BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA- Pada Triwulan I Tahun 2026, Kabupaten Purbalingga mencatatkan adanya kasus Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) sebanyak lima kasus.
Menariknya, seluruh kasus yang teridentifikasi masuk dalam kategori ringan, dengan gejala demam yang paling sering dialami oleh balita.
Koordinator Imunisasi Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DinkesPPKB) Purbalingga, Novita, memberikan penjelasan mendalam mengenai situasi ini.
Novita mengungkapkan bahwa tidak semua vaksin yang diberikan kepada anak-anak memicu gejala demam, hal ini sangat tergantung pada kondisi kesehatan masing-masing anak saat menerima imunisasi.
Ia mencontohkan vaksin DPT-HB-Hib yang seringkali menyebabkan demam karena mengandung pertussis.
“Ibu balita kita beri obat penurun panas, ketika demam harus segera diberikan empat jam sekali,” ujarnya dalam konferensi pers yang diadakan pada Kamis, 23 April 2026.
Menanggapi munculnya gejala demam setelah imunisasi, Novita menekankan pentingnya perhatian orang tua.
Apabila demam tersebut tidak kunjung reda, ia menyarankan agar orang tua segera membawa anak mereka ke fasilitas kesehatan terdekat.
“Kita sarankan ke puskesmas, dan jika belum ada rawat inap bisa dirujuk ke rumah sakit,” tambahnya.
Langkah ini menunjukkan upaya pemerintah daerah untuk memastikan bahwa setiap anak mendapatkan perawatan yang optimal setelah imunisasi.
Dalam upaya penanganan KIPI, pemerintah daerah telah membentuk tim khusus yang bertugas menangani masalah ini di tingkat kabupaten.
Tim tersebut terdiri dari berbagai pihak termasuk Kabag Kesra dan Kepala DinkesPPKB, serta melibatkan dokter spesialis anak untuk memastikan penanganan yang tepat terhadap setiap kasus yang muncul.
“Kita punya tim KIPI kabupaten, penanggung jawabnya ada Kabag Kesra dan Kepala DinkesPPKB, di lapangan juga ada dokter spesialis anak,” ungkap Novita.
Evaluasi berkala juga menjadi bagian penting dari proses ini. Tim melakukan evaluasi rutin dua kali dalam setahun dengan melibatkan dokter spesialis anak guna mengkaji setiap kasus KIPI yang terjadi.
Novita menambahkan bahwa hasil kajian dari evaluasi tersebut sering kali menunjukkan bahwa kemunculan gejala demam pasca imunisasi bukan semata-mata disebabkan oleh efek vaksin itu sendiri, tetapi bisa dipengaruhi oleh faktor lain seperti kondisi kesehatan anak sebelum imunisasi.
“Selama ini hasil kajian karena faktor kebetulan, misalnya anak sedang batuk atau demam tetapi orang tua tetap menginginkan imunisasi,” jelasnya.
Hal ini menyoroti pentingnya komunikasi antara tenaga medis dan orang tua mengenai kondisi kesehatan anak sebelum melakukan imunisasi.
Dengan pemahaman yang lebih baik tentang risiko dan manfaat vaksinasi, diharapkan orang tua dapat membuat keputusan yang lebih tepat bagi kesehatan anak mereka. (alw/stch/dda)
















