BANYUMASEKSPRES.ID, Langkah dua negara wakil Asia, Qatar dan Arab Saudi, di Piala Dunia 2026 terhenti lebih cepat dari yang diharapkan, yakni hanya sampai fase grup.
Kegagalan ini memicu gelombang komentar di media sosial, terutama dari netizen yang mengaitkan hasil buruk kedua tim dengan kontroversi yang melingkupi kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.
Banyak yang mempertanyakan efektivitas langkah-langkah yang diambil oleh kedua negara dalam persiapan menuju turnamen akbar ini.
Qatar, yang pada awalnya diharapkan dapat menunjukkan performa gemilang sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022, justru mengalami nasib menyedihkan dengan menempati posisi juru kunci di Grup B.
Mereka hanya berhasil mengumpulkan satu poin setelah tiga pertandingan.
Pertandingan pertama mereka berakhir imbang 1-1 melawan Swiss, namun selanjutnya menderita kekalahan telak dengan skor 0-6 melawan Kanada dan kembali tumbang 1-3 saat menghadapi Bosnia and Herzegovina.
Hasil ini sungguh mengecewakan bagi para pendukung mereka yang berharap banyak pada kemampuan timnas.
Sementara itu, Arab Saudi tidak jauh berbeda nasibnya. Dalam Grup H yang dihuni oleh tim-tim kuat seperti Spanyol, Uruguay, dan Cape Verde, The Green Falcons juga gagal bersinar.
Mereka hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan Uruguay sebelum kalah telak 0-4 dari Spanyol dan ditahan tanpa gol oleh Cape Verde.
Hasil ini tidak hanya mengecewakan bagi penggemar mereka tetapi juga menciptakan sejarah baru bagi Cape Verde yang berhasil lolos ke fase gugur pada penampilan perdananya di Piala Dunia.
Kedua kegagalan ini lantas menjadi sorotan publik, khususnya di media sosial.
Netizen Asia, termasuk dari Indonesia, ramai membahas hasil buruk kedua tim dan mengaitkannya dengan status mereka sebagai tuan rumah pada ronde keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.
Banyak orang menilai bahwa status tuan rumah seharusnya memberikan keuntungan tersendiri bagi Qatar dan Arab Saudi dalam hal dukungan suporter serta adaptasi terhadap venue pertandingan.
Setelah melihat hasil pertandingan yang mengecewakan tersebut, berbagai komentar bernada sindiran pun muncul dari masyarakat maya.
Salah satu netizen dengan akun @maliiih28 menuliskan, “Definisi asli dari ‘Membeli kemudahan, tapi lupa membeli skill’. Selamat menikmati dasar klasemen bersama-sama, biar tidak kesepian!”.
Komentar ini menunjukkan bahwa beberapa netizen merasa tindakan yang diambil oleh kedua negara untuk meningkatkan peluang lolos ke Piala Dunia tidak sejalan dengan kualitas permainan mereka.
Akun lain dengan nama pengguna @ThatSun510 juga mengekspresikan pandangannya mengenai kegagalan Qatar dan Arab Saudi.
Ia menulis, “Qatar & Arab Saudi menghalalkan segala cara agar lolos pildun lewat babak ke-4 kualifikasi Asia. Kini keduanya langsung GUGUR di babak penyisihan grup.”
Ini menunjukkan kekecewaan mendalam terhadap pendekatan yang diambil oleh kedua negara dalam meraih tiket ke Piala Dunia.
Lebih lanjut lagi, akun @faithslei memberikan kritik pedas dengan mengatakan, “Jadi host malah finish paling buncit, anjir malu banget. Padahal advantage sudah komplit – lapangan sendiri, fans sendiri, wasit friendly. Skill emang segitu doang, mau difasilitasi apapun hasilnya sama saja.”
Kritikan ini semakin menggambarkan bagaimana publik menilai bahwa meskipun ada banyak keuntungan logistik bagi kedua tim, hal tersebut tidak berbanding lurus dengan performa mereka di lapangan.
Kegagalan Qatar dan Arab Saudi untuk bersaing secara kompetitif dalam turnamen bergengsi ini memang menyisakan banyak pertanyaan mengenai masa depan sepak bola di kawasan Asia.
Apakah model pengembangan sepak bola yang diterapkan sudah tepat? Atau mungkinkah ada faktor lain yang menyebabkan kedua tim ini terpuruk saat tampil di ajang internasional?.
Yang jelas adalah bahwa masyarakat kini semakin kritis terhadap kualitas permainan dan strategi pengembangan tim nasional.
Sementara itu, kegagalan ini juga memunculkan berbagai diskusi tentang bagaimana cara meningkatkan level sepak bola di negara-negara Asia lainnya agar bisa bersaing lebih baik dalam ajang internasional mendatang.
Beberapa pengamat sepak bola berpendapat bahwa perlu adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan pemain muda serta dukungan infrastruktur dalam olahraga sepak bola agar generasi mendatang dapat lebih siap menghadapi tantangan global.
Kritik tajam terhadap kinerja Qatar dan Arab Saudi bukan hanya berfokus pada hasil akhir pertandingan saja tetapi juga merujuk kepada bagaimana kedua negara tersebut mempersiapkan diri menghadapi kompetisi bergengsi seperti Piala Dunia.
Masyarakat berharap agar kegagalan ini menjadi pelajaran berharga untuk perbaikan ke depannya.
Kedua tim memiliki potensi untuk bangkit dan melakukan perubahan signifikan dalam cara mereka mendekati kompetisi internasional.
Upaya untuk memperbaiki kualitas permainan harus dimulai dari bawah hingga ke atas, mulai dari pendidikan pemain hingga filosofi permainan yang diterapkan oleh pelatih dan federasi sepak bola masing-masing negara. (*/stch/dda)














