BANYUMASEKSPRES.ID, MAGELANG – Peristiwa kecelakaan melibatkan bus sekolah terjadi di kawasan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada Jumat pagi (9/5), sekitar pukul 06.30 WIB.
Insiden tersebut menimpa para siswi Pondok Al Hikmah Damarjati, Kauman, Kaliangkrik, yang sedang dalam perjalanan menuju MTs dan MA Ma’arif Damarjati.
Akibat kecelakaan ini, sebanyak 17 siswi mengalami luka ringan dan dua orang lainnya harus dirujuk ke RSUD Merah Putih karena cedera lebih serius.
Kasat Lantas Polresta Magelang, Kompol Nyi Ayu Fitria Facha, menjelaskan kronologi kecelakaan yang bermula dari dua unit bus yang sedang mengantar para santri ke sekolah melalui medan jalan yang cukup menanjak.
“Ada dua bus berurutan,” paparnya, Jumat (9/5).
Bus pertama dengan nomor polisi AA 7307 ZB, yang membawa siswa laki-laki, tidak mampu melaju di tanjakan. Akibatnya, bus berjalan mundur. Saat sopir berusaha menginjak rem, kendaraan justru menabrak bus kedua di belakangnya, yang bernomor polisi N 7216 UT.
Bus pertama akhirnya berhasil berhenti di tanjakan setelah upaya pengereman, namun dampak tabrakan membuat bus kedua yang membawa 30 siswi kehilangan kendali. Sopir bus kedua berusaha menghindari benturan lebih besar dengan membanting setir ke arah kiri.
Akibat manuver mendadak tersebut, bus oleng lalu terguling. Kaca kendaraan pecah dan menyebabkan para siswi di dalamnya mengalami luka-luka.
“Seluruh korban luka-luka dibawa ke Puskesmas Kaliangkrik dan kini sudah rawat jalan,” tambah Kompol Nyi Ayu Fitria Facha, menjelaskan kondisi para korban.
Dari total korban, dua siswi mengalami dislokasi bahu dan terpaksa dirujuk ke RSUD Merah Putih untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Meskipun peristiwa ini menimbulkan trauma bagi para siswa, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Muhammad Adib, Pengasuh Pondok Al Hikmah Damarjati, menjelaskan bahwa bus pertama sebenarnya telah mengantar siswa ke sekolah dan kembali ke pondok untuk menjemput rombongan berikutnya. Namun, insiden terjadi ketika bus tersebut gagal menanjak dan kemudian menyebabkan tabrakan beruntun.
“Sampai di tanjakan, (bus) mundur, kena bus di belakangnya,” sebut dia.
Ia menambahkan bahwa pihak pondok memang secara rutin menyediakan transportasi berupa beberapa armada bus untuk mengantar dan menjemput siswa setiap hari. Dengan jumlah santri mencapai sekitar 300 orang, bus-bus tersebut biasanya harus bolak-balik hingga tiga atau empat kali untuk mengakomodasi semua siswa menuju sekolah yang berjarak sekitar 700 meter dari pondok.
“Total ada 300-an siswa. Jadi, rata-rata tiga bus bisa bolak-balik tiga hingga empat kali,” imbuhnya.
Kecelakaan ini menimbulkan keprihatinan mendalam bagi pihak pondok maupun keluarga siswa. Namun, Muhammad Adib bersyukur bahwa meskipun bus terguling dan menyebabkan kepanikan, seluruh siswa berhasil selamat dan tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
Adib juga memastikan bahwa siswa yang mengalami luka ringan telah mendapatkan perawatan dan kembali ke pondok, sedangkan dua siswi yang mengalami dislokasi sedang dalam pemantauan medis di rumah sakit.
“Saya bersyukur tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Sebanyak 17 siswa yang dibawa ke Puskesmas Kaliangkrik sudah pulang ke pondok. Sedangkan dua lainnya dirujuk ke RSUD Merah Putih karena dislokasi bahu,” jelasnya. (*stch)
















