BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Sedimentasi di Waduk Panglima Besar Soedirman atau Waduk Mrica, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, telah menjadi persoalan serius yang mengancam fungsi strategis waduk.
Material sedimen yang terbawa dari kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu terus mengurangi kapasitas tampung waduk dan berpotensi berdampak terhadap pasokan listrik serta jaringan irigasi pertanian.
Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian utama dalam kunjungan Studi Strategis Dalam Negeri (SSDN) Lemhannas RI ke Kabupaten Banjarnegara.
Rombongan Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) Angkatan LXX Tahun 2026 menjadikan Waduk Mrica sebagai salah satu lokasi kajian terkait ketahanan energi dan lingkungan.
Kunjungan tersebut berlangsung di tengah kebutuhan untuk mencari solusi jangka panjang terhadap sedimentasi Waduk Mrica.
Pemkab Banjarnegara menilai persoalan tersebut sudah terlalu besar dan kompleks apabila hanya ditangani menggunakan kemampuan anggaran daerah.
Senior Manager PT PLN Indonesia Power UBP Mrica, Wasis Jati Waskitho, menyampaikan bahwa laju sedimentasi yang masuk ke Waduk Mrica dari hulu DAS Serayu sudah berada dalam kondisi sangat mengkhawatirkan.
Menurut Wasis, apabila persoalan tersebut tidak segera mendapatkan intervensi secara nasional, keberlangsungan fungsi waduk dapat semakin terancam.
Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan operasional bendungan, tetapi juga dapat merembet pada penyediaan energi listrik dan kebutuhan irigasi masyarakat.
“Laju sedimentasi yang masuk ke waduk dari hulu DAS Serayu sudah sangat kritis. Jika tidak segera diintervensi secara nasional, usia waduk akan terancam dan berdampak langsung pada optimalisasi pasokan energi listrik EBT untuk sistem kelistrikan Jawa-Bali serta jaringan irigasi persawahan rakyat,” kata Wasis.
Keterangan tersebut juga sejalan dengan perhatian Pemkab Banjarnegara yang menyebut sedimentasi telah menurunkan fungsi Waduk Mrica secara signifikan selama lebih dari satu dekade.
Persoalan sedimentasi tidak dapat dipandang hanya sebagai masalah teknis bendungan.
Waduk Mrica memiliki sejumlah fungsi strategis, mulai dari pembangkit listrik tenaga air, sumber irigasi pertanian hingga pengendalian banjir.
Dengan demikian, berkurangnya kapasitas waduk akibat penumpukan sedimen berpotensi memengaruhi beberapa sektor sekaligus, terutama energi, pertanian dan pengelolaan sumber daya air.
Wakil Bupati Banjarnegara Wakhid Jumali meminta pemerintah pusat memberikan dukungan dalam penanganan sedimentasi Waduk Mrica.
Menurutnya, skala persoalan yang dihadapi sudah terlalu besar apabila hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Banjarnegara.
“Waduk Mrica memiliki peran vital bagi penyediaan listrik, irigasi, dan pengendali banjir. Namun, persoalan sedimentasi selama lebih dari satu dekade terakhir menurunkan fungsi waduk secara signifikan,” ujar Wakhid.
Pemkab Banjarnegara berharap dukungan kebijakan dari pemerintah pusat dapat menghasilkan penanganan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.
Pemkab sebelumnya juga telah menempatkan persoalan sedimentasi Waduk Mrica sebagai bagian dari isu lingkungan yang perlu ditangani secara lintas wilayah.
Data pemerintah daerah menunjukkan tingginya sedimentasi berkaitan dengan kondisi daerah tangkapan air dan kawasan hulu DAS Serayu.
Artinya, penanganan tidak cukup hanya dilakukan di area waduk. Upaya konservasi di wilayah hulu DAS Serayu juga menjadi bagian penting untuk menekan material erosi yang terbawa menuju waduk.
Pimpinan rombongan SSDN Lemhannas RI, Kolonel Inf Akmil Satria Martha Yudha, mengatakan kunjungan ke Banjarnegara diarahkan untuk mengkaji optimalisasi energi baru terbarukan (EBT) sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional.
