Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Stok Minyakita di Jakarta Kosong, Perum Bulog Ajukan Tambahan Kuota

Stok Minyakita Menipis di PasarStok Minyakita Menipis di Pasar
STOK MINYAKITA: Pedagang menunjukkan Minyakita

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Stok minyak goreng rakyat yang dikenal dengan nama Minyakita di berbagai pasar di Jakarta saat ini dilaporkan mengalami kekosongan.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengonfirmasi bahwa persediaan Minyakita di lapangan semakin menipis.

Hal ini telah disampaikan kepada Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman.

Rizal menyatakan bahwa pihaknya telah mengajukan permohonan penambahan kuota Domestic Market Obligation (DMO) kepada Kementerian Perdagangan (Kemendag).

“Pada hari sebelumnya, kami telah melaporkan kepada Pak Mentan untuk menangani situasi terkait kekosongan Minyakita ini. Secara jujur, kami sudah mengajukan ke Menteri Perdagangan untuk meningkatkan kuota,” ujar Rizal dalam konferensi pers yang berlangsung di Kantor Pusat Perum Bulog, Jakarta Selatan, pada Senin, 13 April 2026.

Dalam upaya menanggulangi masalah ini, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Pangan telah berperan aktif dalam mendistribusikan Minyakita.

Pemerintah mewajibkan para produsen untuk menyalurkan minimal 35 persen dari total produksi Minyakita melalui BUMN Pangan.

Penyaluran ini dibagi antara tiga BUMN yang terlibat: Bulog mendapat porsi sebesar 70 persen, ID Food mendapatkan 20 persen, dan Agrinas Palma memperoleh 10 persen.

Rizal juga menjelaskan pentingnya pengaturan ritme dalam penyaluran minyak goreng tersebut.

Hal ini dikarenakan mereka juga memiliki tanggung jawab untuk menyalurkan bantuan pangan kepada lebih dari 33 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

“Kami harus pintar dalam mengatur ritme penyaluran. Kemarin fokus kami adalah untuk Ramadan dan Idulfitri, Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Setelah periode tersebut, kami akan kembali memfokuskan perhatian pada penyaluran bantuan pangan,” jelas Rizal.

Namun, dia juga menyadari bahwa terdapat keterbatasan dalam kuota DMO ketika dihadapkan dengan kebutuhan distribusi Minyakita untuk bantuan pangan.

“Kami harus berbagi sumber daya,” tambahnya menjelaskan tantangan yang dihadapi dalam masa mendatang.

Rizal kemudian meminta agar kuota DMO untuk BUMN Pangan ditingkatkan menjadi 65 persen.

Dengan peningkatan kuota tersebut, diharapkan dapat mencukupi kebutuhan pasar serta memastikan bantuan sosial dapat tersebar secara merata.

“Sesuai arahan dari Pak Mentan, kami diperintahkan untuk meningkatkan pengajuan kuota DMO menjadi 65 persen. Kami berharap angka ini dapat mencakup kebutuhan pasar sekaligus mendukung program bantuan pangan,” pungkas Rizal.

Masalah kekosongan stok minyak goreng seperti Minyakita bukanlah isu baru di Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat sering kali menghadapi kesulitan dalam mendapatkan produk minyak goreng yang terjangkau dan berkualitas.

Hal ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan semua pemangku kepentingan terkait.

Minyakita menjadi salah satu solusi pemerintah untuk memberikan akses minyak goreng dengan harga terjangkau bagi masyarakat kelas bawah.

Program ini dirancang agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya tanpa harus terbebani oleh harga yang tinggi di pasaran.

Namun, kenyataan di lapangan sering kali berbanding terbalik dengan tujuan ideal tersebut.

Terdapat banyak faktor yang menyebabkan stok Minyakita bisa kosong di pasar-pasar tertentu.

Salah satunya adalah kesenjangan antara produksi dan distribusi yang tidak seimbang.

Ketika permintaan meningkat, terutama menjelang bulan-bulan tertentu seperti Ramadan atau Idulfitri, produksi yang ada terkadang tidak mampu memenuhi permintaan yang melonjak tajam dari masyarakat.

Dalam konteks ini, penting bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi terhadap sistem distribusi guna memastikan kelancaran pasokan minyak goreng sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Selain itu, transparansi dalam proses distribusi juga menjadi kunci agar masyarakat dapat memahami situasi yang terjadi dan tidak mengalami kebingungan ketika menghadapi kekosongan barang.

Tak hanya itu, edukasi mengenai penggunaan minyak goreng pun perlu ditingkatkan di kalangan masyarakat agar pemahaman tentang penggunaan produk ini lebih baik lagi.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya bergantung pada satu jenis produk saja tetapi juga memahami alternatif lain yang mungkin bisa digunakan ketika terjadi kelangkaan. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Hadiri Resepsi Anak Sebagai Tamu Undangan

Tamara Bleszynski Datang sebagai Tamu di Resepsi Pernikahan Teuku Rassya

Berita Selanjutnya
Lima Rumah Terancam Longsor Susulan

Longsor Susulan Mengintai Desa Sangkanayu, Pemkab Purbalingga Siapkan Penanganan