Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Transisi Energi di Dieng Jadi Perhatian, Warga Soroti Dugaan Penurunan Kualitas Air Bersih

Pengembangan Geothermal Dieng Jadi SorotanPengembangan Geothermal Dieng Jadi Sorotan
DIALOG: Astin Meiningsih, koordinator program solidaritas Kita Institut menyampaikan informasi sosial yang terjadi di wilayah Dieng

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Pengembangan energi panas bumi (geothermal) di kawasan Dieng, Kabupaten Banjarnegara, kembali menjadi perhatian berbagai kalangan.

Sejumlah aktivis, mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, hingga pemerhati lingkungan menilai bahwa pengembangan energi bersih harus berjalan beriringan dengan penyelesaian persoalan sosial dan lingkungan yang masih dirasakan masyarakat di sekitar wilayah operasional Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).

Isu tersebut mengemuka dalam kegiatan Gelar Lingkar Belajar Transisi Energi Banjarnegara yang diselenggarakan oleh Kita Institute di Saung Bu Mansyur, Parakacanggah, Kamis (16/7/2026).

Forum ini mengangkat tema Peningkatan Partisipasi Masyarakat dan Kualitas Pelayanan Publik di Wilayah Geothermal, dengan tujuan memperkuat dialog antara masyarakat, organisasi sipil, dan para pemangku kepentingan.

Koordinator Program Solidaritas Kita Institute, Astin Meiningsih, menegaskan bahwa forum tersebut bukan merupakan bentuk penolakan terhadap keberadaan PLTP maupun pengembangan energi panas bumi.

Sebaliknya, kegiatan itu bertujuan mendorong terciptanya transisi energi yang adil, inklusif, dan memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat.

Menurut Astin, pengembangan energi terbarukan memang menjadi kebutuhan penting dalam menghadapi perubahan iklim dan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

Namun, keberhasilan transisi energi tidak hanya diukur dari peningkatan kapasitas pembangkit listrik, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat sekitar memperoleh manfaat serta dilibatkan dalam setiap proses pembangunan.

“Ini bukan dalam rangka menolak keberadaan PLTP, tetapi bagaimana transisi energi harus berjalan secara berkeadilan. Salah satunya melalui pelibatan masyarakat secara penuh,” ujarnya.

Salah satu persoalan yang masih menjadi perhatian adalah dugaan perubahan kualitas sumber air di sejumlah wilayah sekitar kawasan geothermal.

Berdasarkan berbagai informasi yang diterima dari masyarakat, terdapat keluhan mengenai kondisi air yang mengalami perubahan karakteristik sehingga tidak lagi layak dimanfaatkan seperti sebelumnya.

Astin menjelaskan bahwa sebagian warga mengaku merasakan perubahan kualitas air menjadi lebih asin maupun lebih asam.

Bahkan, di beberapa lokasi, sumber air disebut tidak lagi dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Akibat kondisi tersebut, sejumlah warga harus mencari sumber air bersih di lokasi yang lebih jauh.

Situasi ini tentu menambah beban masyarakat, terutama bagi keluarga yang selama ini mengandalkan mata air di sekitar permukiman sebagai sumber utama kebutuhan rumah tangga.

“Ada masyarakat yang merasakan perubahan kualitas air menjadi asin dan asam, bahkan di beberapa lokasi sudah tidak bisa dimanfaatkan. Akibatnya warga harus mencari sumber air bersih yang lokasinya cukup jauh,” kata Astin.

Meski demikian, dalam forum tersebut belum disampaikan hasil kajian ilmiah yang menyimpulkan hubungan sebab-akibat antara aktivitas geothermal dengan perubahan kualitas air.

Oleh karena itu, berbagai pihak mendorong agar persoalan tersebut dikaji secara komprehensif melalui penelitian yang transparan dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Selain persoalan lingkungan, forum juga membahas pentingnya meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan terkait pengembangan energi panas bumi.

Menurut peserta diskusi, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan proyek harus memperoleh ruang untuk menyampaikan aspirasi, menerima informasi yang jelas, serta terlibat dalam proses perencanaan maupun evaluasi program.

Moh Dimas Adji Saputra dari Kita Institute mengatakan forum tersebut menjadi wadah konsolidasi berbagai organisasi masyarakat sipil untuk memperkuat advokasi kebijakan sekaligus membangun komunikasi yang lebih terbuka antara masyarakat dengan penyelenggara layanan publik.

Ia menilai komunikasi yang baik akan membantu mengurangi kesalahpahaman sekaligus menciptakan penyelesaian masalah yang lebih efektif.

Dengan adanya dialog yang terbuka, berbagai persoalan yang muncul dapat dibahas bersama berdasarkan data, fakta, dan kepentingan masyarakat.

Transisi menuju energi terbarukan, termasuk melalui pengembangan geothermal, merupakan bagian dari upaya Indonesia mencapai target pengurangan emisi karbon dan meningkatkan ketahanan energi nasional.

Namun, pelaksanaannya diharapkan tetap memperhatikan aspek sosial, lingkungan, serta kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan proyek.

Karena itu, berbagai elemen masyarakat berharap pemerintah, pengelola proyek, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil dapat terus membangun kolaborasi dalam memastikan pengembangan energi panas bumi berlangsung secara berkelanjutan.

Melalui pendekatan yang transparan, partisipatif, dan berbasis kajian ilmiah, pengembangan geothermal di kawasan Dieng diharapkan mampu menjadi contoh penerapan transisi energi yang tidak hanya mendukung kebutuhan listrik nasional, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitar wilayah operasional. (jud/stch/dda)

Berita Sebelumnya
B50 Tak Merusak Mesin Kendaraan Diesel

Biodiesel B50 Dipastikan Aman untuk Mesin Diesel, Menteri ESDM Ungkap Hasil Pengujian Bertahun-Tahun

Berita Selanjutnya
Baru Empat Ruas Rampung

Progres Program Alus Dalane Purbalingga Baru 22 Persen, 14 Ruas Jalan Masih Dikerjakan