BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Banyumas mulai mematangkan persiapan menghadapi Pekan Paralympic Pelajar Daerah (PEPARPEDA) Jawa Tengah 2026.
Sebanyak 18 atlet pelajar penyandang disabilitas dipersiapkan untuk mewakili Banyumas pada ajang olahraga pelajar disabilitas tingkat provinsi yang akan digelar di Surakarta pada 21–23 Agustus 2026.
Kontingen Banyumas menargetkan mampu menembus peringkat 10 besar dalam klasemen akhir.
Untuk mewujudkan target tersebut, NPCI Banyumas mulai mengintensifkan berbagai persiapan, mulai dari pembinaan atlet, penyusunan strategi pertandingan, hingga pemenuhan kebutuhan teknis menjelang keberangkatan.
Sebagai langkah awal, seluruh atlet yang akan berlaga dikumpulkan dalam pertemuan yang berlangsung pada Kamis (16/7).
Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memastikan kesiapan atlet sekaligus menyamakan strategi dalam menghadapi kompetisi.
Ketua NPCI Banyumas, Drs. Suwondo, mengatakan bahwa persiapan kontingen tidak hanya difokuskan pada aspek administrasi maupun kelengkapan pertandingan, tetapi juga pada peningkatan kemampuan atlet melalui program latihan yang lebih intensif.
“Ada 18 atlet yang kami kirim, di empat cabang olahraga, yakni atletik, renang, bulutangkis, dan tenis meja,” ujarnya.
Keempat cabang olahraga tersebut diharapkan mampu menjadi penyumbang prestasi bagi Banyumas pada PEPARPEDA Jawa Tengah 2026.
Meski demikian, Suwondo mengakui persiapan kontingen saat ini baru mencapai sekitar 60 persen.
Salah satu kendala yang dihadapi adalah belum meratanya intensitas latihan para atlet.
Hal itu disebabkan sebagian atlet berasal dari sejumlah wilayah berbeda, seperti Ajibarang, Sokaraja, dan Rawalo, sehingga belum dapat mengikuti latihan rutin setiap hari bersama atlet NPCI lainnya.
“Yang jelas atlet sudah kami panggil. Selanjutnya latihan akan kami rutinkan setiap hari dan kami koordinasi dengan dinas untuk penggunaan venue sesuai jadwal yang memungkinkan,” kata Suwondo, Jumat (17/7).
Selain lokasi tempat tinggal atlet yang tersebar, pengaturan jadwal latihan juga menjadi tantangan tersendiri.
Seluruh atlet yang tergabung dalam kontingen Banyumas masih berstatus sebagai pelajar aktif sehingga jadwal latihan harus disesuaikan dengan kegiatan belajar di sekolah agar tidak mengganggu proses pendidikan mereka.
Di sisi lain, persoalan anggaran juga menjadi tantangan yang harus dihadapi NPCI Banyumas.
Suwondo menjelaskan bahwa dukungan pembiayaan dari pemerintah provinsi hanya mencakup lima atlet dan dua pelatih, sementara Banyumas akan mengirimkan total 18 atlet.
Akibatnya, biaya akomodasi, penginapan, konsumsi, transportasi, dan berbagai kebutuhan peserta di luar kuota tersebut harus ditanggung oleh NPCI Banyumas.
Kondisi ini membuat pengurus harus mencari berbagai alternatif pendanaan agar seluruh atlet tetap dapat mengikuti kejuaraan tanpa terkendala biaya.
“Ini memang menjadi tantangan kami. Kami akan berusaha mencari solusi agar pembiayaannya tidak terlalu besar. Bantuan dari pemerintah daerah juga terbatas, jadi kami tetap bersyukur dan berikhtiar semoga semua kebutuhan bisa terpenuhi,” jelasnya.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, semangat para atlet maupun pengurus tetap tinggi.
NPCI Banyumas optimistis seluruh atlet mampu memberikan penampilan terbaik dan membawa pulang prestasi membanggakan bagi Kabupaten Banyumas.
Dengan persiapan yang terus dimatangkan selama beberapa pekan ke depan, kontingen Banyumas berharap mampu bersaing dengan daerah lain di Jawa Tengah sekaligus mencapai target masuk 10 besar PEPARPEDA Jawa Tengah 2026.
Ajang ini juga diharapkan menjadi wadah bagi atlet pelajar penyandang disabilitas untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka sekaligus menjadi langkah awal menuju kompetisi olahraga disabilitas yang lebih tinggi di tingkat nasional. (zet/stch/dda)
















