Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Ribuan Warga Terdampak Bencana Tanah Bergerak di Tegal, Ini Penyebabnya

Fenomena Tanah Bergerak Terjadi di Tegal dan SemarangFenomena Tanah Bergerak Terjadi di Tegal dan Semarang
Fenomena Tanah Bergerak Terjadi di Tegal dan Semarang.

BANYUMASEKSPRES.ID, Bencana tanah bergerak di Kabupaten Tegal dan Kota Semarang, Jawa Tengah, menyebabkan ribuan warga terdampak dan terpaksa mengungsi. Fenomena pergerakan tanah tersebut mengakibatkan kerusakan rumah dan infrastruktur, serta menimbulkan kekhawatiran akan potensi bencana susulan.

Di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, tanah bergerak dilaporkan terus terjadi dan berdampak luas pada permukiman warga. Banyak rumah mengalami retakan hingga rusak berat sehingga tidak lagi layak huni.

Selain itu, sejumlah fasilitas umum dan infrastruktur desa turut terdampak. Akibat kondisi tersebut, warga terpaksa harus meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

Namun, keterbatasan sarana dan ketersediaan air bersih menjadi tantangan di sejumlah titik pengungsian, mengingat jumlah pengungsi yang terus bertambah.

2.453 Jiwa Mengungsi di Tegal

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga Minggu (8/2), jumlah pengungsi akibat tanah bergerak di Desa Padasari mencapai 2.453 jiwa. Data tersebut disampaikan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari.

Dari total pengungsi, terdapat 945 laki-laki dan 982 perempuan. BNPB juga mencatat adanya kelompok rentan di lokasi pengungsian, terdiri atas 220 lansia, tiga ibu hamil, tiga ibu menyusui, 179 anak-anak, 40 balita, dan 65 batita.

Para pengungsi saat ini tersebar di delapan titik, antara lain Majelis Az Zikir wa Rotibain, Majelis dan Dukuh Pengasinan, SD Negeri 2 Padasari, Dukuh Lebak RW 05, Gedung Serbaguna Desa Penujah, Pondok Pesantren Dawuhan Padasari, Dukuh Tengah Desa Tamansari, serta Desa Mokaha di Kecamatan Jatinegara.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyatakan tengah mengupayakan relokasi bagi warga yang rumahnya tidak dapat lagi ditempati. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan komitmen untuk memindahkan warga ke lokasi yang lebih aman.

Penyebab Fenomena Tanah Bergerak

Pemicu Terjadinya Fenomena Tanah Bergerak di Tegal
Pemicu Terjadinya Fenomena Tanah Bergerak di Tegal.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah Agus Sugiharto menjelaskan bahwa bencana tanah bergerak di Desa Padasari disebabkan oleh fenomena creeping atau rayapan tanah.

Berdasarkan hasil investigasi dan kajian geologi di lapangan, lapisan tanah di wilayah tersebut didominasi oleh jenis lempung (clay). Ketika tanah jenis ini terpapar air dalam jumlah besar akibat curah hujan tinggi, struktur tanah menjadi jenuh dan perlahan bergerak menuruni lereng.

Agus menegaskan bahwa creeping merupakan salah satu jenis pergerakan tanah yang terjadi secara bertahap dan sistemik pada wilayah yang memiliki kemiringan. Berbeda dengan likuifaksi, creeping tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan bergerak perlahan dalam jangka waktu tertentu.

Fenomena ini juga berbeda dengan likuifaksi yang dapat terjadi di lahan datar akibat perubahan struktur tanah dan kadar air. Menurutnya, creeping hanya terjadi di wilayah dengan kontur miring.

Kasus serupa sebelumnya juga pernah terjadi di beberapa daerah lain di Jawa Tengah, seperti Watukumpul di Kabupaten Pemalang dan Simo di Kabupaten Boyolali.

Tanah Bergerak di Semarang

Selain di Tegal, pergeseran tanah juga terjadi di Kampung Skip, Kota Semarang. Warga setempat mendirikan tenda pengungsian secara swadaya di depan mushala sebagai langkah antisipasi apabila hujan kembali turun dan memperparah kondisi tanah.

Pada dasarnya, curah hujan tinggi menjadi faktor utama pemicu tanah bergerak. Di tanah dengan kontur landai sekalipun, pergerakan bisa terjadi secara perlahan dan tidak selalu disadari oleh penghuni rumah.

Banyak warga yang tidak menyadari adanya pergerakan tanah di bawah bangunan karena prosesnya berlangsung bertahap. Retakan kecil pada dinding atau lantai kerap menjadi tanda awal yang sering diabaikan.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah saat ini tengah menyiapkan lokasi relokasi untuk warga terdampak di Tegal. Dua lokasi tanah milik Perhutani telah diidentifikasi sebagai kandidat tempat hunian tetap.

Namun, Agus Sugiharto menegaskan bahwa lokasi tersebut masih harus melalui kajian mendalam dan menyeluruh guna memastikan keamanannya. Pemerintah tidak ingin warga yang direlokasi kembali menghadapi risiko bencana serupa. (mwp)

Berita Sebelumnya
Empat Ekor Monyet Ekor Panjang Dilepasliarkan

KSDA Cilacap Lepasliarkan 4 Monyet Ekor Panjang ke Cagar Alam Nusakambangan Timur

Berita Selanjutnya
Paguyuban Kades Bodronolo Programkan Camat Award

Paguyuban Kades Bodronolo Luncurkan Camat Award Kebumen untuk Tingkatkan Akuntabilitas Dana Desa