Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Sinkhole Sedalam 7 Meter Muncul di Wonosobo, Akses Jalan Lingkungan Terputus

Lubang Sedalam Tujuh Meter Terus MelebarLubang Sedalam Tujuh Meter Terus Melebar
MENGANGA: Lubang menganga di tengah Kampung Kasiran Kelurahan Mlipak Wonosobo yang terus melebar

BANYUMASEKSPRES.ID, WONOSOBO – Situasi darurat kini mengancam kawasan permukiman padat di Kasiran Baru RT 3 RW 6, Kelurahan Mlipak, Kecamatan Wonosobo.

Sebuah fenomena tanah ambles atau sinkhole yang muncul di tengah perkampungan ini terus membesar, tanpa adanya penanganan permanen hingga hampir tiga pekan terakhir.

Lubang ambles yang terletak tidak jauh dari rumah warga saat ini mencapai kedalaman sekitar tujuh meter dengan lebar dua meter.

Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena ukuran lubang terus bertambah, terutama ketika hujan turun dan air masuk ke dalam rongga tanah tersebut.

Dampak paling nyata dirasakan oleh warga yang tinggal di sekitar lokasi amblesan.

Salah satu rumah yang berada tepat di bibir amblesan terpaksa dibongkar sebagian karena mulai miring dan dinilai tidak lagi aman untuk dihuni.

Langkah ini diambil sebagai tindakan darurat untuk mencegah risiko yang lebih besar.

Selain mengancam bangunan, amblesan juga memutus akses jalan lingkungan.

Saat ini, kendaraan roda empat dilarang melintas dan diarahkan untuk menggunakan jalur alternatif.

Sementara itu, sepeda motor masih diperbolehkan melintas dengan pengawasan ketat dari warga setempat demi menjaga keselamatan.

Ketua RW 06 Kasiran Baru, Aris Sumarna menjelaskan bahwa upaya penanganan sementara dilakukan secara swadaya oleh warga bersama relawan setempat.

Salah satu langkah darurat yang diambil adalah menutup bibir lubang menggunakan terpal agar air hujan tidak langsung masuk dan mempercepat pengikisan tanah.

“Kedalamannya sekarang sekitar tujuh meter, lebarnya dua meter, dan terus bertambah. Untuk sementara kami hanya bisa mengandalkan terpal agar air hujan tidak langsung menggerus tanah,” ujar Aris pada Minggu (25/1).

Aris menambahkan bahwa mereka juga telah mempertimbangkan opsi untuk menutup total jalan lingkungan jika kondisi tanah semakin membahayakan keselamatan warga.

“Jika lubangnya semakin melebar dan berisiko, maka jalan akan kami tutup total,” tegasnya.

Lubang sinkhole tersebut pertama kali muncul pada Sabtu (10/1/2025) sekitar pukul 17.00, meskipun saat itu cuaca relatif cerah.

Amblesan diduga kuat dipicu oleh hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut sehari sebelumnya.

“Awalnya hanya berupa lubang kecil di dekat gapura, kami sempat menutupnya karena belum terlihat berbahaya,” ungkap Aris.

Seiring waktu berlalu, warga menemukan adanya rongga besar di bawah permukaan tanah menyerupai aliran air yang terus tererosi setiap kali hujan turun, sehingga mempercepat pelebaran amblesan.

Warga menduga kejadian ini berkaitan dengan gorong-gorong lama peninggalan era kolonial Belanda yang berada di bawah kawasan permukiman tersebut.

Sistem drainase itu diduga sudah tidak mampu menampung limpasan air dari kota terutama saat hujan deras.

“Setiap kali hujan deras, air dari kota semuanya masuk ke saluran itu dan menggerus tanah di bawah rumah warga,” jelas Aris lebih lanjut.

Warga berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk menangani situasi ini secara serius karena lokasi amblesan berada di area padat penduduk yang memiliki risiko tinggi jika dibiarkan tanpa penanganan teknis memadai.

Dilihat dari perspektif sosial ekonomi, fenomena ini tidak hanya berdampak terhadap keamanan fisik tetapi juga terhadap kesejahteraan masyarakat setempat.

Dengan terganggunya akses jalan dan ancaman terhadap hunian, kehidupan sehari-hari warga menjadi lebih sulit dan berpotensi memicu masalah sosial baru jika tidak segera ditangani.

Pendekatan komprehensif diperlukan untuk memastikan keberlanjutan hidup masyarakat setempat tanpa harus kehilangan rasa aman mereka atas tempat tinggalnya sendiri.

Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat sangat penting dalam mencari solusi jangka panjang untuk masalah ini.

Melalui dukungan berbagai pihak terkait serta tindakan cepat dan efektif dari pemerintah daerah, diharapkan solusi permanen dapat segera diterapkan sehingga masyarakat Kasiran Baru dapat kembali menjalani kehidupan normal mereka tanpa rasa khawatir akan ancaman dari tanah ambles. (*/dda)

Berita Sebelumnya
SNBP

Daya Tampung SNBP 2026 Belum Rilis? Ini Jadwal Pengumumannya

Berita Selanjutnya
Emak emak di Banjarnegara Protes Menu MBG

Orang Tua Murid Blokade SDN 4 Krandengan Banjarnegara, Tolak Program Makan Bergizi Gratis