BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Kondisi pasar di Purwokerto saat ini tengah mengalami penurunan yang signifikan dalam permintaan, terutama setelah libur sekolah yang bersamaan dengan penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Fenomena ini berimbas pada harga sejumlah kebutuhan pokok di Pasar Wage Purwokerto, yang mengalami penurunan drastis.
Harga komoditas seperti ayam, telur, sayuran, cabai, hingga buah-buahan terlihat anjlok, menciptakan tantangan tersendiri bagi para pedagang.
Dalam pantauan yang dilakukan di Pasar Wage Purwokerto pada Selasa (30/6), hampir seluruh jenis komoditas pangan dijual dengan harga yang lebih murah dibandingkan sebelum masa libur sekolah.
Meskipun penurunan harga ini memberikan keuntungan bagi para pembeli, situasi tersebut menjadi keluhan tersendiri bagi para pedagang.
Hal ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan di pasar.
Sudi, seorang pedagang ayam potong, menjelaskan bahwa saat ini harga ayam telah turun menjadi Rp32 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp36 ribu per kilogram.
Menurutnya, situasi ini disebabkan oleh stok ayam yang melimpah namun tidak diimbangi dengan tingginya permintaan dari konsumen.
“Stok melimpah. MBG ikut libur, mungkin karena Bulan Sura juga, hajatan tidak ada. Permintaan turun, jadi harga ikut turun,” ungkapnya.
Kondisi serupa juga dialami oleh para pedagang sayuran. Asih, seorang pedagang sayur, mengungkapkan bahwa hampir seluruh jenis sayuran mengalami penurunan harga hingga 50 persen akibat dari stok yang melimpah dan berkurangnya jumlah pembeli.
“Sejak libur sekolah, MBG libur ditambah Bulan Sura, harga sayuran anjlok semua. Stok melimpah tetapi pembeli berkurang. Sayur yang tidak laku kadang dibuang, kalau punya ternak dijadikan pakan. Kami sudah terlanjur kulakan banyak, ternyata MBG dan hajatan sama-sama libur,” jelasnya.
Penurunan harga juga terlihat pada komoditas telur. Tiah, seorang pedagang telur, menyatakan bahwa harga telur eceran kini berada di angka Rp22 ribu per kilogram.
Sementara itu, harga di tingkat pedagang besar sekitar Rp20 ribu per kilogram.
Menurutnya, penurunan harga ini terjadi sejak masuknya Bulan Sura karena banyak hajatan yang dibatalkan atau ditunda.
Tidak hanya itu, sejumlah buah-buahan juga mengalami penurunan harga yang signifikan.
Fiki, seorang pedagang buah, menjelaskan bahwa harga semangka turun dari Rp15 ribu menjadi Rp12 ribu per kilogram.
Buah naga dan melon pun mengalami penurunan sekitar 20 hingga 30 persen.
“Kalau mangga dan jeruk masih stabil. Buah impor justru naik karena pengaruh nilai tukar dolar,” imbuhnya.
Sementara itu, untuk cabai rawit merah saat ini berada di kisaran Rp35 ribu hingga Rp36 ribu per kilogram atau menurun dari sebelumnya sekitar Rp40 ribu per kilogram.
Agus selaku pedagang cabai menjelaskan bahwa cuaca yang mendukung saat ini membuat hasil panen cabai melimpah sehingga menyebabkan harga ikut turun.
“Cuaca bagus membuat banyak tanaman cabai panen. Kalau musim hujan biasanya harga bisa naik drastis,” ujarnya.
Menyikapi turunnya harga kebutuhan pokok ini, masyarakat pun menyambut baik kondisi tersebut ketika mereka berbelanja di pasar.
Salah satu pembeli bernama Puji mengungkapkan rasa syukurnya karena dapat membeli lebih banyak bahan kebutuhan rumah tangga dengan anggaran yang sama dibandingkan sebelumnya.
“Dengan uang Rp50 ribu sekarang bisa dapat lebih banyak sayuran dan bahan pokok lainnya. Semoga harga seperti ini terus berlangsung jadi bisa lebih hemat dan sisanya bisa dipakai untuk kebutuhan anak sekolah maupun kebutuhan lainnya,” harapnya.
Kondisi ini mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh para pedagang di tengah fluktuasi harga dan permintaan pasar yang tidak stabil.
Sementara masyarakat merasakan dampak positif dari turunnya harga kebutuhan pokok tersebut dengan kemampuan membeli yang lebih banyak, para pedagang harus memikirkan strategi untuk bertahan dalam situasi sulit seperti ini.
Dari sisi ekonomi lokal, penurunan permintaan selama periode libur sekolah dan Bulan Sura menciptakan dampak negatif terhadap pendapatan para pedagang kecil di Pasar Wage Purwokerto.
Hal ini menunjukkan pentingnya keberlanjutan program-program pemerintah seperti MBG dalam mendukung para pedagang dan memastikan ketersediaan makanan bergizi bagi masyarakat.
Secara keseluruhan, fenomena turunnya harga kebutuhan pokok di Pasar Wage Purwokerto merupakan gambaran nyata dari dinamika ekonomi lokal yang dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk kebijakan pemerintah dan perilaku masyarakat dalam berbelanja selama periode tertentu seperti liburan sekolah atau tradisi keagamaan. (*/stch/dda)
















