BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Musim kemarau telah mulai menunjukkan dampaknya di beberapa daerah, termasuk di Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga.
Kurangnya intensitas hujan tidak hanya mempengaruhi suhu dan kelembaban udara tetapi juga mengancam ketersediaan air bersih untuk masyarakat. Dampak ini terutama dirasakan oleh Desa Bokol yang kini masuk dalam kondisi krisis air bersih.
Pemerintah setempat pun bergerak cepat dengan mempersiapkan pengajuan bantuan dropping air bersih guna mengatasi situasi tersebut.
Dedhy Kurniawan, Camat Kemangkon, menyampaikan bahwa dari total 19 desa yang berada di bawah yurisdiksinya, saat ini hanya Desa Bokol yang melaporkan kekurangan air bersih.
Kondisi ini disebabkan oleh sumber air dari sumur-sumur yang sudah tidak dapat diandalkan lagi.
“Desa Bokol memang setiap tahun menjadi prioritas untuk penanganan krisis air bersih,” ujarnya saat diwawancarai oleh awak media pada Minggu, 27 Juli 2025.
Ia berharap agar tahun ini jumlah desa yang mengalami krisis air bersih di Kecamatan Kemangkon bisa berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Krisis air bersih di Desa Bokol berdampak pada setidaknya 55 rumah tangga.
Meskipun terdapat program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di wilayah tersebut, aliran air dari program tersebut tidak dapat berjalan dengan optimal.
“Saat ini warga yang mengalami krisis air masih ada yang memanfaatkan Pamsimas. Namun karena Pamsimas desa, terbatas penggunaannya,” tambah Dedhy Kurniawan.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purbalingga, Ir Prayitno MSi menjelaskan bahwa prosedur untuk mendapatkan bantuan air bersih harus diajukan melalui surat resmi dan dilengkapi dengan fakta-fakta lapangan yang mendukung kondisi darurat tersebut.
“Kami akan tindak lanjuti permintaan bantuan itu. Sembari menjadwalkan pengiriman pada saatnya,” ujar Prayitno.
Mekanisme ini dirancang agar bantuan dapat didistribusikan secara tepat sasaran sesuai jadwal pengiriman.
Pemerintah Kabupaten Purbalingga sendiri telah berkomitmen untuk mengatasi permasalahan krisis air bersih ini dengan menyalurkan lebih dari 2,5 juta liter air setiap tahunnya ke desa-desa terdampak.
Menjelang puncak musim kemarau, permintaan bantuan air bersih cenderung meningkat dan merata hampir di seluruh kecamatan dengan beberapa desa dalam kondisi rentan terhadap kekeringan.
Kondisi seperti ini bukanlah hal baru bagi pemerintah daerah dan masyarakat setempat karena kemarau panjang sering kali membawa tantangan tersendiri terkait ketersediaan sumber daya alam vital seperti air bersih.
Oleh karena itu upaya penanggulangan krisis melalui langkah-langkah preventif dan responsif menjadi penting agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi dan dampak negatif dari kemarau dapat diminimalisir.
Dalam jangka panjang pemerintah bersama masyarakat juga didorong untuk mencari solusi alternatif guna memastikan pasokan air tetap terjaga meski dalam kondisi cuaca ekstrem sekalipun.
Salah satu pendekatan yang mulai diterapkan adalah pembangunan infrastruktur penampungan air hujan serta pemanfaatan teknologi pengolahan air untuk memastikan keberlanjutan pasokan dalam menghadapi berbagai tantangan iklim.
Dengan adanya langkah-langkah strategis tersebut harapannya adalah ketahanan masyarakat terhadap ancaman krisis air semakin kuat sehingga dampak sosial ekonomi akibat kekurangan pasokan dapat ditekan seminimal mungkin terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah rawan seperti Desa Bokol.
Pemerintah dan masyarakat dituntut bekerja sama dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya konservasi serta efisiensi penggunaan sumber daya untuk masa depan yang lebih baik. (amr/stch)
















