Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Kondisi SMPN 2 Kampung Laut Cilacap: Siswa dan Guru Belajar Terendam Air Rob

Siswa dan guru "dipaksa" dengan banjir robSiswa dan guru "dipaksa" dengan banjir rob

BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Para murid di SMPN 2 Kampung Laut di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, harus beradaptasi dengan fenomena banjir rob yang kerap melanda sekolah mereka.

Terletak di Desa Klaces, sekolah ini sering menjadi langganan luapan air laut, terutama saat cuaca ekstrem melanda.

Sejak Sabtu, 14 Juni lalu, seluruh area sekolah terendam air, dan genangan ini baru berangsur surut pada Senin pagi, 16 Juni.

Situasi ini sudah menjadi hal lumrah bagi siswa dan guru di sana. Setiap kali air pasang atau rob datang, air laut memasuki ruang kelas dan mengganggu proses belajar mengajar.

Menariknya, bangunan sekolah tersebut adalah bangunan baru, namun tetap tidak bisa lepas dari masalah ini.

Plt Kepala Sekolah SMPN 2 Kampung Laut, Jaka Widada, mengungkapkan kepada Radarmas bahwa kondisi tersebut sudah terjadi sejak sekolah itu berdiri.

“Kita sering mengalami kondisi itu, bahkan jika banjir rob terjadi pagi hari, tak jarang kita harus meliburkan kegiatan belajar mengajar,” jelas Jaka pada hari Senin, 16 Juni.

Dia menambahkan bahwa saat ini situasinya tidak terlalu mengganggu karena tidak ada kegiatan belajar mengajar yang berlangsung. Namun, kekhawatiran muncul mengenai dampak jangka panjangnya.

“Untuk saat ini tidak menjadi masalah karena memang sudah tidak ada kegiatan belajar mengajar. Namun ke depan akan cukup mengganggu,” lanjutnya.

Pembangunan gedung sekolah sebelumnya sudah dilakukan dengan meninggikan bangunan sekitar 60 cm dari tinggi awal sebagai antisipasi terhadap banjir rob. Namun, langkah ini belum sepenuhnya efektif.

“Padahal pada saat pembangunan gedung baru melibatkan konsultan dari ITB dan mereka menyarankan agar bangunan ditinggikan, namun tetap saja tidak bisa mengatasi banjir rob masuk ke ruang kelas karena ini faktor alam juga,” ungkap Jaka.

Kepala Dinas Pendidikan Cilacap, Luhur Satrio Muchsin, menanggapi kondisi yang terjadi di SMPN 2 Kampung Laut dengan menyatakan bahwa pihaknya akan merencanakan peninggian bangunan kembali.

“Pembangunan gedung sekolah itu kan dulunya dari anggaran PUPR dan itu pun sudah ditinggikan. Ternyata masih saja air rob masuk kelas, kita akan upayakan adanya peninggian kembali,” katanya.

Menurut Luhur, relokasi tidak mungkin dilakukan mengingat topologi wilayah Kampung Laut yang hampir serupa di semua lokasi. Oleh karena itu, peninggian bangunan menjadi solusi yang diupayakan.

“Kalau melihat topologi wilayah Kampung Laut rata-rata lokasinya hampir sama jadi tidak mungkin diadakan relokasi, tapi kita akan upayakan peninggian bangunan lagi,” pungkasnya.

Tantangan yang dihadapi oleh SMPN 2 Kampung Laut ini menjadi contoh nyata bagaimana kondisi alam dapat mempengaruhi proses pendidikan. Meski sudah ada upaya peninggian bangunan, masalah banjir rob masih saja mengganggu.

Keputusan untuk tidak melakukan relokasi dan fokus pada peninggian bangunan menunjukkan komitmen pihak sekolah dan dinas terkait untuk mengatasi masalah ini dengan sebaik mungkin.

Sementara itu, para siswa dan guru harus terus beradaptasi dengan kondisi yang ada, sembari berharap solusi yang lebih efektif dapat segera terwujud. (jul/stch)

Berita Sebelumnya
Disdukcapil perbarui 25 ribu data siswa

Gencarkan Bulan Sadar Adminduk, Disdukcapil Kebumen Perbarui 25 Ribu Data Siswa

Berita Selanjutnya
Website header 2 1024x536 ezgif.com png to jpg converter

Pendaftaran Beasiswa PDDI 2025 Diperpanjang Hingga 26 Juni, Ini Cara Daftarnya