BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Tradisi metik bunga Wijaya Kusuma di Pulau Majeti, Nusakambangan kembali mencuri perhatian dalam rangkaian kegiatan adat Paguyuban Kawula Kraton Surakarta Hadiningrat Pakasa Wijaya Kusuma Cilacap yang berlangsung pada hari Minggu, 3 Mei.
Tradisi ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan sebuah prosesi sakral yang dilaksanakan pada momen-momen tertentu, khususnya menjelang penobatan raja di lingkungan Keraton Surakarta.
Bunga Wijaya Kusuma sendiri diyakini memiliki makna sebagai simbol legitimasi dan kelengkapan dalam prosesi tersebut.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Cilacap, Ahmad Fauzi, menjelaskan bahwa metik bunga Wijaya Kusuma memiliki nilai historis yang mendalam dan tidak dapat dipisahkan dari tradisi penobatan raja.
“Tradisi ini tidak dilakukan setiap tahun. Metik Wijaya Kusuma hanya dilaksanakan saat akan ada penobatan raja Surakarta. Secara historis, terakhir kali prosesi ini dilakukan sekitar tahun 1930,” ujar Ahmad Fauzi.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya untuk melestarikan warisan budaya serta nilai-nilai adat yang telah ada sejak lama.
Dalam rangkaian acara di Cilacap kali ini, para peserta melakukan kirab dari Pendopo Kabupaten menuju Pantai Teluk Penyu.
Kirab tersebut kemudian dilanjutkan dengan menyeberang ke Nusakambangan, tempat di mana Pulau Majeti berada.
Salah satu titik penting dalam prosesi ini adalah Pulau Majeti itu sendiri, yang dipercaya sebagai lokasi tumbuhnya bunga Wijaya Kusuma.
“Selain prosesi metik, kegiatan juga diisi dengan doa bersama dan wilujengan adat sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai spiritual dan warisan budaya leluhur,” lanjutnya.
Tradisi metik bunga Wijaya Kusuma menjadi pengingat akan keterkaitan sejarah antara wilayah pesisir selatan Jawa dengan Keraton Surakarta.
Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa nilai-nilai adat masih dijaga dan dilestarikan hingga kini.
Melihat lebih jauh ke belakang, tradisi metik bunga Wijaya Kusuma merupakan bagian integral dari sejarah Keraton Surakarta sejak zaman dahulu kala.
Dianggap sebagai simbol keberkahan dan kesuburan, bunga ini sering diasosiasikan dengan berbagai ritual dan upacara penting dalam masyarakat Jawa.
Selain itu, keberadaan bunga Wijaya Kusuma juga mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dengan alam yang seharusnya terus dijaga.
Sejak awal mula tradisi ini berlangsung, masyarakat sekitar telah mengenali bunga Wijaya Kusuma sebagai tanaman yang memiliki khasiat magis dan spiritual.
Dalam konteks sosial budaya masyarakat Jawa, bunga ini dianggap memiliki daya tarik tersendiri serta mengandung filosofi mendalam mengenai kehidupan.
Oleh karena itu, proses metik atau pemetikan bunga selama upacara menjadi sangat sakral.
Tak hanya itu, upacara metik juga menjadi momen refleksi bagi masyarakat tentang pentingnya menjaga warisan budaya serta memperkuat identitas daerah mereka.
Dalam konteks modern saat ini, di mana globalisasi semakin memengaruhi kehidupan sehari-hari, pelestarian tradisi seperti metik bunga Wijaya Kusuma menjadi sangat penting agar generasi berikutnya dapat memahami dan menghargai akar budaya mereka.
Dalam prosesi tahun ini, tampak banyak peserta yang terdiri dari berbagai kalangan mulai dari pejabat daerah hingga masyarakat umum.
Antusiasme terlihat jelas di wajah mereka saat mengikuti kirab menuju Pantai Teluk Penyu sebelum akhirnya menyeberang ke Pulau Majeti.
Suasana haru bercampur bahagia menyelimuti acara tersebut karena mereka semua menyadari bahwa tradisi ini bukan hanya sekadar ritual belaka tetapi juga sebuah perjalanan spiritual yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan.
Bunga Wijaya Kusuma sendiri dikenal memiliki waktu mekar pada malam hari dan biasanya akan layu pada pagi hari.
Keindahan bunganya yang eksotis membuat banyak orang terpesona sekaligus menghargai nilai-nilai yang terkandung dalam prosesinya.
Di balik keindahan fisiknya, ada makna mendalam tentang kehidupan serta harapan akan masa depan yang lebih baik bagi seluruh umat manusia.
Pentingnya merawat budaya lokal seperti tradisi metik bunga Wijaya Kusuma tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau institusi adat semata tetapi juga seluruh lapisan masyarakat.
Setiap individu memiliki peran penting dalam menjaga kelangsungan tradisi agar tetap hidup dalam benak generasi muda saat ini.
Dengan demikian, kedepannya tradisi seperti ini dapat terus dilakukan dan tidak tenggelam oleh perkembangan zaman. (jul/stch/dda)
















