Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Puskesmas Bukateja Purbalingga Temukan 5 Kasus HPV, Waspada Risiko Kanker Serviks

Lima Kasus HPV Terdeteksi di BukatejaLima Kasus HPV Terdeteksi di Bukateja
DETEKSI DINI: Puskesmas Bukateja padukan IVA dan HPV DNA untuk deteksi dini kanker serviks

BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Puskesmas Bukateja mencatat adanya lima kasus positif Human Papillomavirus (HPV) dari hasil pemeriksaan yang dilakukan sepanjang tahun 2025.

Temuan ini menjadi sorotan penting dalam upaya deteksi dini kanker serviks, setelah penerapan metode skrining yang diperkuat dengan kombinasi dua teknik, yaitu Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) dan tes HPV DNA.

Metode baru ini diadopsi untuk melengkapi pemeriksaan IVA yang selama ini sudah digunakan secara luas dalam program pencegahan kanker serviks.

Dengan adanya tambahan uji DNA, deteksi risiko kanker serviks dapat dilakukan lebih dini dan dengan keakuratan yang lebih tinggi.

Koordinator IVA di Puskesmas Bukateja, Siti Nur Fatmah, menjelaskan bahwa spesimen pasien akan dikirim ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. Dr. Margono Soekarjo untuk analisis lanjutan.

Hasil dari pengujian DNA memungkinkan identifikasi subtipe virus serta potensi onkogenik yang dapat berkontribusi terhadap perkembangan kanker serviks di masa depan.

“Metodenya dikombinasi dengan HPV DNA. Dari situ diketahui hasilnya sampai tingkat DNA, misalnya subtipe onkogenik yang bisa memicu kanker 10-13 tahun kemudian,” ungkap Fatmah pada Minggu (3/5/2026).

Ia menambahkan bahwa hasil pemeriksaan IVA bisa diperoleh dengan cepat dalam waktu satu menit, sementara hasil dari tes HPV DNA memerlukan waktu sekitar satu bulan untuk diproses.

Dari data yang ada, pada tahun 2025 ditemukan lima kasus positif HPV yang langsung mendapatkan penanganan medis lanjutan.

Bagi pasien yang terdeteksi positif, salah satu metode penanganan yang diterapkan adalah cryotherapy.

Prosedur cryotherapy ini dilakukan dengan menggunakan gas nitrous oxide (N2O) yang dialirkan ke mulut rahim hingga membeku.

Tujuan dari proses ini adalah untuk merusak sel-sel abnormal sekaligus mengganti sel-sel tersebut agar tidak berkembang menjadi kanker.

Siti Nur Fatmah juga mengingatkan masyarakat untuk tidak panik jika hasil tes menunjukkan positif terhadap HPV.

Ia menekankan bahwa meskipun terinfeksi oleh virus HPV, hal ini tidak selalu berarti pasien akan menderita kanker serviks.

“Pasien tidak perlu khawatir atau tegang. HPV itu virus, jadi kalau positif belum tentu langsung divonis kanker,” tegasnya.

Kesehatan reproduksi perempuan merupakan isu penting yang harus mendapatkan perhatian lebih dari semua pihak, termasuk masyarakat dan tenaga kesehatan.

Penanganan kanker serviks secara dini sangat krusial karena dapat meningkatkan peluang kesembuhan dan kualitas hidup pasien.

Oleh karena itu, skrining rutin dan edukasi mengenai kesehatan reproduksi menjadi hal yang sangat diperlukan agar perempuan lebih sadar akan risiko penyakit ini.

Setelah tindakan cryotherapy dilakukan, Fatmah menjelaskan bahwa pasien tetap harus menjalani pemantauan lanjutan untuk memastikan kondisi kesehatan mereka tetap baik.

Pemeriksaan IVA ulang dijadwalkan enam bulan setelah tindakan cryotherapy guna mengevaluasi apakah ada perubahan atau perkembangan pada kesehatan pasien.

Kampanye penyuluhan mengenai pentingnya deteksi dini kanker serviks juga menjadi bagian dari strategi Puskesmas Bukateja dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang risiko dan pencegahan penyakit ini.

Dengan cara ini, diharapkan masyarakat memiliki pengetahuan yang cukup tentang kesehatan reproduksi mereka serta memahami langkah-langkah pencegahan yang bisa diambil. (alw/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Patroli Dini Hari, 26 Motor Disita

Aksi Balap Liar di Purwokerto Ditindak Tegas, 26 Kendaraan Diamankan Polisi

Berita Selanjutnya
Jelang Iduladha, Keterampilan Juleha Ditingkatkan

Minimalisir Kesalahan Kurban, Dinas Pertanian Cilacap Siapkan Pelatihan Juleha