Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Rupiah Melemah Tajam, Sentuh Rp17.300 per Dolar AS di Tengah Gejolak Global

Rupiah Tembus Rekor TerendahRupiah Tembus Rekor Terendah
ANJLOK: Nilai tukar rupiah mencatatkan rekor terendah sepanjang sejarah, yakni Rp17.300 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (23/4)

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali mengalami penurunan signifikan, mencatat rekor terendah sepanjang sejarah dengan menembus level Rp17.300 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan yang berlangsung pada Kamis, 23 April.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Bloomberg pada pukul 11.00 WIB, nilai rupiah berada di posisi Rp17.301 per dolar AS setelah melemah sebanyak 120 poin atau setara dengan 0,70 persen.

Angka tersebut melampaui rekor sebelumnya yang tercatat pada Jumat, 17 April, ketika rupiah sempat menyentuh angka Rp17.180 per dolar AS.

Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah disebabkan oleh kombinasi faktor eksternal dan internal yang cukup kompleks.

Dari sisi global, ketegangan geopolitik yang terjadi di Timur Tengah menjadi pemicu utama yang mempengaruhi pasar mata uang, termasuk rupiah.

Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan berjalan dengan sangat sulit setelah Iran tidak menghadiri pertemuan yang difasilitasi oleh Pakistan.

Ketegangan ini semakin meningkat dengan adanya langkah-langkah agresif dari AS, termasuk penangkapan kapal tanker Iran di Selat Hormuz.

“Di sisi lain pun Iran sudah menunjukkan kesiapan untuk menghadapi perang panjang dan mereka telah kehilangan kepercayaan terhadap Amerika,” ujar Ibrahim.

Ia menjelaskan bahwa proses perundingan semakin rumit karena ada dua permintaan dari pihak AS yang dianggap tidak dapat diterima oleh Iran.

Permintaan tersebut meliputi penghapusan tarif di Selat Hormuz dan penghentian pengayaan uranium yang diminta untuk dikelola oleh AS.

“Kedua hal ini kemungkinan besar tidak akan bisa diterima oleh Iran, karena itu adalah hak dan kewajiban suatu negara,” tandas Ibrahim, menambahkan bahwa intervensi dari pihak luar seperti Amerika hanya akan menambah ketegangan.

Dari perspektif domestik, tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga diperparah oleh kenaikan harga minyak mentah dunia.

Harga minyak Brent kini telah mencapai angka US$103 per barel, sementara minyak mentah WTI diperdagangkan di kisaran US$98 per barel.

Kondisi ini tentu saja berdampak langsung pada kebutuhan anggaran negara mengingat Indonesia masih mengandalkan impor sekitar 1,5 juta barel minyak setiap harinya dari total kebutuhan nasional sebesar 2,1 juta barel per hari.

Ibrahim juga menekankan pentingnya faktor lain yang berkontribusi terhadap pelemahan nilai tukar rupiah.

Ia merujuk pada beban utang pemerintah yang semakin mendekati jatuh tempo serta belum adanya penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi.

“Kondisi ini semakin rumit dengan adanya kapal tanker Pertamina di Selat Hormuz yang hingga kini belum dapat keluar,” ungkapnya.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) menyampaikan bahwa tekanan terhadap kurs rupiah juga dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang turut menekan mata uang-mata uang di kawasan Asia lainnya.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah saat ini masih sejalan dengan tren pelemahan mata uang regional lainnya akibat situasi global yang tidak menentu.

“Tekanan terhadap rupiah hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional,” jelas Destry dalam keterangan tertulisnya pada Kamis (23/4).

Secara year to date atau sejak awal tahun ini, rupiah tercatat telah melemah sebesar 3,54 persen.

BI juga memperhatikan dampak berlanjutnya konflik di Timur Tengah yang memperbesar tekanan dalam pasar keuangan global serta mendorong penguatan nilai dolar AS.

Sebagai respons terhadap situasi tersebut, Bank Indonesia meningkatkan intensitas intervensi melalui pasar offshore menggunakan instrumen Non-Deliverable Forward (NDF), serta melakukan transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

Selain itu, BI juga aktif melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder guna menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.

Dalam upaya menjaga daya tarik aset domestik di tengah gejolak global ini, Bank Indonesia juga memperkuat struktur suku bunga dari instrumen moneter agar lebih pro-pasar.

“Bank Indonesia senantiasa hadir di pasar dan akan terus mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Destry dengan tegas.

Di tengah tekanan berat yang dialami oleh rupiah saat ini, Bank Indonesia memastikan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia masih berada dalam kondisi baik dengan angka mencapai US$148,2 miliar pada akhir Maret 2026.

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat tantangan besar yang harus dihadapi oleh perekonomian Indonesia dan nilai tukar rupiah saat ini, pihak BI tetap optimis akan kemampuan ekonomi nasional dalam menghadapi berbagai tantangan.

Situasi terkini mengenai nilai tukar rupiah mencerminkan betapa rentannya perekonomian nasional terhadap dinamika politik dan ekonomi global.

Ketegangan internasional seperti konflik di Timur Tengah memberikan dampak luas tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga negara-negara lain yang berinteraksi dalam perdagangan global.

Mengingat banyaknya variabel yang mempengaruhi stabilitas ekonomi nasional serta kurs mata uang lokal seperti rupiah, diperlukan kebijakan-kebijakan strategis dari pemerintah dan institusi terkait untuk mampu merespons tantangan ini secara efektif.

Kondisi ini tentunya harus menjadi perhatian serius bagi semua pemangku kepentingan di Indonesia mulai dari pemerintah hingga pelaku usaha agar dapat bersama-sama mencari solusi terbaik guna menjaga kestabilan ekonomi nasional dan mencegah dampak lebih lanjut dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap perekonomian rakyat.

Dengan demikian, langkah-langkah preventif dan responsif dari semua pihak akan sangat penting dalam mengatasi tantangan-tantangan tersebut agar pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap dapat terjaga meski dalam situasi penuh ketidakpastian seperti saat ini.(*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Jembatan sungai serayu

Jembatan Sungai Serayu Ditutup Total, Ini Jadwal dan Jalur Alternatif

Berita Selanjutnya
22 Sapi Divaksin Jelang Kurban

Jelang Idul Adha, Ratusan Sapi di Purbalingga Divaksin dan Diberi Obat Cacing