BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Program The Development of Integrated Farming System in Upland Areas (UPLAND), yang telah berjalan selama lima tahun, resmi akan berakhir pada tahun 2026.
Program yang didanai oleh International Fund for Agricultural Development (IFAD) ini memiliki tujuan untuk mendukung pengembangan pertanian di dataran tinggi Banjarnegara.
Dengan berakhirnya program ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banjarnegara kini mulai mempersiapkan strategi agar seluruh bantuan dan infrastruktur yang telah dibangun tetap memberikan manfaat berkelanjutan bagi para petani.
Pentingnya keberlanjutan program ini menjadi fokus dalam sebuah Focus Group Discussion (FGD) yang digelar pada hari Selasa, 30 Juni 2026, di Banjarnegara.
Dalam forum tersebut, Sekretaris Daerah Banjarnegara, Hendro Cahyono, menegaskan bahwa meskipun pendanaan program akan berakhir, manfaat dari program tidak seharusnya ikut berhenti.
“Program ini memang selesai pada 2026, tetapi manfaatnya tidak boleh ikut selesai. Kami mengajak seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan pemangku kepentingan untuk bersama-sama menyusun langkah nyata agar hasil yang sudah dicapai dapat terus berlanjut,” ungkap Hendro.
Dalam diskusi tersebut, Hendro menjelaskan bahwa sejumlah bantuan yang telah diterima oleh petani mencakup berbagai aspek, mulai dari pembangunan infrastruktur pertanian, penerapan teknologi pertanian modern, hingga penguatan kelembagaan yang menjadi pondasi penting dalam sistem pertanian yang terintegrasi.
“Kami berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, kelompok tani, lembaga keuangan, dan pelaku usaha dapat terus terjalin untuk memastikan semua fasilitas dan teknologi yang telah dibangun tetap dimanfaatkan,” tambahnya.
Elsafina, Tenaga Ahli Kelembagaan dari Project Management Unit (PMU) UPLAND juga turut memberikan pandangannya.
Menurutnya, program ini tidak hanya sekadar memberikan bantuan sarana produksi seperti benih dan pupuk, tetapi juga membangun sistem pertanian yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Hal ini mencakup penyediaan alat mesin pertanian, sumur bor untuk irigasi, pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT), gudang penyimpanan hasil panen, serta armada angkut untuk distribusi hasil pertanian.
“Yang perlu dipikirkan sekarang adalah bagaimana teknologi, infrastruktur, dan kelembagaan yang sudah dibangun ini tetap berjalan setelah program resmi ditutup,” jelas Elsafina.
Ia menambahkan bahwa program UPLAND seharusnya tidak hanya berhenti pada pencapaian fisik semata tetapi harus ada rencana jangka panjang untuk keberlanjutan manfaat bagi masyarakat petani di Banjarnegara.
Program UPLAND awalnya direncanakan akan berakhir pada tahun 2024.
Namun karena adanya penundaan kegiatan akibat pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak awal tahun 2020 lalu, maka masa berlaku program ini diperpanjang hingga tahun 2026.
Penundaan tersebut memberikan tantangan tersendiri bagi pihak-pihak terkait dalam menyelesaikan semua kegiatan yang direncanakan.
Sementara itu, Novianto Kusuma Wijaya selaku Sekretaris Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Banjarnegara menjelaskan bahwa pemerintah daerah saat ini tengah merumuskan dokumen Exit Strategy sebagai pedoman untuk memastikan keberlanjutan program setelah pendanaan UPLAND berakhir.
“Dokumen ini sangat penting untuk memastikan bahwa seluruh intervensi program yang telah dilakukan di delapan kecamatan dan 33 desa penerima manfaat tetap berjalan dengan baik dan terus dipantau meskipun pendanaan dari UPLAND telah berakhir,” ungkap Novianto.
Dia menekankan bahwa dokumen exit strategy tersebut akan menjadi acuan bagi semua pihak dalam menjaga kelangsungan setiap aspek dari program UPLAND.
Ini termasuk bagaimana cara memanfaatkan infrastruktur pertanian yang telah ada dan mengoptimalkan penggunaan teknologi serta sumber daya manusia yang sudah dilatih selama pelaksanaan program.
Keberhasilan program UPLAND di Banjarnegara adalah gambaran konkret tentang bagaimana sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dapat mendorong kemajuan sektor pertanian di daerah terpencil sekalipun.
Dengan adanya dukungan dari IFAD melalui dana yang dialokasikan untuk proyek ini, petani di wilayah dataran tinggi mendapatkan akses kepada teknologi modern serta pelatihan yang dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian mereka. (jud/stch/dda)














