Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Usaha Kreatif, Titi Priyatin Mengubah Jelantah Minyak Menjadi Sumber Pendapatan Warga

Ajak warga setor jelantah sebelum dikonversi jadi rupiahAjak warga setor jelantah sebelum dikonversi jadi rupiah
Titi menimbang botolan minyak jelantah yang baru diambilnya dari setoran warga Kembaran, Jumat (18/7) di halaman warungnya.

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Kisah inspiratif Titi Priyatin dari Kembaran, Banyumas, menunjukkan bagaimana peluang ekonomi dapat muncul dari hal-hal yang sering diabaikan seperti minyak goreng bekas atau jelantah.

Dalam kesehariannya mengelola warung makan sederhana, Titi menyadari dampak negatif penggunaan dan pembuangan jelantah terhadap kesehatan serta lingkungan.

Masalah ini, seperti tersumbatnya sistem drainase akibat pembuangan sembarangan, memotivasi Titi untuk memulai aksi pengumpulan jelantah dari dapur kecilnya sekitar empat tahun lalu.

Pagi itu, awak media menemui Titi di Warung Makan Bu Yanto yang terletak tepat di sebelah Kantor Kecamatan Kembaran.

Meski tidak besar atau mewah, warung ini menjadi pusat kegiatan Titi dalam upayanya menjaga lingkungan. Dari sinilah ia mengajak warga sekitar untuk mengumpulkan jelantah dan menyetorkannya setiap bulan.

“Dibandingkan menimbulkan penyakit dan mencemari lingkungan, saya ajak warga agar jelantah mereka dikumpulkan untuk ditabung,” ungkap Titi.

“Hasilnya bisa diambil uang tunai, ditukar dengan minyak baru atau menjadi tabungan emas.” lanjutnya.

Titi menjelaskan bahwa fluktuasi harga jelantah menjadi salah satu tantangan dalam usahanya ini. Ketika harga normal, pengepul besar menghargai jelantah hingga Rp 8.000 per kilogram.

Pada saat harga tinggi, angka tersebut bahkan bisa mencapai Rp 10.000 per kilogram. Sebaliknya ketika harga turun, nilai jualnya hanya sekitar Rp 5.000 hingga Rp 6.000 per kilogram.

Meski demikian, usaha yang dimulainya sejak tahun 2021 ini tetap bertahan dengan margin keuntungan sekitar Rp 1.000 per kilogram.

Setiap bulannya, Titi berhasil mengumpulkan tidak kurang dari 50 kilogram jelantah dari warga setempat sebelum dijemput oleh pengepul besar ke warungnya.

Ketika ditanya tentang pemanfaatan jelantah oleh pengepul besar, ia menyebut bahwa minyak bekas tersebut digunakan sebagai campuran pakan ternak ayam setelah melalui proses pemurnian untuk menetralkan zat-zat berbahaya bagi kesehatan ayam.

Jelantah yang telah dimurnikan ini kemudian menjadi sumber energi dengan kandungan lipid yang bermanfaat bagi ternak.

Sebagai bagian dari komunitas Sahabat Bumi Banyumas Raya, Titi dan anggota komunitas lainnya berencana untuk mengadakan pelatihan kecil-kecilan mengenai penggunaan jelantah yang sudah dimurnikan sebagai pakan alternatif bagi ternak ayam.

Langkah ini sejalan dengan misi Sahabat Bumi yang bermula dari komunitas pengolahan sampah dan kini berkembang ke bidang peternakan serta pertanian skala rumah tangga guna menciptakan ketahanan pangan mulai dari tingkat rumah tangga.

“Ketika sampah mulai terselesaikan di Banyumas, selanjutnya bagaimana kita ikut berperan menjaga lingkungan,” kata Titi seraya mengajak masyarakat luas untuk berpartisipasi dalam upaya tersebut.

“Insya Allah ketahanan pangan akan lebih mudah dikelola sendiri dari rumah.” imbuhnya.

Dari warung makan kecilnya di Kembaran, Titi Priyatin tidak hanya membuktikan kepedulian terhadap lingkungan tetapi juga turut meningkatkan taraf hidup ekonomi warga sekitarnya melalui inisiatif tabungan jelantah ini.

Puluhan warga dari sepuluh desa di Kecamatan Kembaran seperti Sambeng Kulon, Purwodadi, Bojongsari, Pliken, Karangsari hingga Karangsoka aktif berpartisipasi dengan menjadi penyetor rutin.

“Bagi yang sulit datang ke warung untuk area Kembaran bisa saya ambil sendiri ke rumah,” tutup Titi.

Cerita tentang langkah-langkah sederhana namun berdampak besar ini menggambarkan betapa pentingnya inisiatif individu dalam menciptakan perubahan positif baik bagi lingkungan maupun masyarakat sekitarnya. (yda/stch)

Berita Sebelumnya
Rokok ilegal ancam petani dan industri tembakau

Rokok Ilegal Ancam Petani dan Industri Tembakau Nasional

Berita Selanjutnya
Antisipasi krisis, bpbd siapkan 500 tangki air

Antisipasi Krisis, BPBD Kebumen Siapkan 500 Tangki Air Bersih