BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Di tengah kemunculan berbagai makanan modern dan kekinian, kue sagon tetap menjadi salah satu oleh-oleh khas Kabupaten Kebumen yang tidak hanya dikenal masyarakat lokal, tetapi juga dicari oleh para wisatawan.
Makanan tradisional ini sering dihidangkan sebagai camilan saat momen Lebaran, menambah kehangatan suasana perayaan.
Kue sagon memiliki cita rasa yang unik, menggabungkan manis dan gurih dalam setiap gigitannya, sehingga menjadikannya favorit bagi banyak orang.
Di lokasi produksi yang terletak di Dukuh Karangputat, Desa Pekuwon, Kecamatan Adimulyo, aktivitas membuat kue sagon berlangsung dengan dinamis.
Sejumlah pekerja tampak sigap mencetak adonan kue sagon ke dalam loyang berbentuk persegi panjang.
Setelah proses pencetakan, adonan tersebut dipanggang menggunakan oven hingga matang sempurna.
Proses ini merupakan bagian penting dari tradisi kuliner Kebumen yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Sri Riyanti (51), pemilik usaha kue sagon tersebut, berbagi cerita bahwa ia mulai menjalankan usaha kue sagon sejak tahun 2006.
Sri mengambil alih usaha ini dari ibunya yang telah merintis bisnis kue sagon sejak tahun 1980.
“Saya sejak tahun 2006 meneruskan usaha almarhumah ibu yaa, kalau berdirinya sejak 1980,” ungkapnya dengan penuh rasa bangga.
Permintaan terhadap kue sagon mengalami lonjakan signifikan menjelang Ramadan dan Lebaran.
Meski demikian, Sri menegaskan bahwa pesanan tetap ada bahkan di hari-hari biasa.
“Untuk menyambut momen tersebut, saya sudah mulai meningkatkan produksi sejak bulan lalu,” tambahnya.
Dengan bantuan sembilan pekerja terampil, Sri mampu memproduksi sekitar 690 bungkus ukuran 300 gram setiap kali produksi. Produksi dilakukan setiap dua hari sekali untuk memenuhi permintaan pasar.
Dalam satu kali produksi, Sri mengungkapkan bahwa ia menghabiskan sekitar 140 kilogram beras ketan, 70 kilogram gula pasir, serta 140 butir kelapa.
“Proses dari awal butuh waktu dua hari, setiap kali produksi membutuhkan 150 kiligram beras ketan, 70 kilogram gula pasir, dan 140 butir kelapa,” jelasnya lebih lanjut.
Kegiatan pemasaran kue sagon juga menjadi perhatian penting dalam bisnis ini.
Sri biasanya menjual produknya di Pasar Karanganyar yang merupakan salah satu pusat keramaian dan perdagangan di daerah Kebumen.
Selain itu, terdapat sejumlah sales yang datang langsung ke lokasi produksinya untuk membeli kue sagon dan kemudian memasarkan kembali ke berbagai toko oleh-oleh di sekitarnya.
Pemasaran secara langsung ini memberikan keuntungan bagi Sri dan timnya karena bisa menjalin hubungan baik dengan pelanggan serta mendapatkan umpan balik langsung mengenai produk mereka.
Hal ini tentu saja menjadi salah satu strategi penting dalam mempertahankan kualitas dan cita rasa kue sagon agar tetap sesuai dengan harapan konsumen.
Kue sagon sendiri terbuat dari bahan-bahan alami yang memberikan cita rasa khas dan unik.
Bahan utamanya adalah beras ketan yang dipadukan dengan gula pasir dan kelapa parut segar.
Proses pembuatan kue ini cukup tradisional tetapi tetap memperhatikan kebersihan dan kualitas bahan baku agar hasilnya memuaskan.
Bagi masyarakat Kebumen, kue sagon bukan hanya sekedar camilan atau oleh-oleh.
Kue ini memiliki makna emosional yang mendalam karena sering kali dihidangkan saat perayaan serta berkumpul bersama keluarga besar.
Kue sagon menjadi simbol kebersamaan dan tradisi yang terus dilestarikan walaupun zaman terus berubah.
Keberadaan makanan tradisional seperti kue sagon menjadi sangat penting dalam konteks budaya lokal.
Di tengah gempuran makanan modern yang lebih praktis dan cepat saji, keberadaan kue sagon menunjukkan bahwa makanan tradisional masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia.
Tentu saja hal ini juga mencerminkan betapa kaya dan beragamnya kuliner Indonesia yang sangat patut untuk diperkenalkan kepada generasi mendatang.
Sebagai bagian dari usaha mempertahankan tradisi kuliner ini, Sri berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas produknya tanpa melupakan nilai-nilai tradisional yang mendasarinya.
Ia berharap agar generasi muda dapat mengenal dan mencintai kue sagon serta makanan tradisional lainnya sebagai bagian dari warisan budaya bangsa.
Kehadiran makanan tradisional seperti kue sagon bukan sekadar soal rasa tetapi juga menggambarkan identitas suatu daerah.
Dalam hal ini, Kebumen berhasil mempertahankan ciri khas kulinernya meskipun berada dalam era modernisasi yang sangat cepat berubah.
Dengan menjaga kualitas serta menghadirkan inovasi tanpa menghilangkan esensi asli dari produk tersebut, Sri dan timnya berupaya menunjukkan bahwa kue sagon adalah bagian tak terpisahkan dari kebudayaan Kebumen. (mam/stch/dda)
















