BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Penutupan Jembatan Serayu di Banyumas yang dimulai pada Senin, 15 Juni 2026, telah menimbulkan tantangan tersendiri bagi masyarakat setempat.
Warga yang terbiasa melintasi jembatan tersebut kini harus mencari solusi agar kegiatan sehari-hari tetap dapat berjalan dengan lancar.
Salah satu pilihan yang kini banyak dipilih adalah menggunakan jasa perahu penyeberangan yang tersedia di Sungai Serayu.
Dengan mempertimbangkan efisiensi waktu dan penghematan biaya bahan bakar kendaraan, banyak warga beralih ke transportasi alternatif ini.
Di lokasi penyeberangan yang terletak di kawasan depo pasir Desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor, pada Selasa, 16 Juni 2026, terlihat antrean panjang kendaraan bermotor dan pejalan kaki yang menunggu giliran untuk menyeberang menuju Desa Sudagaran, Kecamatan Banyumas. Situasi ini menunjukkan betapa pentingnya akses transportasi yang cepat dan efisien bagi warga setempat pasca penutupan jembatan.
Perahu-perahu yang sebelumnya digunakan untuk aktivitas tambang pasir kini berfungsi ganda sebagai sarana transportasi alternatif setelah akses Jembatan Serayu ditutup untuk perbaikan hingga 30 Juli 2026.
Bagi sebagian warga, membayar ongkos penyeberangan menjadi pilihan lebih menguntungkan dibandingkan harus memutar melalui jalur darat yang lebih jauh dan melelahkan.
Terlebih lagi, kondisi ini terjadi bersamaan dengan kenaikan harga BBM jenis Pertamax pada pekan lalu, sehingga masyarakat semakin mempertimbangkan efisiensi perjalanan mereka.
Fikih, salah satu pengguna jasa penyeberangan, menjelaskan keputusannya untuk memilih jalur sungai.
Ia berencana menuju Alun-alun Banyumas dan menganggap opsi menggunakan perahu jauh lebih praktis ketimbang harus memutar melalui jalur darat.
“Katanya ada jalur alternatif pakai perahu, jadi saya coba. Terpaksa pakai perahu karena jembatan ditutup. Kalau harus memutar jauh banget,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Pengalaman serupa juga dialami oleh Sarwin (62), seorang warga Kalikidang dari Kecamatan Sokaraja.
Ia memanfaatkan jasa penyeberangan ini untuk menjemput istrinya yang berdagang di Pasar Sumpiuh.
Memilih perahu menjadi langkah paling efisien baginya untuk menghindari perjalanan panjang dan pengeluaran tambahan.
“Saya dari Kalikidang, Sokaraja. Istri saya berdagang di Pasar Sumpiuh, tapi karena jembatan ditutup jadi saya pakai perahu ini,” katanya.
Sementara itu, ramainya masyarakat yang memilih menggunakan jasa penyeberangan membuat warga setempat kini mengoperasikan dua perahu hasil modifikasi dari perahu pengangkut pasir.
Lokasi penyeberangan berada sekitar satu kilometer di sebelah barat Jembatan Serayu, menghubungkan Desa Kaliori dan Desa Sudagaran.
Syamsudin, pemilik perahu tersebut, awalnya membuatnya untuk keperluan pribadi.
Namun melihat banyaknya warga yang kesulitan akibat penutupan jembatan, ia memutuskan membuka layanan penyeberangan bagi masyarakat luas.
“Awalnya memang karena kebutuhan untuk diri saya sendiri. Kebetulan anak saya sekolah di SD IT, jadi daripada harus muter jauh-jauh, saya bikin perahu untuk penyeberangan,” tuturnya.
Syamsudin menjelaskan bahwa kapasitas perahu yang digunakan cukup besar; dalam satu kali perjalanan dapat mengangkut hingga 20 penumpang dan 10 unit sepeda motor.
“Kapasitas motor maksimal 10 untuk orang 20 itu sudah cukup,” jelasnya sembari mencatat bahwa muatan tersebut tidak melebihi batas aman berdasarkan volume pasir yang biasanya diangkut oleh perahunya.
Tarif yang dikenakan untuk jasa penyeberangan pun bersifat sukarela; pengguna hanya diminta memberikan uang sesuai kemampuan mereka masing-masing.
“Sebenarnya saya ikhlas saja. Tujuannya untuk nolong orang yang mau ke pasar, sekolah atau kerja karena saya sendiri juga butuh,” ungkap Syamsudin, menambahkan bahwa biasanya jika membawa motor tarifnya sekitar Rp5.000.
Perahu-perahu ini menggunakan mesin berbahan bakar minyak sehingga perjalanan dapat dilakukan dengan lebih cepat dibandingkan jika menggunakan kendaraan darat pada saat kondisi jalan padat akibat arus lalu lintas yang meningkat.
Syamsudin bahkan merencanakan agar layanan ini bisa beroperasi selama 24 jam sesuai dengan kondisi sungai yang memungkinkan.
“Insyaallah 24 jam,” ujarnya optimis.
Di sisi lain, Sukirman, seorang warga Kaliori lainnya menjelaskan bahwa tarif saat ini berlaku sebesar Rp7.000 untuk sepeda motor dan Rp5.000 per orang sekali jalan.
Meskipun demikian, ia menekankan bahwa keberadaan jasa penyebrangan ini tidak berdampak signifikan terhadap para penambang pasir lokal.
Namun begitu, Dinas Perhubungan Kabupaten Banyumas terkesan belum sepenuhnya menyadari operasional dari sejumlah perahu dadakan ini pasca penutupan Jembatan Serayu.
M. Eka Nugraha selaku Kepala Seksi Angkutan Dinas Perhubungan Banyumas mengatakan bahwa mereka belum menerima informasi resmi mengenai aktivitas penyeberangan tersebut.
“Semua berjalan tanpa sepengetahuan kami,” kata Eka menjelaskan situasi terkini mengenai operasional penyeberangan di Grumbul Wogen dan Kaliori hingga Kedunguter.
Menurutnya, aktivitas penyeberangan menggunakan perahu getek di Sungai Serayu sebenarnya tidak diperbolehkan oleh otoritas terkait karena alasan keselamatan mengingat arus air sungai cukup deras.
“Padahal masyarakat sudah membuka layanan ini dan kita khawatir akan keselamatan mereka,” tegasnya dengan nada prihatin sambil menambahkan bahwa meskipun belum mendapatkan izin resmi jika suatu saat nanti izin diberikan maka keberadaan layanan tersebut dapat menjadi simpul transportasi baru yang terintegrasi dengan layanan Trans Banyumas.
Ia menggambarkan skema idealnya seperti ini: pengguna akan dibawa menggunakan sepeda motor sampai ke titik penyebrangan lalu menyeberang sungai menuju Kaliori sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan menggunakan Trans Banyumas kembali ke Banyumas atau sebaliknya dengan cara dijemput oleh kendaraan motor kembali ke tempat asal mereka.
Dengan situasi seperti ini jelas terlihat betapa kreatifnya masyarakat Banyumas dalam menghadapi situasi sulit akibat penutupan jembatan vital tersebut. (dms/yda/stch/dda)
















