BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) di Kabupaten Banjarnegara pada musim tanam 2026 menunjukkan tren yang semakin membaik.
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan (Distankan KP) Banjarnegara mencatat serangan wereng batang cokelat (WBC), yang selama ini menjadi ancaman utama bagi tanaman padi, berhasil ditekan hingga 40–50 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Keberhasilan tersebut menjadi kabar baik bagi petani karena berpotensi menjaga produktivitas pertanian sekaligus mengurangi risiko gagal panen akibat serangan hama.
Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Bidang Tanaman Pangan Distankan KP Banjarnegara, Udin Prayitno, mengatakan penurunan serangan hama tidak terjadi secara kebetulan.
Menurutnya, hasil tersebut merupakan buah dari berbagai langkah antisipasi yang telah dilakukan pemerintah bersama para petani sejak awal musim tanam.
Salah satu strategi utama yang diterapkan adalah penyediaan buffer stock pestisida sehingga petugas dapat bergerak cepat ketika menerima laporan adanya serangan hama di lapangan.
“Begitu ada laporan serangan wereng dari petani, dapat langsung kami tangani,” ujar Udin.
Selain penyediaan stok pestisida, Distankan KP Banjarnegara juga secara rutin melaksanakan gerakan pengendalian (gerdal) di berbagai wilayah pertanian.
Program tersebut didukung pendanaan dari APBD Provinsi Jawa Tengah maupun APBN sehingga pelaksanaan pengendalian dapat dilakukan lebih luas dan berkelanjutan.
Menurut Udin, hingga saat ini wereng batang cokelat masih menjadi organisme pengganggu tumbuhan yang paling dominan menyerang tanaman padi di Banjarnegara.
Kemunculan hama tersebut umumnya dipengaruhi oleh perubahan musim serta pola migrasi wereng dari daerah pesisir menuju kawasan dengan dataran yang lebih tinggi.
Karena itu, pemerintah terus meningkatkan kewaspadaan meskipun tren serangan sudah mengalami penurunan cukup signifikan.
Program gerakan pengendalian tidak hanya menyasar tanaman padi, tetapi juga komoditas pertanian lainnya seperti jagung, cabai, hingga tanaman perkebunan.
Lokasi pelaksanaan disesuaikan dengan laporan serangan yang diterima petugas dari lapangan sehingga penanganan dapat dilakukan secara tepat sasaran.
Distankan KP Banjarnegara juga telah menyiapkan sejumlah agenda pengendalian lanjutan selama bulan Juli 2026.
Salah satunya adalah pengendalian hama penggerek batang cengkeh di Desa Pesangkalan, Kecamatan Pagedongan.
Selain itu, pemerintah daerah juga akan membangun 10 unit rumah burung hantu di Kecamatan Banjarmangu sebagai bagian dari pengendalian hama tikus secara alami.
Pemanfaatan burung hantu sebagai predator tikus dinilai lebih ramah lingkungan sekaligus mampu menekan penggunaan bahan kimia di lahan pertanian.
Di luar program pemerintah, gerakan pengendalian secara mandiri yang dilakukan kelompok tani juga terus mendapat dukungan dari Distankan.
Hingga pertengahan tahun 2026, kegiatan pengendalian swadaya tersebut telah menjangkau sekitar 396 hektare lahan pertanian di berbagai wilayah Banjarnegara.
Meski demikian, Udin mengingatkan bahwa tantangan terbesar dalam pengendalian organisme pengganggu tumbuhan masih berasal dari pola tanam yang belum dilakukan secara serempak oleh petani.
Menurutnya, perbedaan waktu tanam menyebabkan hama memiliki sumber makanan yang terus tersedia sehingga lebih mudah berpindah dari satu lahan ke lahan lainnya.
Kondisi tersebut membuat pengendalian menjadi lebih sulit meskipun berbagai program telah dijalankan.
“Kami terus mengimbau agar petani melakukan tanam serempak. Memang hama tetap ada, tetapi jumlahnya tidak sebanyak jika waktu tanam berbeda-beda,” jelasnya.
Selain menerapkan pola tanam serempak, petani juga diminta lebih aktif melakukan pemantauan kondisi tanaman di sawah.
Apabila ditemukan gejala awal serangan hama, petani diharapkan segera melaporkannya kepada petugas Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) setempat.
Langkah pelaporan sejak dini dinilai sangat penting karena memungkinkan petugas melakukan tindakan pengendalian lebih cepat sebelum serangan meluas dan menyebabkan kerugian yang lebih besar.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, petugas POPT, penyuluh pertanian, serta kelompok tani, Distankan KP Banjarnegara optimistis tren penurunan serangan organisme pengganggu tumbuhan dapat terus dipertahankan.
Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga produktivitas pertanian, meningkatkan hasil panen petani, serta memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Banjarnegara pada musim tanam 2026. (far/stch/dda)















