Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Pencairan JHT BPJS Ketenagakerjaan di Bawah 50 Juta Bebas Pajak, Ini Aturan Terbarunya
Wisata Jepang Dibatasi, Taman Monyet Salju Jigokudani Terapkan Kuota Pengunjung Mulai Agustus 2026

Wisata Jepang Dibatasi, Taman Monyet Salju Jigokudani Terapkan Kuota Pengunjung Mulai Agustus 2026

Taman Monyet Salju Batasi PengunjungTaman Monyet Salju Batasi Pengunjung
BERENDAM: monyet salju Jepang berendam di mata air panas

BANYUMASEKSPRES.ID, TOKYO – Taman Jigokudani Yaen-Koen yang terletak di Prefektur Nagano, Jepang, dikenal sebagai salah satu destinasi wisata paling ikonik di negara tersebut, terutama berkat atraksi unik monyet salju yang berendam di mata air panas.

Namun, mulai Agustus 2026, taman ini akan memberlakukan pembatasan jumlah pengunjung harian.

Keputusan ini diambil oleh pengelola taman sebagai respons terhadap lonjakan pengunjung yang signifikan dan perilaku tidak tertib yang ditunjukkan oleh sebagian wisatawan.

Dalam beberapa tahun terakhir, taman ini mengalami peningkatan jumlah pengunjung yang sangat drastis, dengan rata-rata kedatangan antara tiga ribu hingga empat ribu orang setiap hari.

Angka ini menunjukkan betapa populernya Jigokudani Yaen-Koen di kalangan wisatawan domestik maupun mancanegara.

Namun, dengan popularitas yang semakin meningkat, timbul berbagai masalah terkait kepadatan dan perilaku pengunjung yang mengganggu ekosistem satwa liar di lokasi tersebut.

Untuk mengatasi masalah ini dan menjaga kelestarian lingkungan serta kesejahteraan monyet salju, pengelola telah memutuskan untuk menerapkan sistem pembelian tiket secara daring.

Rencana ini bertujuan membatasi jumlah kunjungan menjadi maksimal dua ribu orang setiap hari.

Seorang pejabat dari pengelola taman menyatakan bahwa antrean panjang di loket tiket menjadi salah satu alasan utama diterapkannya kebijakan baru ini.

“Kami telah melihat antrean pengunjung yang sangat panjang menunggu di luar loket tiket. Untuk mengurangi hal itu, kami akan meminta mereka membeli tiket terlebih dahulu secara online,” ujarnya.

Sementara itu, fenomena overtourism juga turut menjadi perhatian serius bagi pihak pengelola.

Selain masalah antrean panjang, mereka juga mencatat adanya peningkatan perilaku tidak tertib dari sebagian pengunjung.

Beberapa wisatawan diketahui mencoba memberi makan monyet-monyet liar, menyentuh mereka, bahkan mandi bersama hewan-hewan tersebut.

Tindakan ini jelas bertentangan dengan prinsip konservasi dan dapat membahayakan baik bagi monyet maupun para pengunjung itu sendiri.

Melalui laman resmi mereka, pengelola menjelaskan bahwa pada hari-hari musim dingin yang dingin dan bersalju, banyak monyet terlihat berendam di mata air panas.

Beberapa dari mereka menghabiskan waktu berjam-jam dalam air hangat tersebut. Fenomena alami ini bukan hanya menarik perhatian wisatawan tetapi juga menjadi bagian penting dari ekosistem lokal yang harus dijaga dan dilestarikan.

Kondisi serupa dengan apa yang terjadi di Jigokudani Yaen-Koen juga terlihat di banyak tempat wisata lainnya di Jepang.

Data menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2025, Jepang menerima sekitar 42,7 juta wisatawan mancanegara, angka tertinggi dalam sejarah pariwisata negara itu.

Lonjakan jumlah kunjungan ini memberikan dampak signifikan terhadap berbagai tujuan wisata populer lainnya seperti Kyoto dan Fujiyoshida.

Di sana juga terjadi kemacetan lalu lintas akibat banyaknya kendaraan wisatawan serta peningkatan volume sampah yang harus dikelola oleh pemerintah setempat.

Dalam konteks ini, penting untuk menyadari bahwa pariwisata yang tidak terkelola dengan baik dapat menyebabkan kerusakan lingkungan dan pengalaman buruk bagi para pengunjung lainnya.

Oleh karena itu, langkah-langkah seperti pembatasan pengunjung di Jigokudani Yaen-Koen sangat diperlukan untuk memastikan bahwa keindahan alam serta keunikan budaya tetap terjaga.

Pengelolaan pariwisata berkelanjutan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah daerah, pemilik usaha lokal dan para wisatawan sendiri.

Dalam hal ini, edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga jarak dari satwa liar dan memahami batasan-batasan interaksi dengan mereka adalah kunci untuk menciptakan lingkungan wisata yang sehat dan aman.

Keputusan untuk menerapkan pembatasan jumlah pengunjung harian di Taman Jigokudani Yaen-Koen adalah langkah proaktif dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dari sektor pariwisata dan perlindungan terhadap ekosistem lokal.

Ini adalah contoh bagaimana destinasi wisata dapat beradaptasi dengan tantangan modern sambil tetap mempertahankan daya tariknya. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Pencairan Saldo JHT Bebas Pajak

Pencairan JHT BPJS Ketenagakerjaan di Bawah 50 Juta Bebas Pajak, Ini Aturan Terbarunya