BANYUMASEKSPRES.ID, Kekhawatiran baru muncul di pasar keuangan global setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyuarakan rencananya untuk menaikkan tarif impor terhadap sejumlah negara mitra dagang.
Meskipun inflasi di Amerika Serikat tercatat melandai pada Mei 2025, sentimen proteksionis yang digaungkan Trump memicu kehati-hatian di kalangan pelaku pasar, termasuk investor di sektor saham dan aset digital.
Data terbaru yang dirilis dari Washington menunjukkan bahwa Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada Mei 2025 hanya naik 0,1 persen secara bulanan, lebih rendah dari proyeksi analis.
Kenaikan ini terjadi di tengah penurunan harga bahan bakar, namun masih mendapat tekanan dari lonjakan biaya sewa tempat tinggal dan kenaikan harga pangan sebesar 0,3 persen.
Secara tahunan, inflasi tercatat berada di level 2,4 persen. Sementara itu, inflasi inti, yang mengecualikan komponen makanan dan energi karena volatilitasnya, tercatat naik 2,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka tersebut masih berada di atas target ideal Federal Reserve yang selama ini menjadikan inflasi inti sebagai salah satu indikator utama dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Respons Pasar Saham Terhadap Tarif Trump
Respons pasar terhadap kombinasi antara inflasi yang melandai dan rencana tarif baru cukup beragam. Di sektor aset kripto, harga Bitcoin langsung tertekan dan tercatat turun 1,60 persen ke level 107.000 dollar AS atau setara Rp1,76 miliar dengan asumsi kurs Rp16.500 per dolar.
Ethereum juga mengalami pelemahan sebesar 1,32 persen ke harga 2.700 dollar AS atau sekitar Rp44,55 juta.
Di bursa saham Amerika, pergerakan cenderung lebih stabil meskipun masih diliputi kehati-hatian. Indeks S&P 500 ditutup turun tipis 0,3 persen.
Nasdaq mengalami koreksi sebesar 0,5 persen. Sementara itu, Dow Jones relatif tidak mengalami banyak perubahan dalam perdagangan Kamis, 12 Juni 2025 malam hari lalu.
Fahmi Almuttaqin, analis dari platform kripto Reku, menjelaskan bahwa pasar saat ini sedang dalam fase menunggu kejelasan arah kebijakan perdagangan AS.

Menurutnya, rencana kenaikan tarif impor yang disuarakan kembali oleh Trump menjadi variabel baru yang memperbesar ketidakpastian di tengah harapan bahwa inflasi yang melandai dapat menjadi sinyal positif untuk kebijakan moneter The Fed ke depan.
“Pemerintah AS sendiri terlihat mulai menekan perusahaan besar agar tidak serta-merta menaikkan harga barang, tetapi efek dari kebijakan tarif biasanya memang tidak langsung terasa. Ekonom memperkirakan bahwa dampaknya akan muncul secara bertahap dan bisa menyebabkan inflasi naik kembali dalam beberapa bulan ke depan,” kata Fahmi dalam keterangan pers yang dirilis Kamis, 12 Juni 2025.
Trump sebelumnya secara terbuka menyatakan akan kembali menerapkan tarif impor unilateral terhadap negara-negara mitra dagang utama Amerika Serikat.
Ia menyebutkan bahwa rincian kebijakan tersebut kemungkinan akan diumumkan dalam kurun waktu satu hingga dua minggu ke depan. Pemerintah memberikan batas waktu hingga 9 Juli 2025 untuk penetapan resmi tarif baru tersebut.
“Hal ini tentu bisa memperberat tekanan terhadap pasar jika pernyataan Trump berubah menjadi aksi nyata. Ia bahkan menyebut akan mengirim surat kepada para pemimpin negara mitra dagang, berisi daftar tarif dengan pendekatan ‘take it or leave it’,” tambah Fahmi.
Namun demikian, Fahmi mengingatkan bahwa sejarah kebijakan Trump menunjukkan adanya kemungkinan penundaan dalam pelaksanaan rencana tersebut, seperti yang pernah terjadi pada periode pertama masa jabatannya.
Oleh karena itu, pelaku pasar disarankan tetap bersikap waspada dan mengikuti perkembangan informasi secara saksama.
“Investor perlu mencermati dinamika ini dengan hati-hati karena bisa berdampak pada potensi penguatan pasar. Padahal tren inflasi yang saat ini melandai seharusnya bisa mendukung langkah The Fed untuk mulai melonggarkan kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga,” tuturnya.
Sementara itu, Federal Reserve diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam pertemuan kebijakan yang akan digelar pekan depan.
Namun, peluang pemangkasan suku bunga tetap terbuka, terutama jika tren inflasi melandai terus berlanjut hingga kuartal ketiga tahun ini. Pasar memperkirakan kemungkinan pemangkasan bisa terjadi pada pertemuan bulan September.
“Namun kita juga harus mempertimbangkan faktor risiko dari rencana tarif yang bisa memicu inflasi tambahan. Jika kebijakan itu jadi diterapkan, lalu ditambah lagi belum tercapainya kesepakatan dagang dengan Tiongkok hingga Agustus nanti, maka skenario tekanan inflasi kembali terbuka,” ujar Fahmi.
Di tengah ketidakpastian ini, banyak investor memilih bersikap menunggu. Antisipasi terhadap potensi gejolak pasar membuat pelaku pasar lebih defensif dalam mengelola portofolio, terutama untuk aset-aset berisiko seperti saham teknologi dan mata uang kripto.
Ekspektasi terhadap penguatan signifikan dalam waktu dekat pun semakin mengecil, seiring dengan kombinasi antara ketidakpastian kebijakan tarif impor AS dan arah inflasi yang masih dibayangi risiko dari sisi suplai global maupun ketegangan perdagangan internasional. (fam)
















