BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Produksi minyak nilam di Kabupaten Purbalingga mengalami peningkatan signifikan sepanjang 2025.
Berdasarkan data Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DPPP) Kabupaten Purbalingga, produksi minyak nilam mencapai 95.950 kilogram, naik sekitar 71,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 55.900 kilogram.
Lonjakan produksi tersebut didorong oleh meningkatnya luas lahan budidaya nilam serta membaiknya harga jual daun nilam kering di tingkat petani.
Kondisi ini membuat komoditas yang sempat ditinggalkan karena harga rendah kembali diminati sebagai sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DPPP) Kabupaten Purbalingga, Prayitno, mengatakan luas tanam nilam meningkat dari 29 hektare pada 2024 menjadi 58 hektare pada 2025.
Menurutnya, kenaikan luas tanam dipengaruhi oleh membaiknya harga daun nilam kering yang kini berada pada kisaran Rp7.000 hingga Rp8.000 per kilogram.
“Sebelumnya harga pernah jatuh hanya Rp2.500 per kilogram daun kering, sehingga petani enggan menanam nilam. Saat ini harga semakin membaik pasca bencana alam di wilayah Aceh yang menjadi sentra tanaman nilam,” katanya, Senin (13/7/2026).
Ia menjelaskan, kondisi tersebut kembali membangkitkan minat petani untuk mengembangkan budidaya nilam sebagai salah satu komoditas perkebunan unggulan di Purbalingga.
Saat ini, sentra budidaya nilam tersebar di beberapa kecamatan, yakni Karangreja seluas 23 hektare, Kutasari 14 hektare, Karangjambu 12,5 hektare, Rembang 5 hektare, serta Karangmoncol 4 hektare.
Mayoritas petani membudidayakan varietas Sidikalang, yang dikenal memiliki kandungan minyak berkualitas tinggi sekaligus lebih tahan terhadap serangan penyakit dibandingkan varietas lainnya.
Selain didukung petani, pengembangan nilam di Purbalingga juga mendapat dukungan dari sektor swasta.
Salah satunya melalui PT Indika Nature yang menjalankan program Natura Aromatik Nusantara.
Program tersebut menargetkan pengembangan 10 hektare lahan inti dan 26,8 hektare lahan kemitraan yang melibatkan sekitar 70 petani.
Melalui program tersebut, perusahaan menargetkan produksi mencapai 1.500 kilogram minyak nilam.
Perkembangan positif komoditas nilam di Purbalingga turut menarik perhatian Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas).
Tim Bappenas yang dipimpin Direktur Koperasi dan UMKM, Mahatmi Prawitasari Saronto, melakukan kunjungan langsung ke Purbalingga untuk mengkaji potensi pengembangan budidaya sekaligus hilirisasi minyak nilam.
Menurut Mahatmi, Purbalingga dipilih karena memiliki potensi produksi yang terus meningkat serta kualitas minyak nilam yang diminati pasar internasional.
“Kami memilih wilayah Purbalingga karena produksi nilamnya bagus dan menjadi incaran konsumen dari Swiss maupun negara lain,” ujarnya.
Ia menambahkan, Indonesia saat ini menjadi pemasok sekitar 90 persen kebutuhan minyak nilam dunia, dengan nilai ekspor yang mencapai sekitar USD150 juta setiap tahun.
Besarnya pangsa pasar tersebut menjadikan minyak nilam sebagai salah satu komoditas strategis yang memiliki peluang besar untuk meningkatkan nilai tambah melalui pengembangan industri hilir.
Bappenas menilai penguatan hilirisasi tidak hanya akan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi petani dan pelaku usaha di daerah.
Dengan meningkatnya produksi, dukungan pemerintah, keterlibatan sektor swasta, serta tingginya permintaan pasar internasional, komoditas minyak nilam di Kabupaten Purbalingga dinilai memiliki prospek cerah untuk terus berkembang sebagai salah satu komoditas ekspor unggulan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat pedesaan. (tya/stch/dda)