Banjarnegara dipilih sebagai salah satu lokasi kajian karena memiliki potensi energi sekaligus persoalan lingkungan yang berkaitan erat dengan keberlanjutan sumber daya.
“Hasil peninjauan lapangan di Banjarnegara dan wilayah Jawa Tengah ini untuk menghasilkan rekomendasi yang akan diserahkan kepada pemerintah pusat sebagai bahan perumusan kebijakan ketahanan energi nasional yang berkelanjutan,” kata Akmil Satria.
Menurut Pemkab Banjarnegara, kunjungan tersebut merupakan bagian dari kegiatan P4N Angkatan LXX Tahun 2026.
Setelah menerima rombongan di Pendapa Dipayudha Adigraha, agenda dilanjutkan dengan diskusi mengenai tata kelola DAS Serayu dan upaya mitigasi sedimentasi waduk.
Kajian tersebut diharapkan tidak berhenti pada identifikasi persoalan, tetapi menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat digunakan pemerintah pusat untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Masuknya material sedimen ke Waduk Mrica tidak terlepas dari kondisi kawasan hulu DAS Serayu.
Dokumen pemerintah daerah sebelumnya mencatat bahwa sedimentasi di Waduk Mrica menjadi isu penting karena waduk tersebut memiliki fungsi strategis sebagai objek vital pembangkit listrik dan pengendali banjir.
Data dalam dokumen tersebut menyebut volume sedimen yang masuk ke Waduk Mrica pada Oktober 2024 mencapai sekitar 7,69 juta meter kubik per tahun. Sedimen berasal dari sejumlah sungai di kawasan DAS Serayu hulu.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan sedimentasi membutuhkan pendekatan dari hulu hingga hilir.
Konservasi tanah dan air, pengelolaan daerah tangkapan air, serta pengendalian erosi menjadi bagian penting dalam upaya menjaga keberlanjutan fungsi Waduk Mrica.
Pemkab Banjarnegara juga sebelumnya menyebut sedimentasi waduk telah mencapai kondisi yang mengkhawatirkan.
Pemerintah daerah mendorong berbagai program konservasi lingkungan sebagai bagian dari upaya menghadapi degradasi kawasan tangkapan air.
Selain melihat kondisi Waduk Mrica, rombongan SSDN Lemhannas RI juga mengunjungi inovasi pengelolaan lingkungan melalui Bank Sampah Banjarnegara (BSB) di Desa Kasilib, Kecamatan Wanadadi.
Kunjungan tersebut memperlihatkan bahwa kajian ketahanan nasional yang dilakukan Lemhannas tidak hanya berfokus pada aspek energi, tetapi juga mencakup persoalan lingkungan.
Pengelolaan sampah menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas lingkungan dan mendukung keberlanjutan pembangunan daerah.
Karena itu, inovasi masyarakat dalam pengelolaan sampah menjadi salah satu hal yang turut dipelajari dalam rangkaian kunjungan tersebut.
Pada akhirnya, hasil kajian SSDN Lemhannas RI di Banjarnegara akan dirumuskan menjadi rekomendasi bagi pemerintah pusat.
Salah satu perhatian utamanya adalah bagaimana mengoptimalkan potensi energi baru terbarukan sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan di kawasan DAS Serayu.
Persoalan sedimentasi Waduk Mrica menjadi gambaran bahwa ketahanan energi tidak dapat dipisahkan dari pengelolaan lingkungan dan sumber daya air.
Ketika kapasitas waduk terus berkurang akibat sedimentasi, fungsi pembangkit listrik, irigasi dan pengendalian banjir ikut menghadapi tantangan.
Karena itu, penanganan sedimentasi Waduk Mrica membutuhkan koordinasi lintas sektor dan lintas wilayah, termasuk antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola waduk serta pihak-pihak yang berkepentingan terhadap kelestarian DAS Serayu.
Dengan intervensi yang terencana dan berkelanjutan, fungsi Waduk Mrica diharapkan tetap dapat mendukung kebutuhan listrik, pertanian dan pengendalian banjir bagi masyarakat, sekaligus menjadi bagian dari penguatan ketahanan energi nasional. (jud/stch/dda)














