BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa stabilitas sektor jasa keuangan di Indonesia masih tetap terjaga, meskipun pasar keuangan domestik menghadapi berbagai tekanan akibat gejolak ekonomi global.
Pelemahan nilai tukar rupiah dan penurunan tajam pada pasar saham dinilai belum cukup untuk mengganggu ketahanan sistem keuangan nasional.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, yang sering disapa Kiki, menyampaikan bahwa hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK menunjukkan bahwa sektor jasa keuangan tetap berada dalam kondisi yang sehat dan stabil, meski risiko global terus meningkat.
“Stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga di tengah peningkatan inflasi global dan volatilitas pasar keuangan,” ungkap Kiki dalam penjelasannya kepada awak media.
Penekanan ini penting, terutama ketika banyak kalangan mengkhawatirkan dampak dari ketegangan geopolitik yang terjadi di berbagai belahan dunia, terutama di Timur Tengah.
Kondisi tersebut, menurut Kiki, menjadi salah satu faktor utama yang memicu ketidakpastian dalam perekonomian global saat ini.
Konflik berkepanjangan di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada kestabilan politik namun juga membuat harga energi tetap tinggi.
Hal ini berkontribusi pada meningkatnya tekanan inflasi di berbagai negara, yang menyebabkan bank sentral di seluruh dunia cenderung mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama.
Situasi ini tentunya turut dirasakan oleh pasar keuangan Indonesia. Sebagai contoh, pada akhir Mei 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat berada di level 6.127,38 atau mengalami penurunan sebesar 11,92 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Lebih lanjut, nilai tukar rupiah sempat menyentuh angka Rp 17.800 per dolar AS dan mengalami pelemahan hingga menembus Rp 18.000 per dolar AS pada awal Juni 2026.
Kiki optimis bahwa meskipun kondisi pasar menunjukkan tekanan yang cukup besar, hal tersebut masih dapat dikelola dengan baik oleh otoritas terkait.
Kiki menambahkan bahwa perekonomian global memang menunjukkan tanda-tanda perlambatan, namun masih memiliki daya tahan yang cukup kuat.
Di sisi lain, aktivitas ekonomi di Indonesia tetap relatif baik. Sektor manufaktur kembali mencatatkan ekspansi dan konsumsi domestik masih terjaga dengan baik.
Ini menunjukkan bahwa ada potensi pertumbuhan yang bisa dimanfaatkan meskipun terdapat tantangan dari luar negeri.
Inflasi nasional juga menjadi perhatian penting bagi OJK. Kiki menjelaskan bahwa meskipun harga energi global meningkat, inflasi nasional masih berada dalam rentang yang terkendali dan tidak memberikan dampak signifikan terhadap daya beli masyarakat secara umum.
Hal ini tentunya merupakan indikasi positif bagi perekonomian Indonesia.
Salah satu faktor penopang stabilitas ekonomi Indonesia adalah surplus neraca perdagangan yang masih dapat dipertahankan.
Surplus ini menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga kestabilan makroekonomi negara dan memberikan keyakinan kepada investor akan kesehatan ekonomi nasional.
“OJK akan terus memantau perkembangan ekonomi dan pasar keuangan global yang berpotensi memengaruhi stabilitas sektor jasa keuangan nasional,” tegas Kiki menutup pembicaraan tersebut.
Dengan fundamental sektor keuangan yang dinilai masih kuat dan resilient, OJK sangat optimis industri jasa keuangan Indonesia akan mampu menghadapi berbagai tantangan eksternal seperti tekanan terhadap nilai tukar rupiah serta fluktuasi pasar modal. (*/stch/dda)
















