membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Kapolres Putu menjelaskan bahwa saat ini terduga pelaku telah dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa dr Soerojo Magelang untuk menjalani observasi kejiwaan lebih lanjut selama beberapa hari.
Hasil observasi ini nantinya akan menjadi acuan dalam menentukan langkah hukum selanjutnya yang sesuai dengan ketentuan hukum berlaku serta mempertimbangkan kondisi kejiwaan terduga pelaku.
“Penanganan dilakukan sesuai ketentuan hukum yang berlaku, termasuk mempertimbangkan kondisi kejiwaan terduga pelaku,” kata AKBP Putu menegaskan.
Peristiwa ini menjadi refleksi penting bagi semua pihak terkait pentingnya pembekalan khusus bagi petugas lapangan dalam menangani situasi darurat yang melibatkan individu dengan gangguan kejiwaan.
Diperlukan kerjasama lintas sektor antara kepolisian, tenaga kesehatan mental dan pemerintah daerah untuk merumuskan protokol penanganan yang aman dan efektif guna mencegah tragedi serupa di masa mendatang.
Sementara itu, masyarakat berharap agar penanganan kasus ODGJ lebih diperhatikan dari sisi kemanusiaan tanpa mengabaikan aspek keamanan bagi petugas maupun masyarakat sekitar.
Dengan meningkatnya kasus serupa, penting untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara menghadapi individu dengan gangguan mental serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya dukungan sosial bagi mereka yang membutuhkan.
Kejadian di Desa Krakal ini merupakan pengingat betapa kompleksnya penanganan kasus ODGJ jika tidak ditangani dengan pendekatan yang tepat dan berkelanjutan.
Tragedi gugurnya personel Satpol PP selama evakuasi ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh bagi sistem penanganan kesehatan mental di Indonesia agar lebih siap dalam menghadapi tantangan serupa di masa depan. (mam/stch/dda)
















